Selasa, 06 JANUARI 2026 • 09:16 WIB

Bukan Film, Ini Nyata Kisah Oleg Gordievsky sang Agen Ganda Paling Berbahaya, Mengapa Pilih Jalan Berkhianat?

Author

Kisah Oleg Gordievsky, agen ganda KGB yang membocorkan rahasia Soviet ke MI6 dan mengubah sejarah spionase Perang Dingin. (Wikimedia Commons.)

INDOZONE.ID - Oleg Gordievsky dikenal sebagai agen ganda paling merusak dalam sejarah spionase Uni Soviet. Perwira badan intelijen Uni Soviet (KGB) ini diam-diam bekerja untuk MI6 Inggris sejak 1970-an, membocorkan rahasia penting Perang Dingin. 

Aksinya berujung hukuman mati in absentia dan pelarian dramatis dari Uni Soviet.

Nama Oleg Gordievsky mungkin tak sepopuler James Bond. Tapi di dunia intelijen, dampaknya jauh lebih nyata. Ia adalah perwira KGB yang berbalik arah, menjadi agen ganda.

Kisahnya bukan soal gadget canggih atau kejar-kejaran ala film. Tapi tentang ideologi, kekecewaan, dan permainan psikologis tingkat tinggi di tengah Perang Dingin.

Awal Permainan Mata-Mata

Melanisr Rusisa Beyond, Oleg Gordievsky bergabung dengan Direktorat Utama Pertama KGB pada 1962. Unit ini menangani operasi intelijen asing dan agen rahasia Soviet di luar negeri.

Bagi banyak orang Soviet, posisi ini adalah privilese. Bisa tinggal di luar negeri, melihat dunia Barat secara langsung, dan menikmati fasilitas yang tak dimiliki warga biasa.

Baca juga: Josef Jakobs, Mata-mata Terakhir yang dieksekusi di Menara London

Penempatan awal Gordievsky di Denmark menjadi titik balik. Di sana, ia mulai mempertanyakan sistem yang selama ini ia layani.

“Saya ingin bekerja untuk intelijen Inggris dan sedang mencari kesempatan untuk melakukannya,” ujar Gordievsky dalam wawancara setelah pembelotannya.

MI6 membaca peluang itu dengan cepat. Di Denmark, seorang perwira MI6 yang menyamar sebagai diplomat mendekatinya. Hubungan keduanya berkembang dari pertemuan restoran hingga rumah persembunyian.

Sejak 1974, Gordievsky resmi menjadi agen ganda. Di satu sisi, ia naik karier di KGB. Di sisi lain, ia mengalirkan informasi sensitif ke Inggris.

Agen ganda KGB Oleg Gordievsky bersama Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher. (Wikimedia Commons.)

Kecewa dengan Sistem Soviet

Gordievsky mengaku mulai kecewa setelah Nikita Khrushchev membuka kejahatan Stalin dan Berlin terbelah oleh tembok.

Namun motifnya tak pernah benar-benar hitam-putih. Apakah karena ideologi, ego, petualangan, atau keuntungan pribadi, jawabannya tetap abu-abu. Namun yang jelas, ia memainkan peran berbahaya di jantung intelijen Soviet.

Karier Melejit

Pada 1982, Oleg Gordievsky ditempatkan di London dengan perlindungan diplomatik. Dua tahun kemudian, ia bahkan menjadi penjabat kepala jaringan KGB di Inggris.

Nilainya bagi MI6 pun melonjak drastis. Ia punya akses langsung ke strategi, nama agen, dan cara kerja intelijen Soviet di Barat.

Namun situasi berubah ketika pembelot CIA, Aldrich Ames, membocorkan identitas agen ganda ke Moskow.

“Saya dilaporkan oleh Aldrich Ames antara 15 April—1 Mei 1985,” kata Gordievsky.

Ia dipanggil pulang ke Moskow dengan dalih promosi jabatan. Di sana, ia diinterogasi selama berjam-jam, bahkan dipaksa minum alkohol yang diduga dicampur obat.

Meski selamat, ia sadar waktunya hampir habis.

Pelarian Hidup-Mati

Pelarian Gordievsky diberi nama sandi Operasi Pimlico. Rencananya sederhana, tapi sangat berisiko.

Ia berangkat dari Moskow ke Leningrad (skearang Saint Petersburg), lalu menuju Vyborg dekat perbatasan Finlandia. Di tengah jalan, ia turun dari bus dan menunggu di hutan.

“Saya tidak tahu persis di mana saya harus bertemu dengan agen Inggris,” ujarnya.

Setelah tiga jam, dua mobil diplomatik muncul. Gordievsky disembunyikan di bagasi, melewati pos perbatasan tanpa pemeriksaan.

Begitu musik dalam mobil berganti dari rock ke Sibelius, ia tahu: Finlandia.

Operasi itu sukses. Oleg Gordievsky tiba di Inggris dan langsung menjadi simbol kemenangan intelijen Barat.

Di Soviet, ia dijatuhi hukuman mati secara in absentia. Vonis itu tak pernah dicabut, bahkan setelah Uni Soviet runtuh.

Hidup di Inggris

Gordievsky sempat bertemu Margaret Thatcher dan dianugerahi Ordo Saint Michael and St. George oleh Ratu Elizabeth.

Namun hidupnya tak sepenuhnya bahagia. Upaya menyatukan kembali keluarganya gagal, dan pernikahannya berakhir setelah 1991.

Hingga usia lanjut, ia tetap bersuara di media dan mengaku tak menyesali keputusannya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Russia Beyond

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU