Gambaran Museum Parasati di Jakarta (Youtube/endanesia)
INDOZONE.ID - Bayangkan kamu melangkah perlahan masuk ke Museum Taman Prasasti, Jakarta. Suasana hening, angin berdesir di antara pepohonan, dan aroma sejarah yang pekat seolah menyambut setiap langkah.
Di sini, setiap nisan bukan sekadar batu, tetapi saksi bisu dari cerita masa lalu—termasuk kisah misterius tentang Freemason, organisasi persaudaraan rahasia yang pernah aktif di Batavia.
Langkah pertama melalui ke gerbang utama. Pahatan aneh menarik perhatian: jangka dan busur derajat, simbol klasik Freemason yang sarat makna. Kompas dan square ini bukan sekadar ornamen—mereka adalah petunjuk moral, simbol batasan diri, dan keseimbangan yang dipercaya anggota organisasi ini.
Jejak Freemason di Batavia dimulai sejak abad ke-18. Seorang tokoh bernama J.C.M. Radermacher mendirikan Loji pertama, dan dari sini jaringan tersembunyi mulai terbentuk. Para anggota—pejabat tinggi, pengusaha, dan intelektual Eropa—menjalin pertemuan di balik pintu tertutup, membentuk lingkaran yang tak terlihat bagi masyarakat biasa.
Baca juga: Misteri Jejak Freemason di Kota Malang: Rahasia di Balik Keindahan Tata Kota yang Simetris
Seolah membayangkan bayangan mereka melangkah di jalanan Batavia, membicarakan ide-ide dan rencana yang hanya dimengerti oleh sesama anggota.
Melangkah lebih jauh, terlihat beberapa nisan-nisan dengan lambang Masonik. Beberapa milik tokoh kolonial yang benar-benar anggota Freemason. Ada sesuatu yang menegangkan melihat simbol itu—seolah mereka meninggalkan tanda rahasia bagi siapa saja yang mau membaca sejarah dengan mata hati.
Ada kombinasi antara rasa hormat, misteri, dan sedikit rasa ingin tahu yang tak terjawab.
Kompleks ini dulunya dikenal sebagai Kebon Jahe Kober, dibangun tahun 1795 untuk menggantikan pemakaman kota Batavia yang padat. Waktu seolah bergerak mundur ketika saya membayangkan kereta kuda melewati jalanan berbatu, para penggali kubur bekerja, dan keluarga yang berduka menaburkan doa di sekitar makam yang masih baru.
Baca juga: Misteri Kematian Kartini, Diduga Dibunuh karena Berhubungan dengan Freemason
Sejak 1977, tempat ini resmi menjadi museum terbuka. Gubernur Ali Sadikin membuka gerbang sejarah agar setiap pengunjung bisa menapaki masa lalu. Namun, ada aura lain di sini, aura rahasia yang masih tersisa dari era Freemason—seolah mereka meninggalkan pesan terselubung bagi siapa pun yang ingin menelusuri jejak mereka.
Menelusuri setiap lorong dan setiap nisan, saya menyadari bahwa Taman Prasasti bukan hanya tentang tokoh kolonial atau sejarah kematian. Ini adalah labirin waktu, di mana simbol, filosofi, dan misteri bersatu.
Taman Prasasti bukan hanya saksi bisu sejarah Jakarta, tetapi juga pintu ke dunia tersembunyi Freemason yang pernah membentuk sebagian wajah Batavia.
Bagi mereka yang ingin menguak sejarah dengan mata penasaran, museum ini adalah undangan untuk menyelidiki—dan mungkin, menemukan rahasia yang masih tersimpan di antara pahatan batu dan bisikan angin.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram