INDOZONE.ID - Sejarah mencatat bahwa peran negara-negara Asia Tenggara sangat krusial bagi kelangsungan hidup Korea Selatan setelah perang besar pada 1950-an.
Tanpa bantuan tersebut, jalan menuju kebangkitan mungkin akan terasa jauh lebih terjal.
Kala itu, Korea Selatan berada di titik nadir akibat perang yang menghancurkan infrastruktur kota dan memicu pengungsian massal serta kelaparan.
Di balik kemajuan pesat Negeri Ginseng hari ini, tersimpan kisah persaudaraan dan bantuan tulus dari wilayah Asia Tenggara.
Baca juga: Tragedi Gwangju 1980: Pemberontakan Rakyat yang Mengubah Sejarah Korea Selatan
Perang Korea 1950-1953 membuat dunia terbelah. Di bawah komando PBB, sejumlah negara ikut turun tangan membela Korea Selatan dari invasi Korea Utara. Dari Asia Tenggara, ada dua nama yang ikut bertaruh nyawa, Filipina dan Thailand.
Filipina menunjukkan komitmennya dengan menerjunkan 7.420 personel melalui PEFTOK (Philippine Expeditionary Forces to Korea).
Pasukan ini mengukir sejarah dalam pertempuran krusial di Yultong pada 1951, meski harus dibayar mahal dengan gugurnya lebih dari 100 prajurit serta ratusan lainnya luka-luka.
Tak ketinggalan, Thailand turut mengerahkan kekuatan besar sebanyak 6.326 personel, yang mencakup pasukan darat, armada kapal perang, hingga tim medis.
Pengorbanan Thailand pun tak kalah besar, dengan lebih dari 100 nyawa prajurit yang melayang di medan laga.
Peran kedua negara ini adalah bukti nyata bahwa Asia Tenggara memiliki andil besar dalam menuliskan tinta sejarah di Semenanjung Korea.
Baca juga: Nasib Tragis Wanita Korea yang Baru Nikah Tewas di Tangan Suami karena Tolak Hubungan Saat Haid
Krisis Pasca-perang yang Masif
Setelah gencatan senjata, Korea Selatan menghadapi kenyataan pahit berupa infrastruktur yang hancur total, produksi pangan yang anjlok, dan ekonomi yang lumpuh.
Hal ini membuat pada era 1950-1960-an, mereka sangat bergantung pada bantuan internasional untuk menghindari kelaparan massal.
Dikenal sebagai rumah bagi raksasa teknologi dan otomotif dunia, ekonomi Korea Selatan kini berada di garda terdepan global. Akan tetapi, sejarah mencatat bahwa keajaiban ini tidak tumbuh di ruang hampa.
Ada darah, kerja keras, dan persaudaraan erat dari Asia Tenggara yang menyertai setiap jengkal kebangkitan mereka dari reruntuhan perang hingga menjadi bangsa yang digdaya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: National Geographic