Minggu, 24 AGUSTUS 2025 • 17:00 WIB

Kekalahan Force Z: Akhir Dominasi Royal Navy di Laut Asia Tenggara

Author

Hancurnya force Z, kekalahan memalukan bagi Inggris. (sumber: Wikipedia)

INDOZONE.ID - Front Pasifik pada Perang Dunia Kedua dimulai dengan serangan kilat Jepang ke berbagai wilayah di Asia Tenggara, sehingga memaksa Inggris dan negara Eropa lainnya untuk memperkuat kekuatan angkatan laut mereka di wilayah koloni Pasifik. Salah satu koloni Inggris adalah Singapura, yang memiliki fasilitas reparasi kapal perang dan letak yang strategis.

Veteran dari Perburuan Bismarck

Pada 20 Oktober 1941, Komite Pertahanan Inggris memutuskan untuk mengirimkan kapal perang tercanggih mereka ke wilayah Timur Jauh untuk memberikan efek deteren bagi pihak Jepang yang diperkirakan akan melancarkan serangan. Pada mulanya, Inggris berencana mengirimkan kapal perang dari kelas Nelson. Akan tetapi, karena ada beberapa kendala, mereka memutuskan mengirimkan HMS Prince of Wales.

HMS Prince of Wales merupakan salah satu kapal terbaru dan tercanggih yang dimiliki oleh Angkatan Laut Inggris. Kendati demikian, kapal ini telah beberapa kali terlibat pertempuran, termasuk pada operasi perburuan Kapal Perang Jerman Bismarck pada Mei 1941. Berdasarkan rencana awal, Prince of Wales akan bergabung ke dalam Force G yang terdiri atas HMS Repulse serta HMS Indomitable sebagai dukungan udara.

Namun sialnya, HMS Indomitable menabrak karang di Laut Karibia, sehingga harus menjalani reparasi di dok kering. Hal tersebut berdampak pada menurunnya kekuatan tempur Force Z yang akhirnya berlayar tanpa dukungan udara.

Pada 28 November 1941, dua kapal utama yang tersisa, yaitu HMS Prince of Wales dan HMS Repulse, berlabuh di Colombo dan membentuk gugus tugas Force Z. Mereka menghadapi berbagai tantangan, seperti iklim tropis Singapura yang memengaruhi efektivitas radar permukaan kapal-kapal Inggris, yang kemudian berpengaruh pada hasil akhir pertempuran di lepas pantai Malaya.

Baca juga: Demi Minyak Bumi, Jepang Jadikan Tarakan sebagai Target Utama di Perang Pasifik

Menuju ke Palagan

Gugus tugas HMS Prince of Wales dan HMS Repulse tiba di Singapura pada 2 Desember 1941, sesuai dengan prediksi intelijen Jepang. Pihak Jepang kemudian mempersiapkan ‘sambutan’ bagi gugus tugas Inggris tersebut. Jepang menyiapkan pesawat pengebom berbasis daratan G3M yang ditempatkan di Indochina Selatan, serta tambahan pesawat G4M dari Filipina.

Selain mempersiapkan serangan udara, Jepang juga mengerahkan armada permukaan yang terdiri atas kapal penjelajah tempur Kongo dan Haruna, serta 10 kapal perusak. Tidak hanya itu, armada kapal selam Jepang juga dikerahkan dengan tujuan melakukan serangan kejutan.

Pada pukul 17.10, 8 Desember 1941, Laksamana Philips memerintahkan gugus tugas Force Z untuk menghadang pendaratan pasukan Jepang di Malaya. Gugus tugas tersebut terdiri atas Prince of Wales, Repulse, Electra, Express, Vampire, dan Tenedos. Dengan kekuatan itu, Laksamana Philips berencana menyerang Singora pada 10 Desember 1941.

Esok harinya, 9 Desember 1941, keberadaan gugus tugas Force Z diketahui oleh kapal selam Jepang I-65. Selama lima jam, kapal selam tersebut membuntuti pergerakan Force Z. Laksamana Madya Jisaburo Ozawa kemudian memerintahkan kapalnya untuk melacak keberadaan Force Z dan mempersenjatai pesawat pengebom dengan torpedo.

Peraduan Kekuatan Dimulai

Setelah berhari-hari mencari posisi gugus tugas Inggris, upaya Jepang akhirnya membuahkan hasil. Pada 10 Desember 1941, sebuah pesawat pengebom Jepang menemukan posisi Force Z. Dua jam kemudian, pesawat pengebom Jepang melancarkan serangan gelombang pertama pada pukul 11.13. Serangan itu hanya menimbulkan kerusakan kecil pada HMS Repulse.

Sepuluh menit setelah serangan pertama, 17 pesawat pengebom G3M yang dipersenjatai torpedo berhasil menghantam HMS Prince of Wales dengan torpedo Type 91. Sementara itu, HMS Repulse masih berhasil menghindari semua torpedo yang diluncurkan pesawat Jepang. Sekitar 30 menit kemudian, HMS Prince of Wales yang mengalami kerusakan sistem listrik dan hanya mampu melaju 15 knot kembali terkena empat torpedo di sisi kanan. Hal ini menyebabkan air membanjiri ruang mesin kapal.

Puluhan pesawat G4M kemudian memfokuskan serangan ke HMS Repulse. Kali ini, Repulse tidak seberuntung sebelumnya. Kapal itu menerima empat torpedo, satu saat melakukan manuver, dan tiga lainnya mengenai sisi kiri setelah mencoba menghindar.

Akhir dari Pertempuran

Prince of Wales yang perlahan tenggelam. (sumber: Pacific Eagles)

Baca juga: Kido Butai: Armada Kapal Induk Jepang yang Mendominasi dan Mengubah Sejarah Perang Pasifik

Air dengan cepat membanjiri HMS Repulse. Dalam 15 menit, kapal itu tenggelam bersama 508 awaknya. Sementara itu, HMS Prince of Wales masih bertahan, meski air sudah memenuhi bagian dalam kapal.

HMS Express segera mendekati Prince of Wales untuk menyelamatkan kru. Beberapa tali dilemparkan, tetapi tidak semua kru berhasil diselamatkan. Sebanyak 327 awak, termasuk Laksamana Philips dan Kapten Leach, ikut tenggelam bersama kapal tersebut.

Tenggelamnya HMS Prince of Wales dan HMS Repulse menjadi aib memalukan bagi Inggris. Kekuatan laut yang selama ratusan tahun berkuasa akhirnya dikalahkan oleh kekuatan baru dengan doktrin baru. Peristiwa ini menandai berakhirnya era dominasi kapal perang, digantikan oleh era kekuatan udara melalui pesawat tempur.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wikipedia, Pacificeagles.net, Netherlandsnavy.nl

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU