INDOZONE.ID - Sejarah Jawa kuno ternyata nggak melulu soal perang dan perebutan takhta. Ada satu kisah yang sampai sekarang masih relevan buat dibicarakan, terutama di tengah masyarakat yang sering ribut karena perbedaan.
Kisah cinta itu datang dari pasangan Rakai Pikatan dan Pramodawardhani, dua tokoh penting Mataram Kuno yang cintanya bukan cuma urusan pribadi, tapi ikut mengubah arah sejarah.
Di abad ke-9, ketika agama dan kekuasaan sering jadi pemicu konflik, pernikahan Rakai Pikatan dan Pramodawardhani justru jadi jembatan persatuan.
Mereka datang dari dua wangsa besar dengan keyakinan berbeda, tapi berhasil membuktikan bahwa, perbedaan nggak harus berakhir dengan permusuhan.
Yuk, simak kisah cinta Rakai Pikatan dan Pramodawardhani dilansir dari YouTube/Embara Lensa selengkapnya!
Baca juga: Mitos Kisah Cinta Sunan Kalijaga dan Nyi Roro Kidul: Asmara Mistis di Balik Ombak Pantai Selatan
Awal Mula Konflik Dua Wangsa Besar
Kerajaan Mataram Kuno, atau sering juga disebut Kerajaan Medang, pernah berada di situasi yang cukup rumit.
Sejak awal berdirinya, kerajaan ini dipimpin oleh Wangsa Sanjaya yang menganut ajaran Hindu Siwa.
Namun, seiring berjalannya waktu, muncul Wangsa Syailendra yang beragama Buddha Mahayana, dan perlahan mengambil peran besar dalam pemerintahan.
Perpecahan mulai terasa saat kekuasaan terbagi secara wilayah. Wangsa Sanjaya menguasai Jawa Tengah bagian utara, sementara Wangsa Syailendra berkuasa di bagian selatan.
Perbedaan agama, kepentingan politik, dan ambisi kekuasaan membuat hubungan dua wangsa ini makin renggang.
Bukan cuma elite kerajaan yang terdampak, rakyat pun ikut merasakan ketegangan yang terus membesar.
Kejayaan Wangsa Syailendra dan Borobudur
Di bawah kepemimpinan Raja Samaratungga, Wangsa Syailendra mencapai puncak kejayaannya.
Masa ini ditandai dengan pembangunan Candi Borobudur, sebuah mahakarya luar biasa yang sampai sekarang diakui dunia sebagai simbol kejayaan Buddha Mahayana di Nusantara.
Borobudur bukan sekadar bangunan ibadah. Candi ini mencerminkan kekuatan politik, ekonomi, dan budaya Wangsa Syailendra.
Pada masa inilah pengaruh Syailendra terasa sangat dominan di Mataram Kuno. Samaratungga kemudian menunjuk putrinya, Pramodawardhani, sebagai penerus kekuasaan.
Keputusan ini ternyata menjadi awal dari babak baru dalam sejarah kerajaan.
Pertemuan Dua Hati Dari Dua Dunia
Pramodawardhani dikenal sebagai putri yang cerdas dan berwibawa. Di sisi lain, ada Rakai Pikatan, bangsawan muda dari Wangsa Sanjaya yang punya pemikiran jauh ke depan.
Pertemuan keduanya bukan sekadar kisah cinta biasa. Ini adalah pertemuan dua dunia yang selama ini dipisahkan oleh konflik, dan prasangka.
Meski berbeda agama dan latar belakang wangsa, Rakai Pikatan dan Pramodawardhani menemukan kesamaan dalam cara pandang mereka terhadap masa depan Mataram Kuno.
Hubungan ini perlahan tumbuh menjadi cinta, tapi juga memunculkan harapan akan persatuan yang lebih besar.
Pernikahan yang Mengubah Sejarah
Pernikahan Rakai Pikatan dan Pramodawardhani bukan cuma soal dua insan yang saling mencintai.
Di baliknya, ada keputusan politik yang sangat berani. Pernikahan ini menjadi simbol penyatuan Wangsa Sanjaya dan Wangsa Syailendra, dua kekuatan besar yang sebelumnya saling bersaing.
Lewat pernikahan ini, konflik panjang mulai mereda. Banyak pihak melihatnya sebagai angin segar bagi Mataram Kuno.
Kerajaan punya kesempatan untuk kembali stabil, tanpa harus terus terjebak dalam pertikaian internal yang melelahkan.
