INDOZONE.ID - Oei Hui-lan, nama yang mungkin asing bagi banyak orang di Indonesia. Namun, di balik namanya tersimpan kisah luar biasa seorang perempuan asal Semarang yang berhasil mencapai puncak kejayaan di negeri tirai bambu, China.
Lahir dari keluarga kaya raya, Oei Hui-lan dibesarkan dengan segala kemewahan. Ayahnya, Oei Tiong Ham, merupakan seorang taipan gula ternama di Semarang yang dijuluki "Raja Gula".
Awal Mula Menjadi Ibu Negara Cina
Pada tahun 1921-an, Oei Hui-lan perkenalan dengan Wellington Koo, orang kedua yang terpenting di China saat itu. Oei Hui-lan berstatus janda dan bermukim di London bersama ibunya.
Sementara Wellington Koo adalah duda yang menjadi diplomat mewakili China.
Merasa cocok menjadi pasangan, Oie Hui Lan dan Wellington Koo menikah di Brussel pada 1921.
Setahun kemudian, jabatan Koo naik menjadi Menteri Luar Negeri dan Menteri Keuangan China.
Puncaknya pada tahun 1926, Presiden China, Sun Yat Sen wafat, Koo lantas naik menjadi pelaksana tugas Presiden Republik China, Oie Hui Lan menjadi ibu negara.
Aktif dalam Kegiatan Diplomasi
Sebagai Ibu Negara, Oei Hui-lan tidak hanya menjadi pendamping suami, tetapi juga aktif dalam berbagai kegiatan diplomasi dan memajukan kesejahteraan rakyat China. Ia dikenal sebagai sosok yang ramah, murah hati, dan selalu berpihak pada rakyat.
Dalam artikel buatan Xia Shi yang terbit dalam jurnal International Journal of Asian Studies, Oei Hui Lan berkontribusi pada pendanaan Kementerian Luar Negeri Republik Tiongkok yang kala itu mengalami kekurangan dana.
Penyebab dari pendanaan pribadi pada masa pemerintahan Beiyang (1912-1928) terletak pada kehilangan sumber pendapatan khusus. Hal ini juga ditambah dengan fenomena para utusan dari Tiongkok yang belum mampu memenuhi kebutuhan hidupnya.
Kontribusi terhadap bidang diplomatik ini meliputi bantuan renovasi perumahan pejabat Tiongkok saat berada di Inggris, kemampuan untuk menjamu tamu dari luar negeri, serta berpakaian sesuai tren terbaru.
Baca Juga: Dinasti Qin, Dinasti Pertama yang Menyatukan China
Meskipun hidup di tengah gejolak politik dan perang saudara, Oei Hui-lan tetap teguh pada pendiriannya untuk membantu rakyat China.
Ia mendirikan berbagai organisasi sosial dan kemanusiaan, dan aktif dalam upaya perdamaian di negaranya.
Oei Hui-lan wafat pada tahun 1961 di Taiwan, meninggalkan warisan yang tak ternilai bagi China dan Indonesia.
Kisah hidupnya menjadi inspirasi bagi banyak orang, menunjukkan bahwa dengan tekad, kerja keras, dan kepedulian, kita dapat mencapai mimpi besar dan memberikan kontribusi yang berarti bagi dunia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal Internasional