Senin, 18 MEI 2026 • 15:25 WIB

Kisah 'Si Pahit Lidah' dan Transformasi Pangeran Sakti dari Sumatera Selatan

Author

Ilustrasi Kisah Si Pahit Lidah. (Foto: Freepik @bearfotos)

INDOZONE.ID - Pernah gak sih kamu dengar omongan kalau ucapan adalah doa? Di zaman dulu, ada sebuah legenda super populer dari Sumatera Selatan yang membuktikan, kalau ucapan itu saktinya gak main-main.

Bukan cuma kiasan doang, tapi setiap kata yang keluar dari mulut tokoh ini bisa langsung jadi kenyataan, entah itu jadi berkah atau malah jadi kutukan yang ngeri banget. Tokoh legendaris ini dikenal dengan nama Si Pahit Lidah.

Kanal YouTube/Gromore Studio Series mengangkat cerita rakyat ini dengan visual yang keren banget, mengingatkan kita kalau kekuatan besar itu selalu sepaket sama tanggung jawab yang besar juga.

Kisah Si Pahit Lidah bukan cuma soal magic atau kesaktian, tapi soal perjalanan hidup seseorang yang belajar dari rasa iri, pengkhianatan, sampai akhirnya nemu kedamaian hati. 

Yuk, kita kepoin gimana sih awalnya pangeran yang dulunya sombong ini bisa dapat julukan yang ikonik itu!

Baca juga: Asal Usul Leak Bali: Kisah Calon Arang, Dendam, dan Pertarungan Sakti yang Jadi Legenda

Konflik Saudara Gara-gara Jamur Emas

Cerita ini berawal di daerah Sumidang, tempat tinggal seorang pangeran bernama Serunting yang punya istri bernama Siti.

Masalah mulai muncul waktu Serunting merasa iri sama adik iparnya sendiri, Arya Tebing.

Padahal awalnya, mereka asyik-asyik saja, bahkan Serunting sempat ngajak Arya tinggal di istana.

Tapi, Arya milih tetap di desa buat jaga lahan peninggalan orang tua mereka yang dibagi dua dengan pembatas sebuah pohon.

Suatu hari, ada keajaiban nih. Di batang pohon pembatas itu tumbuh jamur emas. Anehnya, jamur emas yang mahal itu cuma tumbuh di bagian batang yang menghadap ke lahan Arya Tebing, sedangkan di sisi Serunting cuma tumbuh jamur biasa yang gak ada harganya.

Bukannya ikut senang, Serunting malah nuduh Arya curang dan geser-geser posisi pohon pembatas. Rasa iri yang dipendam ini, akhirnya pecah jadi pertengkaran hebat di antara mereka.

Rahasia Kelemahan dan Pengkhianatan Sang Istri

Serunting yang merasa paling jago, nantangin Arya Tebing buat duel demi rebutan jamur emas itu.

Arya jelas panik karena dia tahu banget, kalau kakak iparnya itu pangeran yang saktinya minta ampun.

Di tengah rasa frustrasinya, Arya diam-diam nemuin kakaknya, Siti, buat nanya apa sih sebenarnya kelemahan Serunting.

Siti sempat galau parah antara harus setia sama suami atau nolongin adik kandungnya sendiri.

Akhirnya, karena saking sayangnya sama adiknya, Siti bocorin rahasia besar suaminya. Dia kasih tahu Arya kalau kekuatan Serunting bakal hilang kalau kena ilalang yang gerak-gerak sendiri padahal gak ada angin.

Info rahasia ini jadi kartu as buat Arya Tebing. Pas duel berlangsung, Arya pakai ilalang sakti itu sampai berhasil bikin Serunting gak berkutik.

Serunting merasa hancur, bukan cuma karena kalah duel, tapi karena tahu istrinya sendirilah yang berkhianat.

Pertapaan Sunyi di Gunung Siguntang

Rasa kecewa dan sakit hati karena dikhianati, bikin Serunting milih pergi ninggalin semuanya.

Dia cabut dari istana dan kampung halamannya dengan hati yang luka parah, menuju Gunung Siguntang.

Di sana, dia pengen nenangin diri sekaligus cari kekuatan yang lebih OP (overpowered) lagi, biar gak ada yang bisa ngalahin dia.

Di tengah kesunyian gunung itu, dia dengar suara dari Sang Hyang Mahameru yang nawarin kesaktian luar biasa.

Tapi, syarat buat dapat kekuatan itu berat banget. Serunting harus tapa di bawah pohon bambu sampai seluruh badannya tertutup daun-daun bambu yang gugur secara alami.

Serunting jalanin ujian itu dengan sabar banget selama dua tahun. Dia gak peduli sama rasa lapar, haus, atau urusan duniawi lainnya sampai akhirnya badannya benar-benar ketutup rapat dedaunan.

Keteguhannya ini bikin Sang Hyang Mahameru turun tangan dan kasih anugerah kesaktian yang unik banget.

Baca juga: Asal Usul Danau Toba: Legenda Cinta, Janji, dan Bencana yang Abadi dalam Ingatan

Ilustrasi Kisah Si Pahit Lidah. (Foto: Freepik @bearfotos)

Asal Usul Julukan 'Si Pahit Lidah'

Kesaktian yang didapat Serunting setelah bertapa adalah kekuatan ucapan. Sang Hyang Mahameru kasih kemampuan di mana setiap kata yang keluar dari mulut Serunting bakal langsung jadi nyata.

Dari sinilah dia mulai dikenal orang-orang sebagai Si Pahit Lidah. Nama ini bukan berarti lidahnya pahit beneran ya, tapi lebih ke kiasan kalau ucapannya manjur banget dan bisa berakibat "pahit" atau fatal, kalau dia lagi marah atau ngutuk sesuatu.

Awalnya, Serunting sempat nyoba kekuatannya dengan agak impulsif, kayak ngubah tanaman tebu jadi batu cuma lewat satu kalimat.

Tapi, seiring berjalannya waktu dan perjalanan jauh yang dia lewati, Serunting mulai sadar kalau punya kekuatan gede bukan berarti bisa seenaknya sendiri.

Julukan Si Pahit Lidah yang tadinya kedengaran serem, perlahan mulai berubah maknanya seiring dengan sifat Serunting yang makin kalem.

Transformasi Karakter dari Serakah Menjadi Bijaksana

Perjalanan Serunting setelah dapat kesaktian ini adalah bagian yang paling seru. Dia mulai belajar buat lebih bijak kalau ngomong.

Pernah suatu kali dia lewat di sawah luas dan ngubah padi di sana jadi emas. Tapi kerennya, dia gak ambil sedikit pun emas itu buat dirinya sendiri. Dia mulai pakai lidah "pahitnya" buat bantuin orang-orang yang dia temui di jalan.

Pas nemu tanah yang gersang dan tandus, dia cuma bilang "jadilah subur", dan seketika tempat itu jadi hijau dan asri.

Dia juga nemu sungai yang kering kerontang dan nyuruh airnya ngalir lagi, dan itu langsung kejadian.

Bahkan, dia pernah bikin pasangan tua yang pengen banget punya anak jadi happy karena dia ngubah sehelai rambut jadi bayi.

Serunting yang dulu sombong dan iri, sekarang berubah jadi pahlawan yang dihormati karena kebaikannya.

Penyelesaian dan Kembalinya Kedamaian Keluarga

Setelah dua tahun bertapa dan keliling buat bantuin orang, Serunting akhirnya mutusin buat pulang kampung.

Rasa dendam gara-gara pengkhianatan Siti dan kekalahan dari Arya Tebing sudah hilang, diganti sama rasa kangen dan pengen perbaiki hubungan.

Pas sampai rumah, Siti sama Arya sempat haru sekaligus deg-degan karena ingat konflik masa lalu.

Tapi, Serunting menunjukkan kedewasaannya dengan minta maaf tulus atas kesombongan dan keserakahannya yang dulu.

Dia sadar, kalau jamur emas atau kekuasaan gak ada artinya dibanding rukun sama keluarga.

Siti dan Arya pun dengan senang hati maafin Serunting. Akhir cerita ini membuktikan, kalau sekuat apa pun kesaktian kita, kekuatan yang paling juara tetaplah kemampuan buat maafin dan berubah jadi orang yang lebih baik.

Baca juga: Kisah Faust dan Mephistopheles: Perjanjian Terlarang dengan Iblis yang Jadi Legenda Abadi

Ilustrasi Kisah Si Pahit Lidah. (Foto: Freepik @bearfotos)

Kisah Si Pahit Lidah kasih pelajaran mahal buat kita anak muda soal pentingnya jaga lisan dan hati.

Rasa iri cuma bakal bikin kita hancur, sedangkan sabar dan mau perbaiki diri bakal kasih kedamaian yang awet.

Kita diajarin kalau apa pun yang kita punya sekarang, entah itu jabatan, uang, atau skill, harusnya dipakai buat bantu orang lain, bukan buat nurutin ego sendiri.

Legenda ini tetap relate sampai kapan pun karena urusan konflik keluarga dan cara kita berubah itu universal banget.

Lewat cerita ini, kita diingetin buat selalu mikir sebelum ngomong, karena setiap kata punya energi yang bisa ngaruh ke hidup kita dan orang lain.

Yuk, kita ambil sisi positif dari Serunting yang sukses ngalahin egonya sendiri demi jadi orang yang lebih manusiawi dan bermanfaat buat sesama!

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: YouTube

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU