Goa Payundan di Sumenep.
INDOZONE. ID - Kabupaten Sumenep dikenal dengan nilai sejarah dan budaya yang masih kental.
Banyak sekali objek wisata alam yang yang menyimpan sejarah untuk dikunjungi. Salah satu yang bersejarah dan melegenda, yaitu Goa Payudan.
Goa ini berlokasi di ketinggian kurang lebih 500 meter diatas permukaan laut (mdpl).
Letaknya di puncak pegunungan Desa Payudan Daleman, Kecamatan Guluk-guluk, Sumenep, Jawa timur, tepatnya 30 meter ke arah barat dari pusat kota Sumenep.
Goa ini bukan tempat sembarangan lho. Bagi masyarakat Sumenep, goa ini penuh dengan sejarah pada abad 14 hingga 17.
Bukan hanya menjadi destinasi wisata ziarah yang terkenal, tetapi juga memiliki mitos dan cerita yang membuatnya unik.
Destinasi ini juga kaya dengan legenda yang melibatkan para raja Sumenep, hingga sang proklamator Indonesia di masa lampau.
Goa yang tersembunyi di puncak pegunungan yang hijau ini, telah lama dihormati sebagai tempat bermeditasi para raja Sumenep seperti Jokotole, Pangeran Jimat, Ki Lesap.
Bahkan Presiden sekaligus Proklamator Indonesia, Soekarno, konon juga menjadikan Goa ini sebagai tempat bersemedi pribadinya.
Enggak hanya itu, Goa Payudan juga dikenal karena mitos-mitos menarik yang melekat.
Salah satu mitos yang paling terkenal adalah tentang adanya sosok ular raksasa yang setia menjaga mulut goa.
Namun kini berwujud stalaktit yang tergantung di langit-langit mulut Goa Payudan menyerupai ular, sehingga menambah aura mistis yang lebih kuat.
Bahkan pohon besar yang berada didepan Goa dijaga oleh sosok Harimau yang menjadi penjaga pohon dan Goa Payudan.
Uniknya dari stalaktit yang menyerupai ular di langit-langit Goa, menetes air jernih yang segar setiap 5 detik.
Air yang menetes itu pun ditampung dengan wadah seadanya seperti ember, kaleng, dan lainnya yang biasa dimanfaatkan pengunjung untuk melepas dahaga saat berada di goa.
Konon tetesan air ini memiliki khasiat menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti stroke, rabun.
Selain itu, juga dipercaya memudahkan ibu hamil yang susah melahirkan, hingga memancarkan aura kecantikan layaknya putri keraton jaman dulu.
Meski sebagian pengunjung meminumnya karena keyakinan akan khasiatnya, ada juga beberapa yang melakukannya karena kehausan setelah naik ke puncak Goa.
Untuk mencapai Goa Payudan, pengunjung harus menaklukkan jalan yang terjal dan curam, serta 140 anak tangga yang memerlukan usaha ekstra dan penuh ke hati-hatian.
Tapi bagi Andi, salah satu pengunjung perjalanan, menuju puncak Goa merupakan pengalaman menariknya untuk pertama kalinya.
"Capek banget mas jalan ke atas, tinggi banget dan curam, untung ada ratusan anak tangga jadi kalo capek bisa berhenti dulu. Nah disini ada tetesan air goa yang di tampung jadi bisa buat pelepas dahaga. Maklum baru pertama kesini, penasaran sama goa yanag katanya dulu jadi tempat para raja sumenep bersemedi," ujarnya saat diwawancarai Tim Z Creators Deni Agustian.
Goa Payudan terdiri dari 3 tingkatan yang terdiri dari halaman goa seluas kurang lebih 27 x 10 meter, ruang penerima tamu, dan tempat ibadah.
Goa Payudan memiliki beberapa rongga dengan beragam ukuran yang menjadi tempat bersemedi para raja jaman dulu.
Namun di sisi lain goa, juga terdapat Rongga paling besar yang menjadi rumah yang hangat bagi berbeagai jenis hewan seperti kelelawar hingga ular, jadi pengunjung dilarang memasuki rongga tersebut.
Nah sebagai tips jika ingin berkunjung kesini kamu harus menggunakan alas kaki yang nyaman digunakan, seperti sepatu gunung.
Jangan lupa juha membawa bekal minuman dan makanan ringan dari rumah, agar diperjalanan menuju puncak, energi terpenuhi dengan baik.
Goa Payudan tak hanya menjadi wisata religi dengan sejarahnya yang melegenda, tapi juga memberikan pemandangan alam yang indah.
Kombinasi antara pegunungan, tebing, sawah dan pohon-pohon hijau yang menjulang tinggi, memberikan kesan yang memukau khas pegunungan bagi para pengunjung terutama para pecinta fotografi.
Writer: Victor Median
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi