INDOZONE.ID - Di salah satu daerah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), tepatnya di Kabupaten Manggarai, terdapat sebuah kampung bernama Wae Rebo yang memiliki keunikan pada arsitektur rumah adatnya. Rumah adat ini bernama Mbaru Niang, warisan budaya dari para leluhur masyarakat Wae Rebo yang dijaga dengan baik oleh para penduduknya hingga sekarang.
Asal Usul dan Filosofi Mbaru Niang
Mbaru Niang berasal dari kata “mbaru” yang berarti rumah dan “niang” yang berarti kerucut, sesuai dengan bentuk rumah adat tersebut. Rumah adat Mbaru Niang terdiri dari satu rumah utama yang dinamakan Mbaru Gendang dan enam rumah biasa yang disebut Niang Gena. Mbaru Gendang berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda-benda pusaka yang digunakan ketika upacara adat, sekaligus tempat tinggal bagi keturunan leluhur Wae Rebo. Sementara itu, Niang Gena digunakan sebagai tempat bermalam bagi para wisatawan yang berkunjung.
Masyarakat Wae Rebo mengibaratkan Mbaru Niang sebagai seorang ibu yang mengayomi dan melindungi penduduk. Mbaru Niang memiliki sembilan tiang utama yang melambangkan jumlah bulan dalam kandungan. Selain itu, terdapat tiga tempat penyimpanan makanan di dekat perapian, yang menggambarkan bahwa setelah persalinan, seorang bayi lahir dan harus diberi nutrisi cukup untuk tumbuh kembangnya.
Baca juga: Rumah Adat Banjar Bubungan Tinggi: Simbol Budaya yang Sarat Makna
Struktur Bangunan Mbaru Niang
Struktur Mbaru Niang memiliki atap berbentuk kerucut yang menjulur ke bawah sekaligus berfungsi sebagai dinding rumah. Bangunan ini terdiri dari lima lantai dengan fungsi yang berbeda-beda:
- Lantai dasar (lutur): tempat berkumpul keluarga, kamar yang dipisahkan oleh papan, serta dapur.
- Lantai dua (lobo/loteng): tempat penyimpanan bahan makanan dan barang-barang.
- Lantai tiga (lentar): tempat menyimpan benih-benih pangan.
- Lantai empat (lempa rae): tempat penyimpanan stok pangan untuk musim kemarau.
- Lantai lima (sekang kode): tempat penyimpanan sesaji untuk para roh leluhur.
Mbaru Niang memiliki keunikan arsitektur yang tidak dapat dibongkar pasang. Proses pembangunannya dilakukan bersama-sama melalui ritual khusus, mulai dari mengumpulkan kayu, mendirikan struktur rumah, hingga penyelesaian pembangunan. Masyarakat Wae Rebo juga tetap melaksanakan ritual seperti we’e mbaru dan sapo sebagai persiapan sebelum memasuki rumah tersebut.
Baca juga: Mengenal Joglo Pencu di Kudus, Rumah Adat dengan Keunikan Tanpa Paku
Makna Sosial dan Spiritual
Mbaru Niang tidak hanya menjadi simbol sosial masyarakat Wae Rebo, tetapi juga wadah spiritual yang erat kaitannya dengan tradisi turun-temurun serta adat istiadat mereka.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Research Gate