Ilustrasi umat Hindu bersembahyang saat Hari Raya Nyepi (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)
INDOZONE.ID - Hanya terpaut dua hari sebelum perayaan Idulfitri, umat Hindu di Indonesia akan lebih dulu menyambut kesucian Hari Raya Nyepi.
Mungkin sebagian dari kamu penasaran, bagaimana sebenarnya rangkaian ibadah yang dijalani umat Hindu saat Nyepi?
Melansir laman resmi Pemkab Buleleng, Nyepi merupakan perayaan Tahun Baru Saka yang dimaknai sebagai momentum sakral untuk penyucian diri sekaligus harmonisasi kembali antara manusia dengan alam semesta.
Lebih lanjut, berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri Nomor 1017 Tahun 2024, Nomor 2 Tahun 2024, dan Nomor 2 Tahun 2024 tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2026, Nyepi tahun ini jatuh pada Kamus, 19 Maret 2026. Tanggal tersebut digolongkan sebagai hari libur nasional.
Baca juga: Mengungkap Sejarah dan Makna Hari Raya Nyepi
Adapun sehari sebelumnya, yakni 18 Maret, dijadikan cuti bersama. Sebagai bangsa yang bangga akan keberagamannya, kamu perlu mencari tahu terkait tradisi-tradisi seputar Nyepi.
Lantas, seperti apa tradisi Hari Raya Nyepi umat Hindu? Simak penjelasannya di bawah ini!
Dilansir dari laman resmi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, terdapat beberapa kegiatan sebelum dan sesudah Nyepi. Penjelasan ringkas masing-masing kegiatannya adalah sebagai berikut:
Upacara Melasti, atau yang dalam beberapa tradisi lokal dikenal dengan istilah Mekiyis, adalah prosesi pembersihan besar-besaran sebelum memasuki hari keheningan Nyepi.
Berdasarkan kajian dalam jurnal Upacara Melasti dan Simbolisme Dewa Cili, inti dari ritual ini adalah perjalanan suci menuju sumber air sebagai simbol keabadian.
Di sanalah umat Hindu melakukan penyucian terhadap pratima (simbol dewa) serta pralingga (perangkat suci), guna menghanyutkan segala kotoran spiritual dan memohon anugerah pembersihan bagi alam semesta.
Sehari sebelum Nyepi, masyarakat Hindu menggelar Tawur Agung Kesanga atau Mecaru, sebuah ritual pembersihan alam dan diri dari pengaruh negatif.
Tradisi ini identik dengan kehadiran ogoh-ogoh yang melambangkan keburukan manusia.
Sebagai penutup rangkaian acara, patung raksasa ini akan dibakar untuk menyimbolkan pemusnahan sifat jahat, sesuai dengan tuntunan yang dijelaskan oleh pihak Kementerian Agama Kabupaten Klungkung.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Pemkab Buleleng