INDOZONE.ID - Bagi para pecinta sejarah dan ilmu pengetahuan, nama Perpustakaan Kuno Alexandria di Mesir adalah sebuah legenda.
Ia dikenal sebagai pusat intelektual terbesar di dunia kuno, sebuah tempat di mana para pemikir terhebat berkumpul.
Namun, kisahnya juga tragis, diwarnai dengan misteri kehancuran yang masih diperdebatkan hingga kini.
Lantas, bagaimana sejarah berdirinya perpustakaan legendaris ini dan apa yang sebenarnya terjadi padanya?
Baca juga: Bandung Lautan Api: Ketika Warga Rela Membakar Kotanya Demi Kemerdekaan
Asal-Usul Ikon Pengetahuan Dunia Kuno
Perpustakaan Agung Alexandria (Library of Alexandria) terletak di kota Alexandria, Mesir.
Perpustakaan ini didirikan pada periode Helenistik, sekitar abad ke-3 Sebelum Masehi (SM).
Pendiriannya digagas oleh Ptolemy I Soter, salah satu jenderal Alexander Agung yang kemudian menjadi Firaun Mesir.
Namun, pembangunan dan pengembangan besarnya kemungkinan besar baru selesai di masa pemerintahan putranya, Ptolemy II Philadelphus.
Baca juga: Eksperimen Monster yang Mengguncang Dunia Psikologi: Cerita Kelam di Balik "The Monster Study"
Ambisi Mengumpulkan Seluruh Pengetahuan Dunia
Tujuan didirikannya perpustakaan ini sangat ambisius. Ptolemy ingin menjadikan Alexandria sebagai ibu kota pengetahuan dan kebudayaan, menyaingi Athena.
Perpustakaan ini bukanlah sekadar tempat menyimpan buku, melainkan bagian dari sebuah institusi penelitian yang lebih besar bernama "Musaeum" (Rumah Para Musai).
Para raja Ptolemaic mengumpulkan naskah (gulungan papirus) dari seluruh penjuru dunia dengan cara apa pun.
Mereka mengirim utusan untuk membeli naskah, bahkan ada kebijakan untuk menyita setiap buku yang ditemukan di kapal-kapal yang berlabuh di pelabuhan Alexandria.
Buku-buku itu kemudian disalin, dan salinannya dikembalikan ke pemilik asli, sementara naskah aslinya disimpan di perpustakaan.
Baca juga: Marsinah, Buruh Pejuang Hak Pekerja yang Kini Resmi Jadi Pahlawan Nasional
Harta Karun Papirus dan Para Cendekiawan
Hingga kini, tidak ada yang tahu pasti jumlah koleksi naskah di sana. Beberapa sumber kuno menyebutkan angka fantastis, mulai dari 40.000 hingga 400.000 gulungan papirus.
Di sinilah para cendekiawan besar seperti Eratosthenes (yang pertama menghitung keliling Bumi) dan Euclid (Bapak Geometri) melakukan penelitian mereka.
Kematian Perlahan Sebuah Legenda
Berlawanan dengan mitos populer, Perpustakaan Alexandria kemungkinan besar tidak hancur dalam satu peristiwa bencana besar.
Kebanyakan sejarawan modern percaya bahwa kehancurannya adalah sebuah proses "kematian perlahan" yang berlangsung selama berabad-abad.
Baca juga: Oranje Nassau: Jejak Industri Tambang Batu Bara di Kalimantan Selatan Abad ke-19
Ada beberapa peristiwa besar yang tercatat berkontribusi pada kemundurannya.
Pada tahun 48 SM, Julius Caesar terlibat dalam perang saudara di Alexandria.
Ia membakar armada kapal di pelabuhan, dan beberapa sejarawan kuno mencatat api tersebut menjalar ke dok dan menghanguskan sebagian koleksi perpustakaan.
Kemunduran berlanjut akibat pemotongan dana dari kaisar, konflik politik internal di Mesir, dan perang.
Puncak kehancuran sering dikaitkan dengan dua peristiwa.
Baca juga: Benarkah Kapitan Pattimura Bernama Asli Ahmad Lussy? Ini Profil Lengkapnya
Pertama, serangan Kaisar Romawi Aurelian pada abad ke-3 Masehi yang merusak area perpustakaan.
Kedua, pada tahun 391 M, ketika Patriark Theophilus dari Alexandria menghancurkan Serapeum, sebuah "perpustakaan cabang" atau kuil pagan yang juga menyimpan banyak naskah.
Hilangnya Perpustakaan Alexandria menjadi simbol kerugian besar bagi peradaban, mewakili hilangnya pengetahuan kuno yang tak ternilai harganya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Britanica.com