Ilustrasi Prosesi Kurultai (Sumber: Netflix)
INDOZONE.ID - Pada season 2 serial Marco Polo (2014), penonton diperlihatkan konflik besar antara Kublai Khan dan sepupunya, Kaidu, yang menjadi salah satu inti cerita. Konflik ini tidak muncul begitu saja, melainkan berasal dari perbedaan prinsip, ambisi politik, dan perebutan legitimasi kekuasaan dalam Kekaisaran Mongol pasca wafatnya Genghis Khan.
Kaidu menilai bahwa Kublai telah menyimpang dari tradisi leluhur Mongol. Menurutnya, Kublai terlalu dekat dengan bangsa dan budaya asing terutama budaya Tiongkok, serta lebih banyak tinggal di wilayah selatan kekaisaran. Baginya, hal ini menunjukkan bahwa Kublai telah meninggalkan identitas asli bangsa Mongol yang nomaden dan keras.
Selain itu, Kaidu juga mempertanyakan keabsahan kekhanan Kublai. Ia menuding bahwa kurultai yang menetapkan Kublai sebagai Khan Agung diadakan di wilayah China Utara, yang secara strategis membuat para pendukung Ariq Boke (kakak Kublai dan pesaing utama) tidak bisa hadir. Kaidu menilai langkah itu dilakukan untuk mencurangi proses pemilihan Khan demi merebut kekuasaan dari saudara sendiri.
Baca juga: Genghis Khan Pemimpin Mongol, Sang Penakluk yang Brutal
Ketegangan semakin meningkat hingga akhirnya Kaidu menantang Kublai untuk mengadakan kurultai baru, sebagai ajang penentuan siapa yang lebih layak menjadi Khan Agung Mongol. Kedua pihak pun mempersiapkan dukungan politik dari berbagai klan asli Mongol.
Kurultai adalah sidang pemilihan pemimpin tertinggi pada masa Kekaisaran Mongol. Dalam tradisi Mongol, hanya para kepala suku asli (noyan) yang memiliki hak suara dalam kurultai. Fungsi utamanya adalah memilih Khan Agung, pemimpin tertinggi seluruh kekaisaran.
Beberapa poin penting tentang kurultai:
Yang dapat memberikan suara hanyalah para kepala suku Mongol asli, termasuk para komandan, bangsawan, dan pemimpin klan keturunan Genghis Khan.
Hanya mereka yang memiliki garis keturunan langsung dari Genghis Khan yang dapat dicalonkan. Dalam cerita, baik Kublai maupun Kaidu merupakan cucu-cicit Genghis melalui garis keluarga yang berbeda, sehingga keduanya berhak maju sebagai kandidat.
Jika ada dua keturunan yang sama-sama mengklaim tahta, kurultai menjadi ajang penentu final. Karena itulah Kaidu menantang Kublai untuk kurultai baru agar status kepemimpinan bisa diputuskan secara sah.
Sebelum hari pemilihan, kedua kandidat biasanya akan:
Semua ini bertujuan mencari dukungan politik dan menunjukkan kapasitas mereka sebagai calon pemimpin.
Baca juga: Mengungkap Sejarah Invasi Bangsa Mongol di Nusantara
Pada hari pemilihan:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Worldhistory.org