INDOZONE.ID - Sejarah kereta api merupakan salah satu pembahasan yang menarik karena merupakan moda transportasi tertua dan paling populer di Indonesia dengan jalur yang membentang di sepanjang pulau Jawa, Sumatera, Madura dan sedikit di Sulawesi.
Di pulau Jawa Semarang menjadi kota yang strategis sehingga memiliki peran yang penting bagi pemerintah Belanda sebagai kota administrasi dan kota perdagangan, sehingga kebutuhan transportasi saat itu dalam mengangkut hasil bumi memunculkan pihak-pihak swasta untuk mengelola dan membangun jalur kereta api, seperti Perusahaan SJS (Samarang-Joana Stoomtram Maatschappij) yang mendapatkan konsesi untuk membangun jalur trem pada tahun 1881.
Baca Juga: Terowongan Sasaksaat: Kisah Misteri Di Balik Terowongan Kereta Api Terpanjang di Indonesia
Stasiun Djoernatan Central merupakan stasiun pusat yang pertama dari SJS yang dibangun bersamaan dengan jalur trem, yang mana pada awal pembangunannya difungsikan sebagai perhentian kereta barang dan orang pernah ditunjuk sebagai stasiun transit barang-barang dari jalur Kenijen dan Samarang-Cheribon.
Hal tersebut tertuang dalam pasal 1 peraturan umum perkeretaapian Hindia Belanda yang berbunyi sebagai berikut.
Pasal 1.
- Di Semarang station besar N.I.S. jaitoe station pemindahan antara Spoorweg Semarang-Vorstenlanden Kereta djoersoean S.J.S. dan S.C.S.; aken tetapi kiriman spoed bestelgoed dan kiriman bestelgoed jang bisa busuk mesti di bawak dan di trimahken dengan kreta bestel N.I.S.M. pada Centraalstation S.J.S. atawa goedang S.C.S.
- Centraalstation S.J.S., goedang dan station Pendrian S.C.S. tida menrima barang kiriman jang aken di trimaken pada station Semarang N.I.S.M
Berdasarkan kutipan arsip tersebut, dapat diketahui bahwa barang-barang yang dapat membusuk atau tidak dapat bertahan lama yang datang dari jalur Semarang-Cheribon Strootman (SCS) dan stasiun Kemijen (NISM) harus dibawa ke stasiun pusat pusat SJS yaitu Stasiun Djoernatan Centraal.
Baca Juga: Ada 2 Gerbong Kereta di Alun-Alun Solo, Tiap Malam Jumat Diberi Sesajen: Punya Siapa?
Kemudian, Stasiun Djoernatan Centraal mencapai masa kejayaannya ketika pemerintah Hindia Belanda menetapkan peraturan bahwa semua kegiatan transhipment akan diarahkan ke stasiun Djoernatan Centraal.
Tahun 1916-1918 menjadi tahun dimana Stasiun Djoernatan Centraal mengalami peningkatan aktivitas transit barang.
Karena padatnya aktivitas barang dan penggabungan jalur, maka diperlukan pemasangan instalasi baru aataupun pelebaran lintasan yang mana penambahan kapasitas rel pada Stasiun Djoernatan menjadi 1.067 meter dan konstruksi jalur ganda sepanjang Stasiun Djoernatan menuju Djomblang.
Pengelolaan yang demikian menunjukkan usaha pemerintah kolonial untuk semakin maju.
Selain pembangunan tersebut, jalur rel Stasiun Djoernatan juga sempat dihubungkan dengan jalur kereta api ke Pelabuhan Kali Baru. Kali baru pada masa itu adalah pelabuhan terbesar Semarang.
Namun, mulai tahun 1925, kemunduran-kemunduran pun terjadi, hingga pada tahun 1940 Stasiun Djoernatan Centraal resmi ditutup.
Baca Juga: Sejarah Dibangunnya Jalur Kereta Api Pertama di Indonesia
Penutupan ini menyangkut dua kepentingan yaitu faktor keselamatan dalam lalu lintas yang belum dapat dihindari dari jalur kereta api di dekat Demakschenweg dan Spoorlaan, serta lalu lintas di Spoorlaan, yang menjadi lebih sulit ketika banyak perlintasan sebidang terpisah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Mulyanto, H., & Lubis, D. A. (2023). Stasiun Djoernatan