Sabtu, 30 AGUSTUS 2025 • 13:30 WIB

Jejak Seni Kristen di Indonesia: Ketika Iman Bertemu Tradisi Lokal

Author

Creation of Sun and Moon,1979 dan Sermon at the Seaside,1988. (sumber: Wikipedia/Nyoman Darsane)

INDOZONE.ID - Religi sering kali meniupkan napasnya ke dalam bentuk-bentuk seni. Banyak seniman terdahulu menggunakan referensi agama dalam karyanya. Sebagai contoh, lukisan berjudul The Last Supper karya Da Vinci memuat kisah dalam Alkitab. Di Indonesia pun demikian, terdapat jejak seni yang berpadu dengan unsur agama atau religi, salah satunya ialah seni Kristen.

Seni Kristen di Indonesia berkembang dengan keunikannya tersendiri, yaitu menggabungkan elemen budaya lokal dengan tradisi dalam Kristen itu sendiri. Hasilnya adalah karya seni unik dengan pendekatan berbeda dari seni Kristen di negara lain.

Ekspresi seni Kristen pertama pada periode 1920–1940 dipengaruhi kebijakan Vatikan dalam upaya memadukan nilai Kristen dengan budaya lokal. Karya seni seperti gambar Tritunggal oleh Raden Mas Joesoef Poerwodiwirjo dan patung-patung karya pematung Iko di Ganjuran mencerminkan penggabungan seni Kristen dengan budaya Jawa.

Dua seniman yang cukup penting dalam perkembangan seni Kristen unik ini ialah Bagong dan Nyoman Darsane. Keduanya menggunakan ikonografi serta tradisi lokal untuk menghasilkan karya seni yang mampu memperlihatkan keyakinan mereka dengan elemen tradisi kebudayaan Indonesia.

Baca juga: Gereja Tua Saksi Bisu Masuknya Agama Kristen di Pulau Rote yang Kini Terbengkalai

Bagong (1929–2004) awalnya merupakan misionaris Baptis yang mulai belajar seni dari tokoh-tokoh terkenal Indonesia, seperti Affandi dan Hendra Gunawan. Ia terjun lebih mendalam ke dunia seni pada akhir 1940-an, sekaligus mengembangkan keahlian melukis dan membatik. Bahkan, pada tahun 1958, Bagong mendirikan pusat pelatihan tari.

Karya-karya Bagong kerap merefleksikan tema bernuansa Kristen, namun tetap menambahkan elemen khas Indonesia. Salah satu wujudnya adalah penggabungan unsur Kristen ke dalam bentuk wayang dan simbol-simbol lokal lainnya.

Meski Bagong berpindah keyakinan pada tahun 2000 karena menikah dengan seorang Muslim, ia tetap terhubung dengan ajaran Kristen hingga akhir hidupnya. Hal ini menunjukkan adanya kompleksitas hubungan spiritual dan budaya yang telah melekat dalam karyanya.

Sementara itu, Nyoman Darsane, seniman asal Bali, lahir pada tahun 1939. Ia dibesarkan dalam keluarga Hindu-Bali sebelum beralih ke Kristen pada usia 17 tahun. Berkat didikan budaya istana Bali, Darsane mendalami seni tradisional Bali, yang kemudian dipadukan dengan gaya Barat setelah ia belajar di Semarang.

Darsane sering menggambarkan Yesus dalam konteks budaya Bali. Misalnya, dalam karya batik Creation of Sun and Moon (1979), ia melukiskan Kristus sebagai sosok penari yang menjadi perantara penciptaan. Ia terinspirasi dari simbol Hindu, khususnya Siwa, dewa yang menari serta dikenal sebagai pencipta, pemelihara, sekaligus penghancur. Namun, Darsane menggambarkan Kristus tanpa sifat penghancur tersebut.

Dalam karyanya itu, Kristus digambarkan memegang matahari di tangan kiri dan bulan di tangan kanan, sambil memancarkan cahaya ilahi. Bagong juga pernah menggambarkan “Kristus Kosmik” sebagai figur wayang yang melayang di antara gelembung-gelembung kosmik berwarna. Ada pula karya Darsane berjudul Sermon at the Seaside, yang menampilkan Yesus mengenakan sarung tradisional Bali, memberikan makna baru dalam ekspresi keagamaan di Bali.

Bagong dan Darsane mengalami banyak tantangan sosial dalam perjalanan seni mereka. Darsane, misalnya, sempat diasingkan dari komunitas dan keluarganya setelah pindah agama, namun kemudian diterima kembali berkat usaha dan karyanya yang tetap menghormati serta mempertahankan identitas budaya Bali. Keduanya membuka pendekatan baru dalam seni Kristen, beranjak dari mode inkulturasi yang kaku menuju gaya campuran yang menggabungkan elemen lokal dan luar negeri.

Baca juga: Mengenal Kisah Rasul Thomas: Sang Pendiri Gereja Kristen Tertua di India

Selain seni lukis, pengaruh tradisi lokal juga tampak pada berbagai arsitektur gereja dan tempat ziarah Kristen di Indonesia. Pada tahun 1930-an, beberapa gereja mulai menggunakan gaya arsitektur tradisional, seperti Gereja di Ganjuran dan Pohsarang yang terinspirasi arsitektur Hindu-Majapahit.

Pohsarang kini menjadi tempat ziarah penting setelah renovasi besar pada 1990-an. Di Jawa, Gereja Kenteng juga menggunakan gaya Bangsal Kencana dari istana Yogyakarta yang melambangkan simbol kekuasaan kerajaan.

Salah satu arsitek terkenal, Yusuf B. Mangunwijaya (1929–1999), merancang tempat ziarah Sendang Sono di Jawa Tengah dengan menggabungkan kapel-kapel kecil dan bangunan bergaya pendopo Jawa yang terbuka.

Gereja di daerah lain, seperti Ganjuran, juga menampilkan perpaduan arsitektur Joglo khas Jawa dengan gaya Eropa. Meski banyak gereja di Indonesia tetap mempertahankan gaya neo-Gotik, sejak 1970-an muncul kecenderungan membangun gereja dengan arsitektur berciri lokal. Namun, hal ini juga menimbulkan kekhawatiran sebagian pihak akan potensi konflik antaragama.

Seni Kristen di Indonesia, yang diwakili oleh karya Bagong, Darsane, dan arsitektur gereja, menunjukkan kemampuan untuk menyatukan keyakinan dengan identitas budaya lokal. Melalui pendekatan ini, seni Kristen di Indonesia tidak hanya mengekspresikan iman, tetapi juga menghormati serta melestarikan kekayaan budaya Nusantara.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: JSTOR

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU