INDOZONE.ID - Iles-iles itu tanaman umbi yang sering tak dikenal banyak orang, sebenarnya menyimpan potensi besar yang belum banyak digali.
Sekilas ia mirip dengan suweg, tapi kalau diperhatikan lebih dekat, perbedaannya cukup mencolok terutama pada warna umbinya yang kuning cerah dan kandungan patinya yang didominasi oleh mannan.
Mannan itu sebenernya jenis karbohidrat, bentuknya rantai panjang dari gula-gula kecil, khususnya gula yang namanya mannosa. Di tumbuhan, mannan ini biasanya jadi cadangan makanan, banyak ditemuin di umbi atau biji.
Nah, kalau di iles-iles, mannan ini jadi bahan utama dari patinya. Beda sama kentang atau nasi yang patinya dari amilum. Karena itu juga, tekstur iles-iles agak beda dan justru jadi nilai plus.
Baca Juga: Kisah Mistis Pasar Bubrah Gunung Merapi: Pusat Jualan Para Makhluk Halus!
Soalnya mannan bisa diproses jadi tepung glukomanan yang punya banyak manfaat, bisa buat makanan diet karena tinggi serat, bahan kapsul obat, lem yang ramah lingkungan, sampe bahan buat kosmetik juga bisa.
Lumayan banget kan? Umbi ini tumbuh sendiri, tak membentuk anakan, dan selalu tersembunyi di balik permukaan tanah, seolah menyimpan rahasia dalam diam.
Tanaman ini punya siklus tahunan yang menarik. Dalam satu tahun, ia akan tumbuh daun-daun bercabang seperti pohon mini, lalu tiba-tiba seluruh bagiannya akan layu saat memasuki fase berbunga.
Pada fase vegetatif, daun-daunnya tampak seperti tumbuhan biasa, menjulang dengan batang semu yang sebenarnya cuma tangkai daun utama. Tangkainya halus saat disentuh, kadang hijau polos, kadang belang putih-hitam seperti ular yang menyamar.
Baca Juga: Mengenal Ritual Manten Tebu: Tradisi Upacara di Pabrik Gula Sebelum Masa Giling Tiba
Pada titik-titik tertentu, akan muncul tonjolan kecil berwarna cokelat kehitaman yang disebut bulbil ,alat perkembangbiakan vegetatif yang juga menjadi ciri khas iles-iles, pembeda utamanya dari si suweg yang lebih populer. Kalau energi di dalam umbi sudah cukup, tanaman ini akan berbunga.
Tapi sebelum bunganya nongol, semua daun sama tangkainya udah keburu layu duluan. Bunganya sendiri lumayan nyentrik. Bentuknya mirip bunga talas, ada tongkol panjang yang dibungkus kayak selimut bunga.
Pas mekar, baunya bukan wangi malah kayak bau bangkai. Tapi justru bau itu yang bikin lalat-lalat pada datang buat bantuin proses kawin si bunga.
Mekarnya juga nggak lama, paling cuma tiga harian, tapi itu momen paling penting buat si iles-iles dalam setahun hidupnya. Meski belum dibudidayakan secara luas, iles-iles sebenarnya punya daya hidup luar biasa.
Tanaman ini bisa ditemuin hampir di mana aja. bisa di pinggir hutan jati, bawah-bawah rumpun bambu, pinggiran sungai, sampai nyempil di semak liar di pekarangan rumah.
Dari dataran rendah sampe ketinggian seribu meter di atas laut pun dia masih kuat hidup, asal suhu nggak lewat-lewat banget dari 35 derajat. Soalnya kalau kepanasan, daunnya bisa terbakar.
Kalau terlalu dingin, ia memilih tidur, masuk fase dormansi sampai waktu tumbuhnya kembali. Tanaman ini lebih senang berada di tempat teduh, butuh naungan sekitar 50-60% untuk hasil umbi yang optimal.
Ia suka tanah yang ringan dan gembur, kaya akan humus dan unsur hara. Tanah yang teksturnya agak liat tapi ada pasirnya tuh jadi tempat favorit buat si iles-iles.
Asal airnya ngalir lancar dan pH tanahnya nggak terlalu asam atau basa sekitar 6 sampai 7,5. dia udah bisa tumbuh dengan senang hati.
Nggak heran kalau tanaman ini gampang ditemuin di berbagai tempat di Indonesia, apalagi di Jawa yang emang jadi habitat alami banyak tanaman berguna kayak gini.
Sayangnya, iles-iles masih sering dipandang sebelah mata. Padahal, selain kandungan mannan yang menjanjikan untuk industri pangan dan kesehatan, keunikan bentuk dan siklus hidupnya juga punya nilai edukasi yang tinggi.
Ia bukan cuma tanaman liar, tapi bisa jadi salah satu potensi besar dari alam yang menunggu dijemput. Dan mungkin, jika lebih banyak orang mengenalnya, iles-iles tak akan lagi jadi si bunga bangkai yang dilupakan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan