Sempat Terlupakan di Museum, Fosil Janin 55.000 Tahun Ini Bongkar Rahasia Punahnya Neanderthal!
INDOZONE.ID - Siapa sangka fosil mungil yang ditemukan di Jerman pada 1968 ini ternyata adalah janin Neanderthal?
Sempat berdebu di koleksi museum selama puluhan tahun, fragmen tulang paha dan rusuk yang ukurannya cuma beberapa sentimeter ini baru diteliti serius pada tahun 90-an.
Para ilmuwan terkejut karena ukurannya lebih kecil dari bayi manusia mana pun.
Akhirnya pada 2006, identitasnya resmi terungkap sebagai calon bayi purba yang seharusnya lahir 55.000 tahun yang lalu.
"Sisa-sisa kerangka anak-anak Neanderthal yang masih sangat muda, sebelum atau sesudah lahir, sangat, sangat langka," kata Alvise Barbieri, seorang arkeolog dan ahli geologi dari National Geographic Explorer di Universitas Algarve, Portugal. "Saya rasa hanya satu lagi yang pernah diteliti, yaitu dari Prancis."
Tim peneliti yang dipimpin oleh Barbieri berhasil mengekstraksi DNA purba dan menyusun urutan genom mitokondria dari janin Neanderthal tersebut.
Hasil analisis mengungkap bahwa janin ini berasal dari percabangan silsilah Neanderthal yang lebih tua, bukan dari garis keturunan terakhir yang mendominasi Eropa sebelum punah 40.000 tahun silam.
Baca juga: Mapati: Upacara Syukur, Harapan dan Perlindungan bagi Ibu dan Janin Dalam Tradisi Jawa
Melalui sampel langka ini, para ilmuwan kini memiliki gambaran lebih terang mengenai kelompok pendahulu tersebut, sekaligus mendeteksi adanya penurunan populasi drastis yang menggerus keragaman genetik Neanderthal jauh sebelum kepunahan total mereka.
Melalui analisis terhadap 59 genom mitokondria Neanderthal dari seluruh Eropa, para peneliti menemukan perbedaan signifikan antara garis keturunan awal dan akhir spesies ini.
Data dari fosil janin dan temuan lainnya menunjukkan bahwa Neanderthal pernah mengalami penurunan populasi parah sekitar 65.000 tahun lalu.
Peristiwa yang disebut kemacetan genetik ini memusnahkan mayoritas keragaman genetik mereka jauh sebelum kepunahan total.
Studi terbaru ini pun kini menjadi standar terbaik dalam menentukan waktu terjadinya peristiwa bersejarah tersebut.
Para peneliti berpendapat bahwa ini terjadi sekitar waktu ketika lapisan es yang luas di Eropa pada Zaman Es telah mendorong Neanderthal kembali ke wilayah barat daya Prancis yang relatif bebas es, tempat perlindungan yang oleh para ilmuwan disebut "refugium glasial."
Hasil penelitian mengungkap bahwa pasca mencairnya lapisan es, populasi Neanderthal yang mulai pulih dan tersebar kembali di Eropa justru memiliki kemiripan genetik yang sangat identik satu sama lain.
Titik kritis terjadi sekitar 45.000 hingga 42.000 tahun silam, di mana mereka mengalami kemerosotan populasi terakhir tepat sebelum dinyatakan punah, meski sebagian sempat melakukan kawin silang dengan Homo sapiens.
Para ahli menduga faktor iklim menjadi pemicu utama hilangnya habitat berburu mereka.
Terkait hal ini, ahli genetika Joshua Akey dari Universitas Princeton merasa takjub dengan minimnya variasi genetik pada kelompok Neanderthal akhir.
Menurutnya, penyusutan jumlah populasi yang sangat cepat ini membuktikan bahwa tekanan demografis sudah menghantam mereka jauh sebelum spesies ini benar-benar hilang.
Menganalisis Janin Neanderthal
Ketiadaan gigi dan tulang telinga bagian dalam membuat ekstraksi DNA dari janin Neanderthal berusia 55.000 tahun ini menjadi sangat sulit.
Padahal, kedua bagian tersebut adalah pelindung terbaik bagi DNA kuno agar tidak rusak dimakan waktu.
Tanpa rahang yang utuh maupun reservoir genetik pada tulang telinga, Barbieri dan timnya harus bekerja ekstra keras untuk mendapatkan data dari fragmen yang sangat terbatas.
Barbieri menekankan bahwa hanya sebagian kecil dari persentase sampel tulang janin yang menghasilkan DNA purba yang dapat digunakan untuk analisis.
Jumlahnya sangat kecil sehingga hanya DNA mitokondria, bagian gen yang ditemukan di mitokondria sel, yang selalu diwarisi dari ibu organisme, yang dapat diekstraksi, dan bukan DNA yang lebih komprehensif dari inti sel yang dibutuhkan untuk genom lengkap.
"Rendahnya tingkat pelestarian aDNA secara keseluruhan tidak memungkinkan kami untuk mengekstrak aDNA nuklir," jelas Barbieri. Namun, "itu mungkin bisa dilakukan dengan pengambilan sampel di masa mendatang."
Janin ini diperkirakan dikuburkan saat ibunya wafat, meski jasad ibunya tetap menjadi misteri.
Selain riset genetika, tim Barbieri juga melakukan pemindaian micro-CT dan analisis anatomi mendalam.
Laporan awal mengenai struktur anatomi janin Neanderthal ini sudah tersedia di server bioRxiv sejak akhir Februari, sementara proses tinjauan ilmiah lebih lanjut masih berjalan.
Tim peneliti memanfaatkan basis data dari studi PNAS guna mengeksplorasi rincian baru mengenai ontogeni Neanderthal, termasuk perkembangan tulang pada fase prenatal.
Menurut Barbieri, langkah ini memungkinkan adanya analisis komparatif antara janin Neanderthal dan janin manusia modern secara mendalam.
Kedua riset ini memberikan perspektif baru tentang batasan biologis yang membedakan maupun menyatukan kedua spesies.
Walaupun faktor penyebab kepunahan mereka sekitar 40 milenium lalu masih dalam perdebatan, studi ini memberikan kontribusi signifikan bagi pemahaman sejarah evolusi manusia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: National Geographic