INDOZONE.ID - Salah satu pahlawan nasional yang berasal dari Maluku adalah Pattimura.
Sepak terjang Pattimura melawan penjajah Belanda dan VOC tertulis di dalam sejarah dan dikenang hingga kini.
Awal abad ke-19 menjadi masa transisi yang mengguncang wilayah-wilayah di Nusantara. Setelah keruntuhan VOC pada akhir abad ke-18, kekuasaan kolonial Belanda diambil alih oleh pemerintah Hindia Belanda.
Namun, di tengah kekacauan geopolitik Eropa karena Perang Napoleon, Inggris sempat mengambil alih beberapa wilayah, termasuk Maluku, pada tahun 1810–1817.
Di bawah pemerintahan Inggris yang relatif lebih lunak, masyarakat Maluku sempat merasakan sedikit kelonggaran dalam tekanan kolonial. Tapi harapan itu sirna ketika Inggris, melalui Traktat London 1814 menyerahkan kembali Maluku kepada Belanda.
Kembalinya Belanda ke Maluku diwarnai oleh kebijakan keras dan eksploitatif. Sistem monopoli perdagangan rempah-rempah terutama pala dan cengkeh diberlakukan kembali dengan ketat. Rakyat tidak lagi bebas menjual hasil bumi mereka, melainkan harus menyerahkannya kepada Belanda dengan harga rendah.
Baca Juga: Ustaz Adi Hidayat: Nama Asli Kapitan Pattimura Sosok di Uang Seribu adalah Ahmad Lussy
Sistem kerja paksa dan pajak yang berat turut menambah penderitaan. Lebih dari itu, para pemimpin lokal yang dulunya diberi ruang oleh Inggris, kini dipinggirkan dan direndahkan. Di tengah tekanan tersebut, muncul sosok Thomas Matulessy, atau yang lebih dikenal sebagai Kapitan Pattimura.
Lahir di Haria, Pulau Saparua, tahun 1783, Pattimura memiliki pengalaman militer karena pernah menjadi tentara di bawah Inggris. Pengetahuan militernya, ditambah dengan jiwa kepemimpinan yang kuat dan keberpihakan kepada rakyat, membuatnya menjadi tokoh sentral dalam perlawanan yang segera meletus.
Thomas Matulessy diangkat sebagai pemimpin perang dengan gelar “Kapitan Pattimura”, yang bermakna sebagai seorang pemimpin pembela kebenaran. Pengangkatan Thomas sebagai pemimpin tertinggi didasarkan pada sifat kesatrianya dan fisiknya yang tangguh.
Jalannya Perang
Pada tanggal 14 Mei 1817, muncul ketegangan antara warga Porto dan pemerintah kolonial Belanda mengenai penyewaan kapal untuk pengangkutan kayu ke Ambon.
Baca Juga: Pengeliling Bumi Pertama Ialah Orang Indonesia, Enrique Maluku Anak Buah Magellan
Pertikaian ini memicu api revolusi rakyat yang telah lama tersembunyi. Pada hari berikutnya, pertempuran pertama terjadi di desa Porto dan Haria. Pasukan Belanda mulai diserang oleh warga yang telah jenuh dengan penindasan.
Sesampainya di markas besar Haria, Pattimura langsung menolak tawaran negosiasi dari Residen Van den Berg. Dia merancang strategi bersama para pemimpin setempat dan segera menginstruksikan serangan besar ke Benteng Duurstede.
Pada 16 Mei 1817, ribuan rakyat mengepung benteng dari segala arah. Meriam Belanda tak mampu membendung serangan rakyat yang penuh semangat. Pasukan Pattimura bahkan memanjat benteng menggunakan tangga bambu.
Residen Van den Berg tewas dalam serangan itu, sementara anaknya, Jean Lubbert, diselamatkan oleh pasukan Pattimura dan kemudian dibesarkan oleh Gubernur Tolow. Berita jatuhnya Benteng Duurstede membuat panik pemerintahan Belanda di Ambon. Gubernur Van Middelkoop mengirim ekspedisi militer besar-besaran ke Saparua di bawah komando Beetjes dan Krayenhoff.
Namun, Kapitan Pattimura telah siap. Ia mengatur pasukan rakyat di sepanjang pantai Teluk Haria hingga Saparua dan memancing Belanda mendarat di tempat yang tak strategis. Dalam pertempuran sengit di Pantai Waisisil, ratusan tentara Belanda tewas. Sisa pasukan pun melarikan diri kembali ke Ambon.
Baca Juga: Mengenal Pasukan 'Zombie' Aceh, Pejuang Kebal Peluru yang Bikin Belanda Ketakutan
Puncaknya terjadi pada 20 Mei 1817 ketika para raja patih dari Saparua dan Nusalaut menggelar Proklamasi Porto Haria. Sebanyak 21 tokoh menandatangani 14 poin deklarasi perlawanan terhadap kolonialisme Belanda.
Proklamasi ini menyebar ke seluruh Maluku dan menyulut perlawanan di berbagai daerah. Di Pulau Nusalaut, perjuangan dipimpin oleh Kapten Paulus Tiahahu bersama putrinya, Martha Christina Tiahahu.
Serangan Militer Belanda yang Mengakhiri Perlawanan Pattimura
Pada 11 November 1817, Pattimura dan beberapa pemimpin lainnya ditangkap. Mereka diadili dan pada 16 Desember 1817, dieksekusi gantung secara terbuka di Ambon.
Tubuh Pattimura bahkan dimasukkan ke dalam sangkar besi dan dipertontonkan, sebagai upaya intimidasi. Perlawanan rakyat masih berlanjut hingga awal 1818, namun satu per satu pemimpinnya dieksekusi atau diasingkan.
Martha Christina Tiahahu, pejuang perempuan, meninggal di tengah pelayaran menuju pengasingan. Perjuangan Pattimura dan rakyat Maluku menjadi simbol kuat perlawanan rakyat terhadap penjajahan.
Baca Juga: Tradisi Ekstrem Suku Naulu Maluku, Jadikan Kepala Manusia sebagai Mas Kawin
Dengan semangat kebersamaan, taktik perang yang cerdik, dan tekad untuk merdeka, mereka menunjukkan kepada dunia bahwa keberanian dan solidaritas mampu mengguncang kekuatan imperialis.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal