INDOZONE.ID - Salah satu tragedi dalam dunia aviasi yang paling diingat yaitu insiden Malaysia Airlines (MAS) MH653 dari Penang ke Kuala Lumpur, pada 4 Desember 1977.
MAS Boeing 737 ini dikemudikan oleh Kapten G.K. Ganjoor dan Kopilot Kamarulzaman Jalil.
Pesawat ini dijadwalkan mendarat di Bandara Internasional Subang, setelah lepas landas pada pukul 19.21. Namun, saat ingin melakukan pendaratan, pesawat ini dibajak yang mengarahkan penerbangan menuju Bandara Paya Lebar, Singapura.
Baca juga: Kisah Tragis Mirabal Sisters dan Cerita di Balik Peringatan Kampanye 16 HAKTP
Menghadapi situasi tersebut, salah satu pilot memberitahu bahwa ada kondisi darurat ke menara pengawas Kuala Lumpur. Pilot tersebut juga menyebut kalimat “ada pembajak di dalam pesawat”.
Sementara itu, pengatur lalu lintas udara di Bandara Subang menyebut laporan pertama diterima pada pukul 19.54, prosedur darurat pun langsung dilakukan. Kala itu, para pembajak diyakini merupakan kelompok Tentara Merah Jepang (Japanese Red Army).
Jatuhnya MAS MH653
Kapten Ganjoor meminta para pembajak tetap mendarat di Bandara Subang, untuk isi bahan bakar. Ia menyebut bahwa bahan bakar pesawat MH653 hanya cukup untuk satu jam penerbangan.
Akan tetapi, permintaan ini ditolak oleh pembajak, Ganjoor pun melaporkan lewat radio ke menara pengawas bahwa pesawat yang dikemudikan sedang menuju Singapura. Komunikasi dengan menara pengawas terputus pada pukul 20.15.
Pada pukul 20.35, pesawat tersebut dilaporkan meledak di udara, lalu jatuh ke hutan bakau yang ada di Tanjung Kupang, Johor.
Pilot dan kopilot diketahui ditembak oleh pembajak. Seluruh penumpang dan tujuh kru tewas dalam tragedi tersebut.
Insiden Pertama Malaysia Airlines
Insiden pembajakan dan kecelakaan pesawat MH653 ini merupakan yang pertama dalam sejarah Malaysia Airlines berdiri pada tahun 1971.
Berdasarkan laporan media, terdapat suara orang mendobrak pintu di rekaman suara kokpit pesawat. Rekaman juga menunjukkan ada keributan, serta sesekali petugas untuk kembali mengendalikan pesawat. Pesawat diketahui jatuh menerjang tanah dengan kecepatan tinggi dan sudut hampir vertikal.
Banyak Penumpang Orang Penting
Pesawat tersebut membawa banyak penumpang penting, termasuk Menteri Pertanian Datuk Seri Ali Ahmad, Direktur Jenderal Jabatan Kerja Raya Tan Sri Mahfudz Khalid, Duta Besar Kuba untuk Jepang Dr. Mario Garcia Inchaustergui.
Sementara itu, kesaksian para nelayan dan penduduk desa kepada polisi Singapura bahwa mereka sempat melihat pesawat terbakar. Setelahnya mereka pun mendengar ledakan keras ketika pesawat itu jatuh ke tanah.
Warga Kampung ladang juga menyebut ada ledakan kedua, terdengar sangat keras bahkan tanah bergetar seperti gempa bumi.
Baca juga: Misteri Terowongan Taman Sari Yogyakarta: Benarkan Terhubung ke Pantai Selatan dan Nyi Roro Kidul?
Pada 6 Desember, Menteri Komunikasi Tan Sri V. Manickavasagam mengajukan mosi darurat atas tragedi tersebut. Dewan Rakyat pun mengadakan satu menit untuk mengheningkan cipta.
Jenazah Hangus dan Bagian Tubuh Berserakan
Jenazah para korban hangus dan ada beberapa bagian tubuh yang ditemukan di pepohonan, seperti tangan. Sisa-sisa jenazah tersebut akhirnya dikembalikan ke keluarga, tapi dimakamkan secara massal di Tanjung Kupang Memorial di Jalan Kebun Teh.
Atas insiden ini, Otoritas Penerbangan Sipil Malaysia membentuk Unit Keamanan Penerbangan, bagian dari Divisi Standar Bandara. Otoritas ini bertanggung jawab untuk melindungi penerbangan sipil domestik maupun internasional dari tindakan yang melawan hukum.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Nst.com.my