INDOZONE.ID - Sejak dahulu manusia begitu terpesona dengan keindahan. Dalam pencarian tersebut manusia menemukan bahwa dalam sebuah cangkang dari dalam samudra muncul sebuah butiran penuh kilau.
Butiran tersebut memukai manusia dan membuat barang itu menjadi berharga. Barang itu tak lain dan tak bukan ialah mutiara.
Dalam sejarahnya mutiaranya ini begitu sulit dikembangkan sampai muncul sosok bernama Kokichi Mikimoto yang membawa perubahan besar bagi produksi mutiara di dunia.
Baca juga: Bikin Penasaran, Ternyata Begini Cara Kerang Tiram Menghasilkan Mutiara
Kokichi Mikimoto, merupakan pengusaha Jepang yang lahir di desa nelayan Toba pada tahun 1858. Dia dianggap sebagai seorang pelopor dalam industri budidaya mutiara terlebih di Jepang.
Mikimoto memulai kariernya dari bekerja menjadi pedagang kecil, menjual produk seperti tahu dan buah di pasar lokal.
Namun, melalui akal, ketekunan luar biasa dan juga keberuntungan, mampu menghantarkannya menciptakan revolusi besar dalam dunia perhiasan.
Sekitar tahun 1890, Mikimoto mulai mendirikan peternakan tiram mutiara di Pulau Tahoku, Teluk Ago. Dia mengumpulkan para ahli untuk membantunya dalam mengembangkan teknik inovatif untuk menghasilkan mutiara dengan lebih efektif dan efisien.
Baca juga: Seperti Berlian, Mutiara Menjadi Simbol Kekayaan dan Kekuasaan di Zaman Romawi Kuno
Hasilnya ditemukanlah cara untuk mencapai tujuan tersebut melalui proses iritasi buatan pada tiram.
Teknik iritasi buatan ini melibatkan penyisipan benda asing kecil, seperti potongan cangkang, ke dalam jaringan tiram. Proses ini nantinya akan mendorong tiram menghasilkan lapisan nacre, yang membentuk mutiara berkualitas tinggi.
Namun, usaha ini tidak langsung berhasil begitu saja. Selama beberapa tahun, Mikimoto menghadapi rangkaian hambatan dan tantangan, seperti bentuk mutiara yang tidak sempurna.
Baru pada tahun 1913 ia akhirnya berhasil menciptakan mutiara bulat sempurna, yang mampu bersaing dengan mutiara alami.
Baca juga: Bukan Berlian, Mutiara Justru Jadi Lambang Kekayaan Bangsa Romawi
Keberhasilan Mikimoto tersebut membuatnya menerima 17 paten terkait teknik budidaya mutiara, termasuk metode modern untuk merangsang produksi nacre.
Inovasi seperti ini dikemudian hari akan mendorong sebuah perubahan besar terhadap budidaya mutiara. Selain inovasi teknis, Mikimoto mampu memperluas cakupan pengaruhnya ke beberapa lokasi di Jepang, bahkan hingga luar negeri seperti Hawaii.
Ia juga turut berperan dalam perlindungan lingkungan budidaya, seperti menciptakan kandang khusus untuk mencegah serangan predator.
Baca juga: Penelitian Berhasil Temukan Mutiara Abu Dhabi yang Berusia Sekitar 8.000 Tahun
Dalam setahun, peternakan Mikimoto bisa menghasilkan lebih dari satu juta mutiara dengan kualitas yang mumpuni. Di peternakannya mutiara yang tidak memenuhi standar akan dihancurkan demi menjaga standar produksi perusahaan.
Budidaya mutiara ini juga banyak melibatkan perempuan lokal yang dikenal sebagai "ama". Mereka ini adalah para penyelam tradisional dari wilayah Shima.
Para ama, yang sebagian besar berusia muda, memiliki keahlian luar biasa dalam menyelam, bahkan hingga tiga menit tanpa alat bantu pernapasan.
Mereka memainkan peran penting dalam memanen tiram dari kedalaman laut, sementara pekerjaan pemrosesan dilakukan oleh para pria.
Baca juga: Mutiara Alami Tertua Berusia 8.000 Tahun Ditemukan
Pada masa sekarang peminat pekerjaan ama ini semakin berkurang dan para pelakunya sekarang sudah berusia cukup tua.
Kesuksesan Mikimoto tidak hanya memengaruhi Jepang saja tetap berdampak besar pada industri perhiasan global. Mutiara budidaya tidak hanya seindah mutiara alami tetapi juga lebih terjangkau dan bisa diproduksi dalam jumlah besar.
Melalui inovasi dan pengaruhnya yang sampai ke dunia internasional, tak ayal Mikimoto sendiri disebut sebagai "Raja Mutiara" karena keberhasilannya mengubah mutiara menjadi simbol kemewahan yang terjangkau.
Hingga kini, warisan Mikimoto masih bisa dilihat hingga sekarang sebagai bukti bagaimana inovasi dan ketekunannya mampu mengubah industri secara mendalam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Scientific American