INDOZONE.ID - Rutinitas masyarakat di Pulau Sommaroy, Norwegia, nyaris tak pernah lepas dari jarum jam.
Bangun pagi, berangkat kerja, makan siang, hingga waktu tidur malam, semuanya diatur secara ketat oleh waktu.
Tanpa disadari, kehidupan sehari-hari mereka kerap terasa seperti terkungkung dalam jadwal yang berulang. Namun, di belahan dunia lain, ada sebuah tempat yang justru mempertanyakan relevansi waktu itu sendiri.
Pulau kecil yang terletak di Norwegia, tepatnya di wilayah utara Lingkar Arktik ini berawal dari fenomena alam ekstrem yang jarang ditemui di tempat lain.
Selama musim panas, matahari di pulau ini tidak pernah terbenam selama sekitar 69 hari.
Bahkan pada pukul 02.00 dini hari, langit masih tampak terang benderang layaknya siang hari. Sebaliknya, saat musim dingin tiba, wilayah ini akan diselimuti kegelapan selama berbulan-bulan.
Baca juga: Meskipun Kecil, Pulau Migingo di Perbatasan Kenya dan Uganda Ini Sangat Padat Penduduknya
Kondisi alam tersebut secara langsung memengaruhi pola hidup masyarakat Sommaroy.
Tanpa siklus siang dan malam yang jelas, konsep waktu konvensional menjadi terasa tidak relevan.
Penduduk setempat menjalani aktivitas berdasarkan kondisi fisik dan energi mereka, bukan berdasarkan jam.
Tidak jarang terlihat warga mengecat rumah pada tengah malam, anak-anak bermain bola larut malam, atau masyarakat berenang di pantai saat dini hari.
Kiel Ove Heding Jadi Penggerak Kampanye
Fenomena inilah yang kemudian melahirkan sebuah gagasan unik.
Seorang warga bernama Kiel Ove Heding menjadi tokoh penggerak kampanye yang mengusulkan Sommaroy sebagai zona bebas waktu pertama di dunia.
Menurutnya, jika matahari terus bersinar sepanjang hari, tidak ada alasan kuat bagi masyarakat untuk terikat pada aturan jam yang kaku. Ia menilai jam justru menjadi beban yang membatasi kebebasan manusia dalam menjalani hidup.
Sebagai simbol dari gagasan tersebut, jembatan yang menjadi akses masuk ke Pulau Sommaroy dihiasi dengan jam tangan yang digantungkan di pagar.
Tidak seperti gembok cinta di Paris, jam-jam ini melambangkan bahwa pengunjung telah memasuki wilayah di mana waktu dianggap tidak lagi berlaku secara mutlak.
Gagasan “zona bebas waktu” Sommaroy sempat menarik perhatian luas media internasional pada tahun 2019.
Kampanye ini bahkan mendorong pengajuan petisi ke parlemen Norwegia untuk membahas fleksibilitas jam kerja dan jam sekolah.
Baca juga: Pulau Kecil Yunani 'Gavdos', Pulau Misterius yang Ada dalam Mitologi Yunani
Namun, di balik gaungnya yang besar, muncul pandangan lain yang menyebut bahwa kampanye tersebut lebih merupakan strategi pemasaran pariwisata kreatif yang digagas bersama Innovation Norway untuk memperkenalkan keunikan Sommaroy ke dunia.
Terlepas dari apakah konsep ini benar-benar diterapkan sebagai kebijakan resmi atau sekadar strategi promosi, filosofi yang diusung masyarakat Sommaroy tetap menarik untuk direnungkan.
Mereka mengingatkan bahwa hidup tidak semata-mata tentang mengejar tenggat waktu, melainkan tentang menikmati setiap momen selama tubuh dan pikiran masih memiliki energi untuk menjalaninya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube @risyadandson