Kamis, 30 OKTOBER 2025 • 13:17 WIB

Sejarah Malam Halloween dan Misteri di Baliknya: Ritual Arwah Jadi Pesta Kostum

Author

Ilustrasi Halloween (freepik.com)

INDOZONE.ID - Malam Halloween identik dengan labu bercahaya, kostum menyeramkan, dan teriakan “Trick or Treat!” yang menggema di jalanan. 

Tapi dibalik keseruan itu, tersimpan sejarah panjang tentang kepercayaan kuno, upacara spiritual, dan pertemuan antara dunia hidup dan mati.

Baca juga: 5 Fakta Sejarah Hari Sumpah Pemuda yang Belum Banyak Diketahui

Asal Usul Halloween: Dari Ritual Samhain ke Dunia Modern

Ratusan tahun sebelum Halloween dikenal seperti sekarang, masyarakat Celtic di wilayah Irlandia, Skotlandia, dan Wales sudah memiliki tradisi kuno bernama Samhain.

Festival ini dirayakan setiap tanggal 31 Oktober untuk menandai berakhirnya musim panen dan datangnya musim dingin masa yang dianggap gelap, dingin, dan penuh bahaya.

Orang-orang Celtic percaya kalau pada malam Samhain, batas antara dunia orang hidup dan dunia arwah menjadi sangat tipis. Roh orang mati dipercaya kembali ke bumi untuk mencari tempat tinggal atau bahkan mengganggu yang masih hidup. 

Untuk melindungi diri, penduduk menyalakan api unggun besar di perbukitan, memakai topeng dan pakaian menyeramkan untuk menyamarkan identitas dari roh-roh jahat yang berkeliaran. Selain itu, mereka menyiapkan persembahan makanan di depan rumah untuk menenangkan arwah dan dewa kematian. 

Baca juga: Tren Halloween di Indonesia, dari Tradisi Barat hingga Kreasi Lokal Populer dan Kreatif

Momen ini juga digunakan sebagai ritual ramalan masa depan banyak orang Celtic yang mencoba memprediksi nasib mereka di musim dingin yang akan datang menggunakan batu, api, dan tulang hewan.

Ilustrasi labu untuk Halloween. (Freepik).

Samhain bukan sekadar pesta arwah. Bagi masyarakat Celtic, ini adalah perayaan spiritual terbesar dalam setahun, semacam “Tahun Baru” yang menandai transisi antara terang dan gelap, hidup dan mati.

Pengaruh Gereja dan Lahirnya Nama “Halloween”

Ketika agama Kristen mulai menyebar ke Eropa pada abad ke-9, Gereja berusaha mengubah tradisi pagan menjadi perayaan yang lebih religius. 

Tahun 835 M, Paus Gregorius IV menetapkan 1 November sebagai Hari Para Kudus (All Saints’ Day), sebuah hari untuk menghormati para martir dan orang suci. Malam sebelum perayaan itu disebut All Hallows’ Eve, yang kemudian disingkat menjadi Halloween.

Meskipun bernuansa baru, masyarakat tetap mempertahankan unsur mistis dari Samhain seperti penggunaan lilin, pakaian seram, dan doa bagi arwah. 

Dalam tradisi Kristen awal, muncul pula perayaan All Souls’ Day pada 2 November, yang dikhususkan untuk mendoakan jiwa-jiwa orang yang telah meninggal.

Dengan begitu, Halloween menjadi perpaduan antara kepercayaan pagan dan ritual gereja, sebuah jembatan antara spiritualitas lama dan keyakinan baru.

Menyebar ke Dunia Baru: Halloween di Amerika

Halloween mulai berubah wujud ketika imigran Irlandia dan Skotlandia tiba di Amerika Utara pada abad ke-19. Mereka membawa serta tradisi Samhain dan All Hallows’ Eve termasuk kebiasaan menyalakan api unggun, mengenakan kostum, dan menceritakan kisah-kisah roh.

Perayaan Halloween. (Freepik/chandlervid85)

Tapi, di tanah Amerika, Halloween mendapatkan wajah baru dengan lebih ringan, penuh hiburan, dan melibatkan anak-anak.

Baca juga: Termasuk di Itaewon, Inilah 3 Tragedi Mengerikan Pesta Halloween yang Bikin Nyawa Melayang

Pada akhir 1800-an, Halloween berubah menjadi perayaan komunitas dimana anak-anak berkeliling lingkungan dengan membawa tas dan mengetuk pintu sambil berkata “Trick or Treat” artinya “beri aku permen, atau aku jahili kamu!”.

Simbol labu yang bercahaya, atau Jack-o’-Lantern, juga lahir dari cerita rakyat Irlandia tentang Stingy Jack, pria yang menipu iblis dan dikutuk berkeliaran di bumi dengan obor api yang disimpan dalam lobak berukir. Di Amerika, lobak digantikan oleh labu oranye, yang kini menjadi ikon utama setiap perayaan Halloween.

kostum, Simbol, dan Tradisi yang Bertahan

Dulu, kostum Halloween berfungsi sebagai penyamaran diri dari roh jahat. Sekarang, kostum menjadi bagian dari kreativitas mulai dari hantu, penyihir, vampir, hingga karakter film.

Trik “Trick or Treat” berasal dari kebiasaan abad pertengahan di Inggris, disebut “souling”, di mana anak-anak berkeliling meminta kue kecil (“soul cakes”) sebagai imbalan doa untuk orang mati.

Selain itu, banyak tradisi lain ikut bertahan  seperti menonton film horor, mengunjungi rumah hantu, hingga bermain permainan ramalan sederhana yang diadaptasi dari ritual Samhain. Halloween terus berkembang menjadi perpaduan antara spiritualitas, hiburan, dan budaya populer.

Halloween masa kini: Antara Mistis dan Komersial

Kini, Halloween telah menjadi fenomena global. Di Amerika Serikat, perayaan ini bahkan menempati posisi kedua setelah Natal dalam hal konsumsi dekorasi dan kostum.

Di Indonesia sendiri, Halloween makin populer di kalangan anak muda mulai dari pesta bertema horor di kafe hingga acara cosplay di kampus.

Tapi, di balik sorotan lampu dan tawa, Halloween tetap menyimpan jejak spiritualitas kuno tentang bagaimana manusia mencoba menjinakkan rasa takut terhadap kematian dengan cara yang kreatif dan simbolis.

Antara Hidup, Mati, dan Cerita yang Timeless

Halloween bukan hanya tentang kostum dan permen. Tapi juga tentang jejak evolusi manusia dalam memaknai kehidupan dan kematian, sebuah perjalanan dari api unggun Celtic hingga pesta modern di seluruh dunia.

Baca juga: Fenomena 31/ATLAS, Objek Bintang Langka yang Memicu Spekulasi dan Ramalan Sejarah

Jadi, ketika malam 31 Oktober tiba dan langit mulai gelap, bayangkanlah ribuan tahun lalu di dataran Irlandia ketika manusia pertama kali menyalakan api untuk menolak kegelapan. 

Kini, menyalakan labu bercahaya, bukan lagi karena takut, tapi untuk merayakan kalau bahkan di tengah malam paling kelam, selalu ada cahaya kecil yang menghidupkan harapan. Nah, kamu udah siapin apa aja nih untuk merayakan Halloween? 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Britannica.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU