INDOZONE.ID - Ketika membicarakan gerakan perempuan di Indonesia, banyak orang langsung teringat pada RA Kartini. Tetapi, ada satu nama organisasi yang juga tak kalah berpengaruh, yaitu Aisyiyah.
Berdiri pada 19 Mei 1917 di Yogyakarta, organisasi perempuan Muhammadiyah ini menjadi tonggak penting dalam sejarah emansipasi perempuan Indonesia.
Lahir dari gagasan Nyai Ahmad Dahlan, Aisyiyah berawal dari sebuah perkumpulan kecil bernama Sapa Tresna pada 1914. Di sana, para gadis terdidik di Kampung Kauman berkumpul, belajar agama, sekaligus berdiskusi soal peran perempuan di masyarakat.
Dari titik itulah lahir semangat bahwa perempuan bukan hanya pendamping, tetapi juga bisa menjadi penggerak perubahan.
Mengubah Pandangan tentang Perempuan
Pada masa kolonial, perempuan sering dipandang hanya sebatas “pengurus rumah”. Kualitas gadis kala itu bahkan diukur dari kemampuannya mengasuh anak. Aisyiyah hadir untuk menantang stigma tersebut.
Melalui pengajian, kursus, hingga pendidikan khusus putri, Aisyiyah mendorong perempuan untuk berani keluar dari batasan-batasan lama.
Salah satu gebrakan penting mereka adalah mengajak perempuan berpakaian sesuai syariat Islam. Saat itu, hanya sedikit perempuan yang mengenakan kerudung.
Aisyiyah memelopori perubahan ini sebagai simbol kesadaran beragama sekaligus identitas perempuan muslim yang bermartabat.
Baca juga: Reformasi Gereja Abad 16: Dampak dan Peranan Tokoh-Tokoh Penting Dibaliknya
Dari Musala hingga Rumah Sakit
Tidak berhenti di soal agama, Aisyiyah juga bergerak dalam bidang sosial. Mereka mendirikan mushala khusus perempuan pertama di Indonesia pada 1922.
Kemudian, peran mereka melebar ke ranah yang lebih luas: menyantuni anak yatim, membantu korban bencana, hingga mendirikan rumah sakit dan balai kesehatan ibu-anak.
Bayangkan, di tengah keterbatasan dan dominasi kolonial Belanda, Aisyiyah sudah berbicara tentang kesehatan reproduksi perempuan dan bahaya narkoba serta rokok.
Hal itu menunjukkan betapa maju cara pandang mereka terhadap isu kemanusiaan.
Baca juga: Qixiong Ruqun: Hanfu Indah Nan Kontroversial Dari Dinasti Sui, Tang, Hingga Song
Pendidikan Sebagai Senjata
Nyai Ahmad Dahlan percaya, pendidikan adalah kunci perubahan. Karena itu, Aisyiyah mendirikan lembaga pendidikan khusus perempuan, mulai dari TK, TPA, hingga sekolah madrasah.
Langkah ini bukan sekadar memberi ilmu, tetapi juga membuka pintu kesempatan agar perempuan bisa sejajar dengan laki-laki dalam dunia pengetahuan.
Tetap Bertahan, Tetap Bergerak
Lebih dari seratus tahun sejak berdiri, Aisyiyah masih ada dan aktif. Ia menjadi satu-satunya organisasi perempuan nasional dari masa pergerakan yang tetap eksis hingga kini.
Dari lingkup kampung kecil di Kauman, kiprah Aisyiyah kini merambah ke tingkat nasional bahkan internasional. Aisyiyah bukan hanya bagian dari sejarah Muhammadiyah, tetapi juga bagian penting dari sejarah kebangkitan perempuan Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal Pendidikan Sejarah Dan Riset Sosial Humaniora