Rabu, 18 MARET 2026 • 15:00 WIB

Apa yang Dilakukan Umat Hindu Saat Hari Raya Nyepi?

Author

Ilustrasi umat Hindu bersembahyang saat Hari Raya Nyepi (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)

INDOZONE.ID - Hanya terpaut dua hari sebelum perayaan Idulfitri, umat Hindu di Indonesia akan lebih dulu menyambut kesucian Hari Raya Nyepi

Mungkin sebagian dari kamu penasaran, bagaimana sebenarnya rangkaian ibadah yang dijalani umat Hindu saat Nyepi? 

Melansir laman resmi Pemkab Buleleng, Nyepi merupakan perayaan Tahun Baru Saka yang dimaknai sebagai momentum sakral untuk penyucian diri sekaligus harmonisasi kembali antara manusia dengan alam semesta.

Lebih lanjut, berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri Nomor 1017 Tahun 2024, Nomor 2 Tahun 2024, dan Nomor 2 Tahun 2024 tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2026, Nyepi tahun ini jatuh pada Kamus, 19 Maret 2026. Tanggal tersebut digolongkan sebagai hari libur nasional. 

Baca juga: Mengungkap Sejarah dan Makna Hari Raya Nyepi

Adapun sehari sebelumnya, yakni 18 Maret, dijadikan cuti bersama. Sebagai bangsa yang bangga akan keberagamannya, kamu perlu mencari tahu terkait tradisi-tradisi seputar Nyepi. 

Lantas, seperti apa tradisi Hari Raya Nyepi umat Hindu? Simak penjelasannya di bawah ini!

Tradisi-Tradisi Umat Hindu Sebelum dan Sesudah Nyepi

Dilansir dari laman resmi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, terdapat beberapa kegiatan sebelum dan sesudah Nyepi. Penjelasan ringkas masing-masing kegiatannya adalah sebagai berikut:

1. Upacara Melasti

Upacara Melasti, atau yang dalam beberapa tradisi lokal dikenal dengan istilah Mekiyis, adalah prosesi pembersihan besar-besaran sebelum memasuki hari keheningan Nyepi. 

Berdasarkan kajian dalam jurnal Upacara Melasti dan Simbolisme Dewa Cili, inti dari ritual ini adalah perjalanan suci menuju sumber air sebagai simbol keabadian. 

Di sanalah umat Hindu melakukan penyucian terhadap pratima (simbol dewa) serta pralingga (perangkat suci), guna menghanyutkan segala kotoran spiritual dan memohon anugerah pembersihan bagi alam semesta.

2. Tradisi Tawur Kesanga

Sehari sebelum Nyepi, masyarakat Hindu menggelar Tawur Agung Kesanga atau Mecaru, sebuah ritual pembersihan alam dan diri dari pengaruh negatif. 

Tradisi ini identik dengan kehadiran ogoh-ogoh yang melambangkan keburukan manusia. 

Sebagai penutup rangkaian acara, patung raksasa ini akan dibakar untuk menyimbolkan pemusnahan sifat jahat, sesuai dengan tuntunan yang dijelaskan oleh pihak Kementerian Agama Kabupaten Klungkung.

3. Ngembak Geni

Rangkaian perayaan berlanjut pada hari setelah Nyepi yang dikenal dengan istilah Ngembak Geni. Tradisi ini menandai kembalinya umat Hindu ke rutinitas harian setelah sehari penuh berdiam diri. 

Nama Ngembak Geni sendiri secara harfiah merujuk pada kebebasan untuk kembali menyalakan 'api' aktivitas dan semangat hidup. 

Pada hari yang sakral ini, dilaksanakan pula Dharma Santi, yakni ajang rekonsiliasi sosial di mana umat saling memaafkan dan berbagi pesan kebaikan demi menjaga keharmonisan antar sesama.

Kegiatan Umat Hindu Saat Hari Raya Nyepi

Pembahasan sebelumnya telah mengulas ritual pembuka dan penutup Nyepi, namun esensi dari hari raya itu sendiri terletak pada apa yang dilakukan umat di saat 'sepi'. 

Berdasarkan panduan resmi, momen ini diisi dengan pelaksanaan Catur Brata Penyepian. Praktik asketik ini diberlakukan sehari semalam, terhitung sejak pukul 06.30 WITA hingga pukul 06.00 WITA hari berikutnya. Selama periode tersebut, terdapat empat aturan dasar yang wajib ditaati oleh setiap umat, yaitu:

Baca juga: Sejarah Pawai Ogoh-ogoh dalam Perayaan Nyepi, Asal Usulnya dari Kutukan Cinta Terlarang

  • Amati Geni: Tidak menyalakan api/lampu, termasuk api nafsu yang mengandung makna pengendalian diri dari segala bentuk angkara murka.
  • Amati Karya: Tidak melakukan kegiatan fisik/kerja dan yang paling penting adalah melakukan aktivitas rohani untuk mensucikan diri.
  • Amati Lelungan: Tidak bepergian, namun senantiasa introspeksi diri/mawas diri dengan memusatkan pikiran astiti bhakti terhadap Ida Sang Hyang Widhi/Ista Dewata.
  • Amati Lelanguan: Tidak mengadakan hiburan/rekreasi yang bertujuan untuk bersenang-senang. Alih-alih, tekun melatih batin untuk mencapai produktivitas rohani yang tinggi.

Jadi, itulah empat larangan yang diterapkan umat Hindu Bali demi menjaga kekhusyukan Nyepi. Karena aturannya cukup ketat, ada sanksi adat bagi yang melanggar, seperti denda, rasa malu, atau harus melakukan upacara pembersihan diri. 

Demikian pembahasan lengkap seputar tradisi Hari Raya Nyepi. Semoga artikel ini bisa menambah wawasan kamu menjelang perayaan Nyepi 2026, ya!

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Pemkab Buleleng

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU