Kamis, 27 JUNI 2024 • 11:20 WIB

Kisah Cinta Beda Agama Pramodhawardhani dan Rakai Pikatan, Terukir di Batu Candi Prambanan

Author

Ilustrasi Pramodhawardhani dan Rakai Pikatan (foto: instagram/ @nusa.angka)

INDOZONE.ID - Pada abad ke-8 hingga ke-9 Masehi, Pulau Jawa menjadi saksi persaingan antara dua dinasti besar, Dinasti Syailendra yang beragama Buddha dan Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu.

Di tengah persaingan tersebut, muncul kisah cinta yang luar biasa antara Pramodhawardhani, putri Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra, dan Rakai Pikatan, seorang pangeran dari Dinasti Sanjaya.

Kisah mereka tidak hanya menjadi legenda romantis, tetapi juga simbol perdamaian yang abadi, terukir di batu Candi Prambanan.

Latar Belakang Dinasti

Ilustrasi Kerajaan Mataram Kuno

Pramodhawardhani adalah putri Raja Samaratungga, seorang raja besar dari Dinasti Syailendra yang beragama Buddha, yang memerintah Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah. Dinasti Syailendra terkenal dengan peninggalan megahnya, Candi Borobudur.

Sementara itu, Dinasti Sanjaya, yang beragama Hindu, juga memiliki pengaruh besar di Jawa Tengah dan terkenal dengan Candi Dieng.

Kedua dinasti ini awalnya sering bersaing untuk kekuasaan di Jawa Tengah.

Baca Juga: 4 Mitos Candi Prambanan yang Dipercaya, Salah Satunya Jangan Pacaran di Sini!

Maharatu Pramodhawardhani adalah putri dari Raja Samaratungga, raja Kerajaan Mataram Kuno dari Dinasti Syailendra . Sementara itu, Rakai Pikatan adalah seorang pangeran dari Dinasti Sanjaya.

Tidak banyak yang tahu persis bagaimana mereka bertemu, namun diyakini bahwa pertemuan mereka terjadi dalam konteks politik dan sosial. 

Cinta yang Menghadapi Tantangan

Ilustrasi Rakai Pikatan meminta restu (foto: instagram/@nusa.angka)

Hubungan mereka, meskipun diwarnai rasa cinta yang mendalam, harus menghadapi banyak rintangan. Perbedaan agama dan latar belakang politik, menjadi batu sandungan terbesar bagi cinta mereka.

Raja Samaratungga, awalnya menentang pernikahan ini karena Rakai Pikatan beragama Hindu, sedangkan Pramodhwardhani beragama Buddha.

Namun, cinta yang tulus dan tekad kuat Pramodhawardhani dan Rakai Pikatan untuk bersatu tak tergoyahkan.

Mereka meyakinkan Raja Samaratungga bahwa pernikahan mereka akan membawa perdamaian dan persatuan bagi Mataram Kuno. Setelah bermeditasi, Raja Samaratungga memutuskan untuk menikahkan putrinya. 

Pembangunan Candi Prambanan

Ilustrasi Candi Prambanan (foto: wikipedia)

Sebagai bentuk cinta dan dedikasi, Rakai Pikatan membangun Candi Prambanan. Candi ini didedikasikan untuk Trimurti, yaitu tiga dewa utama dalam agama Hindu: Brahma, Wisnu, dan Siwa.

Namun, Candi Prambanan juga menjadi simbol cinta abadi antara Rakai Pikatan dan Pramodhawardhani.

Baca Juga: Patung Brahma di Candi Prambanan: Mitos di Balik Jumlah Wajah yang Tak Terhitung

Candi Prambanan menjadi saksi bisu cinta abadi Pramodhawardhani dan Rakai Pikatan.

Relief-relief yang terukir indah di candi ini menceritakan kisah cinta mereka, perjuangan mereka untuk bersatu, dan kebahagiaan mereka setelah menikah.

Kisah cinta Pramodhawardhani dan Rakai Pikatan tak hanya menjadi legenda, tetapi juga meninggalkan warisan yang tak ternilai bagi sejarah dan budaya Indonesia.


Konten ini adalah kiriman dari Z Creators Indozone. Yuk bikin cerita dan konten serumu serta dapatkan berbagai reward menarik! Let's join Z Creators dengan klik di sini.

Banner Z Creators.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Instagram/ @nusa.angka

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU