Ilustrasi Gedung Sate Bandung (freepik).
INDOZONE.ID - “Halo-halo Bandung, ibu kota Parahyangan...”
Siapa sih yang nggak kenal lagu ini? Lagu legendaris karya Ismail Marzuki ini ternyata punya cerita kelam dan heroik di baliknya — tentang perjuangan rakyat Bandung di tahun 1946 yang rela membakar kotanya sendiri demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Begitu Jepang menyerah ke Sekutu dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, Belanda nggak terima.
Mereka balik lagi ke Indonesia membonceng pasukan Sekutu (AFNEI), pura-pura mau bebaskan tawanan perang.
Baca juga: Eksperimen Monster yang Mengguncang Dunia Psikologi: Cerita Kelam di Balik "The Monster Study"
Tapi sebenarnya, mereka bawa serta NICA, pemerintahan sipil Belanda, yang mau balik lagi jajah Indonesia. Ya, warga pun gerah.
Awalnya Sekutu bersikap baik, tapi lama-lama minta ini-itu. Mereka suruh rakyat menyerahkan senjata dan ngosongin Bandung Utara.
Ya mana mau? Pertempuran pun pecah di mana-mana, dari Hotel Homann sampai Tegalega.
Tanggal 23 Maret 1946, Sekutu ngasih ultimatum lebih gila lagi: seluruh Bandung harus dikosongin sejauh 11 kilometer!
Pemerintah pusat menyarankan mundur biar korban nggak berjatuhan. Tapi bagi pejuang Bandung, mundur bukanlah pilihan.
Baca juga: Marsinah, Buruh Pejuang Hak Pekerja yang Kini Resmi Jadi Pahlawan Nasional
Di bawah pimpinan Kolonel A.H. Nasution, para pejuang dan tokoh masyarakat akhirnya ambil keputusan yang bikin bulu kuduk merinding: mereka sepakat untuk membumihanguskan Bandung.
Bukan karena benci kotanya, tapi biar Sekutu nggak bisa manfaatin Bandung sebagai markas.
Malam 24 Maret 1946, sekitar jam 9 malam, api mulai berkobar. Dalam hitungan jam, seluruh kota jadi lautan api. Rumah, toko, gedung-gedung, semua dilalap si jago merah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Youtube/Nessie Judge