Senin, 28 OKTOBER 2024 • 11:15 WIB

Cikal Bakal Stockholm Syndrome Sejak 1973 Lalu: Ada Kisah Tragis Penculik dan Orang yang Diculik

Author

Stockholm Syndrome. (Youtube/PsychED)

INDOZONE.ID - Sejarah dunia awal mula dikenal sebagai Stockholm syndrome ternyata dimulai sejak 51 tahun lalu. 

Stockholm syndrome adalah fenomena di mana seseorang mengembangkan perasaan positif dan ikatan emosional dengan penculiknya, termasuk bersimpati terhadap tujuan penculikan tersebut, bahkan sampai menghalangi pihak berwenang dalam upaya menangkap si penculik.

Lalu, bagaimana sejarah istilah dalam Stockholm syndrom? Simak penjelasannya di bawah ini.

Baca Juga: Perang Tersingkat Sepanjang Sejarah Dunia Hanya 38 Menit. Kok Bisa?

Sejarah Stockholm Syndrome

Ilustrasi Stockholm Syndrome. (photo/Ilustrasi/Pexels/Anthony Shkraba)

Pada pagi hari 23 Agustus 1973, seorang narapidana bernama Jan-Erik Olsson menemukan kesempatan untuk melarikan diri saat mendapatkan cuti dari penjara.

Dengan menggunakan senapan mesin ringan, Olsson menyusup ke bank Sveriges Kreditbanken, di mana ia menembaki langit-langit bank dan melukai seorang polisi sebelum menyandera empat karyawan bank.

Menariknya, para sandera menunjukkan simpati terhadap Olsson dan rekannya, Oloffson.

Olsson bahkan memberikan jaket wolnya kepada salah satu sandera, Kristin Enmark, yang menggigil.

Ia juga mengizinkan sandera Elisabeth Oldgren keluar dari lemari besi karena mengaku mengalami klaustrofobia.

Meskipun para sandera tampak ramah dan bersikap santai terhadap Olsson, mereka merasa cemas ketika komisaris polisi diizinkan melihat mereka.

Olsson sempat mengancam akan menembak kaki sandera laki-laki, Safstrom, hanya untuk membuat polisi panik.

Baca Juga: 6 Kecelakaan Kapal Selam Terparah Dalam Sejarah Dunia 

Meskipun demikian, Safstrom menganggap Olsson masih memiliki niat baik, karena ancamannya hanya untuk melukai kakinya.

Pada hari keenam penahanan, polisi menggunakan gas air mata untuk mencoba membebaskan para sandera.

Namun, para sandera justru berusaha melindungi penculik mereka, menolak keluar dari brankas terlebih dahulu agar Olsson dan rekannya tidak tertinggal di dalam dan kemungkinan ditembak mati oleh polisi.

Mereka bahkan menyampaikan salam perpisahan kepada Olsson dan Oloffson serta mengunjungi mereka di penjara setelah kejadian tersebut.

Fenomena ini diyakini muncul karena para sandera merasa berutang nyawa kepada penculik mereka, bukannya kepada pihak berwenang selama masa penahanan.

Penulis: Nadya Mayangsari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Instagram @jurnal.mistis

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU