Jumat, 25 APRIL 2025 • 16:10 WIB

Olo: Warna Baru yang Tak Pernah Ada di Dunia, Hanya Bisa Dilihat dengan Teknologi Canggih

Author

Olo, warna baru yang ditemukan para ilmuwan UC Berkeley.

INDOZONE.ID - Sekelompok ilmuwan dari University of California, UC Berkeley, telah menemukan warna baru yang tidak pernah ada di alam, dinamakan "olo". Hingga saat ini, hanya ada lima orang yang pernah melihat warna baru tersebut.

Olo digambarkan sebagai warna biru kehijauan yang cerah, tidak seperti apa pun yang dapat dilihat oleh mata kamu sendiri.

Untuk bisa melihatnya, kamu memerlukan sistem berteknologi tinggi yang menstimulasi retina dengan cara yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Sistem yang disebut "Oz" ini memungkinkan para peneliti mengendalikan bagaimana cahaya mengenai sel kerucut di mata, sel demi sel.

Itu berarti mereka dapat mengirim pesan ke otak yang tidak pernah dimaksudkan oleh alam, membuka pintu ke dunia persepsi warna yang sebelumnya tidak ada.

Baca Juga: Kisah Mistis Desa Karuhun yang Muncul Tiap 33 Tahun Sekali: antara Mitos, Kutukan, dan Dimensi Lain

Bagaimana Oz Menghidupkan Olo?

Sistem Oz dinamai sebagai penghormatan kepada dunia berwarna hijau di Emerald City. Seperti perjalanan Dorothy, proyek ini mengungkap realitas tersembunyi, yang hanya sedikit orang yang menduga akan menemukannya.

Dikembangkan oleh para peneliti di UC Berkeley dan University of Washington, Oz tidak menggunakan sihir tetapi laser dan pelacakan waktu nyata.

Untuk memulainya, para ilmuwan memetakan retina setiap peserta menggunakan adaptive optics optical coherence tomography (AO-OCT). Teknologi ini membantu mereka mengidentifikasi sel kerucut mana yang L, M, atau S.

Tata letak retina setiap orang bersifat unik, jadi pemetaan sangat penting. Setelah dipetakan, sistem Oz menggunakan adaptive optics scanning light ophthalmoscopy (AOSLO) untuk mengarahkan laser dengan panjang gelombang tampak ke sel kerucut individual, sekaligus melacak gerakan mata alami.

Ini tidak mudah. ​​Mata selalu bergerak, bahkan selama penglihatan terfokus. Oz harus menembakkan ribuan denyut laser per detik, menyesuaikan gerakan secara langsung. Jika dilakukan dengan benar, maka orang tersebut bisa melihat olo. Jika laser meleset, bahkan hanya beberapa mikron, mereka hanya akan melihat cahaya hijau biasa.

"Katakanlah kamu menjalani hidup dan hanya melihat warna merah muda pastel. Dan kemudian suatu hari kamu melihat sesuatu yang sangat jenuh, yang mendefinisikan ulang apa itu warna merah muda. Itulah yang terjadi ketika kami melihat olo," jelas Profesor Ren Ng dari UC Berkeley, seperti dilansir The Brighter Side, Jumat (25/4/2025).

Baca Juga: Ilmuwan Temukan Spongebob & Patrick Versi Nyata, Ceritanya Nggak Seimut di Kartun!

Lebih dari Sekedar Warna Baru

Selain sensasi menemukan warna baru, sistem Oz menawarkan alat yang hebat bagi sains. Sistem ini memungkinkan peneliti mempelajari cara kerja penglihatan pada tingkat detail baru, mengendalikan dan mengamati respons dari sel kerucut individual.

"Kami awalnya memulai proyek ini secara khusus untuk mempelajari stimulasi kerucut M. Namun, kami segera menyadari bahwa teknologi dasar yang dibutuhkan akan sangat berguna untuk mempelajari fungsi visual pada tingkat skala dan presisi yang baru," kata salah satu penulis pertama James Fong, seorang mahasiswa PhD dalam ilmu komputer di Berkeley.

Implikasinya jauh melampaui penemuan warna baru. Dengan mengendalikan pola stimulasi secara tepat, Oz dapat membantu mensimulasikan penglihatan orang dengan kondisi mata yang berbeda, seperti buta warna atau degenerasi retina. Bahkan dapat mengeksplorasi bagaimana jenis kerucut keempat, sesuatu yang ditemukan pada individu tetrakromatik yang langka dapat bekerja.

Fong mencatat bahwa memperkenalkan otak pada pola rangsangan yang tidak dikenal, secara teori, dapat mengajarkan orang dengan buta warna untuk melihat dimensi warna yang baru.

"Mungkin saja orang ini akan belajar melihat dimensi warna yang baru," tambahnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: The Brighter Side

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU