Senin, 30 MARET 2026 • 13:03 WIB

Raden Ajeng Kartini Tak Mau Dipanggil Bangsawan, Ini Alasan di Baliknya

Author

R.A Kartini. (id.wikipedia.org)

INDOZONE.ID - Tahukah kamu bahwa Raden Ajeng Kartini, yang kemudian memiliki gelar Raden Ayu setelah menikah, merupakan seorang perempuan dari kalangan priayi yang rupanya tidak mau dipanggil bangsawan

Bagi Kartini, terlahir dalam dekapan keluarga bangsawan bukanlah sebuah pilihan yang ia banggakan. 

Statusnya sebagai putri dari Bupati Jepara, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, serta latar belakang ibu tirinya, Raden Ayu Muryam, yang merupakan keturunan bangsawan Madura, justru menjadi beban batin baginya. 

Baca juga: Dari Kartini Sampai Era Digital: Gimana Perjalanan Panjang Gerakan Feminisme di Indonesia?

Ia merasa jengah dengan pengagungan kasta yang menyertainya sebagai kaum ningrat. Kegelisahan dan penolakannya terhadap sekat-sekat kelas sosial ini ia tuangkan secara jujur dalam korespondensinya bersama sahabat karibnya, Estella Helena Zeehandelaar.

"Apakah saya seorang anak raja? Bukan. Seperti kamu juga bukan," tulis Kartini dalam suratnya kepada Stella, sebagaimana tertulis dalam buku Surat-surat Kartini. Renungan tentang dan untuk Bangsanya (1979). 

"Raja terakhir dalam keluarga kami, yang langsung menurunkan kami menurut garis keturunan laki-laki, saya kira sudah berlalu 25 keturunan jauhnya," jelasnya.

Menurut Kartini yang saat itu berusia 20 tahun, hanya ada dua macam bangsawan, yakni bangsawan jiwa dan bangsawan budi. 

Perspektif ini menyoroti bahwa ia tidak peduli dengan gelar apa pun yang dimiliki nenek moyangnya terdahulu.

Dalam berbagai tulisannya, Kartini kerap menyindir fenomena feodalisme di mana individu merasa lebih mulia hanya karena memiliki gelar ningrat. 

Ia memandang skeptis praktik pamer status sosial yang menurutnya tidak mencerminkan kualitas moral maupun intelektual seseorang.

Kartini juga bercerita kepada Stella bahwa ia dan saudarinya sangat jengkel ketika ada yang memanggilnya sebagai putri-putri Jawa. 

Hal tersebut terjadi saat Kartini dan keluarganya tengah menghadiri Pameran Karya Wanita dan bertemu sejumlah perempuan asal Den Haag.

Menurut Kartini, orang Eropa lebih sering memanggil mereka "freule" (putri) daripada "Raden Ajeng".

Hal inilah yang memicu kejengkelannya. Terlebih lagi, meski telah berulang kali memberikan penjelasan, mereka tetap bersikeras menyapa Kartini dan saudarinya dengan sebutan 'freule'. 

Dalam surat tertanggal 18 Agustus 1899, Kartini menceritakan momen ketika seorang warga berkebangsaan Belanda datang untuk menemui mereka bertiga. 

Namun, setelah mengamati penampilan Kartini dan adik-adiknya, tamu tersebut justru berbisik pelan kepada sang ayah.

Baca juga: Pemikir Emansipasi Wanita di Indonesia Abad 19, Ini Pemikiran R.A Kartini tentang Pendidikan

Kartini merasa senang saling bersurat dengan Stella. Hal itu dikarenakan Stella menganggapnya sebagai perempuan biasa yang sama-sama keras menyerukan kebebasan. 

Berkat permintaan Kartini, gelar ningrat pun memudar dalam percakapan tertulisnya dengan Stella. 

Ia lebih memilih hubungan yang setara, sembari berujar bahwa ia hanya mengikuti contoh keterbukaan sahabatnya itu. 

Sikap bersahaja inilah yang di kemudian hari menggerakkan pena Pramoedya Ananta Toer untuk menyusun biografinya. 

Seolah ingin menyuarakan isi hati sang pejuang perempuan, Pram merumuskan judul yang sangat personal dan legendaris: 'Panggil Aku Kartini Saja...'

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Gramedia

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU