Kisah Idham Chalid, Ketua DPR Paling Sederhana yang Haramkan Fasilitas Negara untuk Keluarganya
INDOZONE.ID - Sejarah Indonesia ternyata menyimpan banyak sosok yang bisa dijadikan panutan. Salah satunya adalah sosok Idham Chalid yang pernah menjadi ketua DPR dan disebut sebagai ketua DPR 'termiskin' karena amanah.
Julukannya tersebut melekat padanya dan disebut di beberapa media lantaran kesederhanaannya yang tidak silau dengan jabatan, bahkan mengharamkan keluarganya memakai fasilitas negara.
Mengutip situs kemenag.go.id, Kiai Haji Doktor Idham Chalid semasa hidupnya adalah ulama dan politisi berlatar-belakang santri dalam tugas kenegaraan. Ia terlibat aktif dalam berbagai episode sejarah pemerintahan Indonesia pasca-kemerdekaan.
Peran yang dijalankan Idham Chalid di pentas politik nasional sejak dekade lima puluhan menunjukkan betapa kiprah ulama tak terpisahkan dari perjalanan republik.
Baca juga: Kisah Tragis Itachi Uchiha: Dari Pengkhianat Jadi Pahlawan Tersembunyi
Latar belakang Idham Chalid
Idham Chalid lahir di Setui Kalimantan Selatan pada 27 Agustus 1922. Semasa mudanya menempuh pendidikan di Madrasah Mualimin Tinggi Pondok Modern Gontor Ponorogo Jawa Timur (1942).
Gelar Doctor Honoris Causa diperolehnya dari Universitas Al-Azhar Cairo tahun 1957.
Pada usia relatif muda Idham Chalid sudah mencapai kematangan dalam leadership (kepemimpinan). Sejarah membuka jalan kepadanya untuk mengemban peran kenegaraan di masa pemerintahan Presiden Soekarno (Orde Lama) dan pemerintahan Presiden Soeharto (Orde Baru).
Ia adalah politisi ulung dan negarawan yang bertahan di segala cuaca.
Politisi dua orde
Dalam gelombang perubahan sosial-politik dari Orde Lama ke Orde Baru, tidak banyak politisi yang bertahan meniti dua rezim.
Baca juga: Ketua DPRD Kota Serang Siap Kawal Kasus Dugaan Pelecehan Seksual di SMAN 4
Perubahan politik dan pergantian rezim seringkali mengakibatkan mereka yang berada di puncak harus meninggalkan gelanggang.
Jabatan yang diemban Idham Chalid cukup prestisius. Ia pernah menjabat Wakil Perdana Menteri RI, Menteri Kesejahteraan Rakyat, Ketua DPR hingga Ketua MPR. Ia juga merupakan Ketua Tanfidziyah NU terlama dalam sejarah NU selama 28 tahun, periode 1956-1984.
Kehidupan dan didikan keluarga yang sederhana
Hidup Idham Chalid tidak bergelimang harta.Sebagai Ketua DPR RI pada 197 hingga 1977, ia dan keluarganya hdup bersahaja.
Mengutip keterangan dari akun fyifact, keluarganya kemana-mana naik metromini dan anak-anaknya berjualan nasi dan air.
Ia pernah berkata pada istrinya bahwa anak-anak hanya boleh makan dari gaji saya, agar mereka terjaga dari uang haram.
Baca juga: Kisah Otto Wahyudi, Pemuda Tunanetra yang Lolos UNY Jalur SNBT dan Dapat Beasiswa KIPK
Tidka ada fasilitas negara bagi keluarganya. Anak-anak lebih memilih berwirausaha dan tidak terjun ke politik, meski ayahnya pejabat tinggi negara.
Setelah Idham Khalid pensiun
Setelah pensiun, Idham menolak semua tawaran bisnis sampingan atau jabatan lain. Ia memilih menjadi guru agama sesuai dengan latar belkang agamanya dengan Nadhatul Ulama (NU)
Meski mantan pejabat tinggi negara, kediaman dan kehidupannya tidak memamerkan kemewahan. Ia menikmati hari tuanya di komplek Perguruan Darul Maarif di daerah Cipete Jakarta Selatan.
Idham Chalid tidak sulit dijumpai dan tanpa protokoler. Pembawaannya tenang, santun dan menyejukkan.
Setelah ia jatuh sakit dan menjalani istirahat (home care) dengan tenang di kamarnya yang sepi dari hingar-bingar metropolitan.
Setelah pensiun dari politik, Idham memimpin pondok pesantren di Cipete Selatan, dan rumah yatim di Cisarua. Ia juga aktif mengajar murid-murid di rumahnya.
Idham Chalid mengehembuskan nafas terakhirnya pada 11 Juli 2010 pada usia 88 tahun. Sosoknya kemudian diabadikan oleh Bank Indonesia dalam pecahan uang 5.000 rupiah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Kemenag.go.id