Baca juga: Kisah Cinta Sunan Gunung Jati dan Rara Tepasan: Jodoh yang Berawal dari Cahaya Putih?
Balaputradewa dan Penentangan Berdarah
Sayangnya, tidak semua pihak menerima persatuan tersebut dengan lapang dada. Balaputradewa, yang masih memiliki hubungan darah dengan Pramodawardhani, merasa bahwa haknya atas takhta telah direbut.
Ia menganggap pernikahan itu sebagai ancaman langsung terhadap posisinya.
Penentangan Balaputradewa berujung pada konflik bersenjata. Perang saudara pun pecah. Rakai Pikatan dan Pramodawardhani harus mempertahankan persatuan yang baru saja mereka bangun.
Dengan strategi matang dan dukungan kuat, Rakai Pikatan akhirnya berhasil memenangkan perlawanan tersebut.
Balaputradewa kalah dan melarikan diri ke Sumatera. Di sana, ia kemudian dikenal sebagai raja Sriwijaya.
Kemenangan ini menegaskan, posisi Rakai Pikatan dan Pramodawardhani sebagai penguasa sah Mataram Kuno yang telah bersatu.
Toleransi Beragama yang Benar-Benar Dihidupi
Setelah konflik mereda, Mataram Kuno memasuki masa yang lebih tenang. Nah yang menarik, Rakai Pikatan tidak memaksakan keyakinannya sebagai penguasa Hindu.
Pramodawardhani tetap bebas menjalankan ajaran Buddha. Dari sinilah toleransi beragama bukan cuma slogan, tapi benar-benar dipraktikkan.
Pemerintahan mereka menunjukkan bahwa, Hindu dan Buddha bisa hidup berdampingan tanpa saling meniadakan.
Sikap ini menciptakan suasana sosial yang lebih harmonis, dan membuka ruang bagi perkembangan budaya Jawa yang kaya.
Prambanan dan Plaosan Sebagai Simbol Cinta
Salah satu bukti paling nyata dari toleransi dan cinta mereka adalah, pembangunan candi-candi besar.
Rakai Pikatan membangun Candi Prambanan sebagai pusat ibadah Hindu yang megah. Candi ini menjadi simbol kekuatan dan kejayaan Hindu Siwa di Mataram Kuno.
Namun, cinta Rakai Pikatan pada Pramodawardhani tidak berhenti di situ. Ia juga membangun Candi Plaosan sebagai persembahan khusus untuk istrinya.
Meski merupakan candi Buddha, Plaosan memiliki sentuhan arsitektur Hindu. Pembangunannya melibatkan umat Hindu dan Buddha yang bekerja bersama tanpa sekat.
Candi Plaosan sering disebut sebagai candi cinta. Bangunan ini menjadi simbol nyata bahwa perbedaan keyakinan bisa melahirkan karya besar ketika dilandasi rasa saling menghormati.
Akhir Mataram Kuno di Jawa Tengah
Kerajaan Mataram Kuno bertahan cukup lama setelah masa Rakai Pikatan dan Pramodawardhani.
Namun, pada masa pemerintahan Mpu Sindok, terjadi bencana besar berupa letusan dahsyat Gunung Merapi. Kondisi ini memaksa pusat kerajaan dipindahkan ke Jawa Timur.
Di wilayah baru tersebut, Mpu Sindok mendirikan Wangsa Isyana yang kemudian melahirkan kerajaan-kerajaan besar lain di Nusantara.
Meski pusat kekuasaan berpindah, warisan toleransi dari masa Rakai Pikatan dan Pramodawardhani tetap hidup dalam jejak sejarah Jawa.
Baca juga: Kisah Cinta Kartini dan Adipati Joyodiningrat: Romansa Hebat di Balik Perjuangan Emansipasi
Kisah cinta Rakai Pikatan dan Pramodawardhani bukan sekadar cerita romantis dari masa lalu.
Ini adalah bukti bahwa cinta, kebijaksanaan, dan keberanian bisa menyatukan perbedaan yang tampak mustahil. Di tengah konflik agama dan politik, mereka memilih jalan persatuan.
Hingga hari ini, Prambanan dan Plaosan masih berdiri sebagai saksi bisu bahwa toleransi bukan hal baru di tanah Jawa.
Kisah mereka mengingatkan kita bahwa perbedaan, jika dirawat dengan rasa hormat, justru bisa melahirkan harmoni yang bertahan lintas zaman.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube