Sabtu, 25 JULI 2026 • 18:54 WIB

Penemuan Baru di Trowulan Bongkar Misteri Tata Kota Majapahit yang Hilang Berabad-abad

Author

Peninggalan Majapahit di Trowulan (Brin)

INDOZONE.ID - Upaya mengungkap sejarah ibu kota Kerajaan Majapahit di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, memerlukan pendekatan lintas disiplin agar menghasilkan rekonstruksi sejarah yang lebih utuh sekaligus mendukung pelestarian kawasan cagar budaya. 

Pendekatan ini dianggap penting karena kompleksitas perkembangan Kota Majapahit tidak dapat dipahami hanya melalui kajian arkeologi semata.

Kepala Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah (PRAPS) BRIN, Irfan Mahmud, menjelaskan bahwa penelitian Majapahit perlu melibatkan berbagai bidang ilmu, mulai dari geologi, geografi, arsitektur, ilmu lingkungan, teknologi digital, penginderaan jauh, hingga kecerdasan artifisial.

Dalam Webinar Forum Kebhinnekaan Seri #37 bertajuk Wawasan Baru di Metropolitan Majapahit pada Selasa (15/7), Irfan menyebut Majapahit sebagai memori kolektif bangsa yang merekam perjalanan politik, ekonomi, teknologi, tata kota, serta interaksi budaya di Nusantara.

Ia mengungkapkan bahwa proyek Indonesian Field of Archaeology di Trowulan pada dekade 1990-an telah menghasilkan data arkeologi yang sangat kaya. Namun, masih banyak aspek yang belum terungkap, seperti batas wilayah kota, pola permukiman, sistem pengelolaan air, jaringan jalan, kawasan industri, hingga lanskap budaya Majapahit.

Baca juga: Silsilah Kerajaan Majapahit dan Jejak Historis Peninggalan Kerajaan di Nusantara

Menurut Irfan, pelestarian kawasan Majapahit membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. BRIN, Kementerian Kebudayaan, Balai Pelestarian Kebudayaan, Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), perguruan tinggi, pemerintah daerah, serta pemangku kepentingan lainnya perlu bekerja sama agar penelitian dan upaya pelestarian dapat berjalan beriringan.

Senada dengan itu, Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (Arbastra) BRIN, Hery Jogaswara, menilai forum ilmiah memiliki peran strategis dalam menyebarluaskan hasil penelitian sekaligus memperkuat kolaborasi antarlembaga.

Hery mengatakan kerja sama antara BRIN dan Kementerian Kebudayaan terus diperkuat melalui nota kesepahaman yang mencakup penelitian, pemanfaatan infrastruktur riset, serta pengelolaan koleksi arkeologi. Sebagai tindak lanjut, kedua institusi telah membentuk tim bersama untuk mendukung pemanfaatan koleksi arkeologi bagi kepentingan pelestarian budaya.

Selain itu, BRIN juga terus berkoordinasi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan dalam mendukung kegiatan ekskavasi di kawasan Majapahit dan menyiapkan program penelitian jangka panjang di Situs Liangan, Jawa Tengah. 

Baca juga: Tragedi Perang Bubat: Acara Pernikahan Menjadi Perang Sunda-Majapahit yang Masih Diragukan Sejarahwan

Hery menegaskan bahwa perkembangan penelitian di berbagai situs arkeologi, termasuk Sentonorejo, perlu terus disampaikan kepada masyarakat berdasarkan temuan ilmiah agar pemahaman terhadap nilai warisan budaya Indonesia semakin kuat.

Kawasan Kota Majapahit Diperkirakan Mencapai 10 x 10 Kilometer

Dalam webinar tersebut, Peneliti PRAPS BRIN, Yusmaini Aryawati, memaparkan bahwa berdasarkan sebaran tinggalan arkeologis, luas kawasan Kota Majapahit di Trowulan diperkirakan mencapai sekitar 10 x 10 kilometer persegi yang mencakup sejumlah desa dan kecamatan di Kabupaten Mojokerto.

Yusmaini menjelaskan bahwa kawasan Trowulan telah dihuni jauh sebelum berdirinya Kerajaan Majapahit. Bukti permukiman berasal dari abad ke-10 Masehi pada masa Mataram Kuno, berlanjut pada era Singhasari, hingga mencapai puncak perkembangannya pada masa Majapahit.

Data arkeologi menunjukkan adanya pola permukiman perkotaan yang terbagi dalam beberapa klaster, antara lain Sentonorejo, Segaran, Pendopo Agung, Nglinguk, Grogol, Pakis, dan Puri.

Menurutnya, Sentonorejo diduga menjadi kawasan elite yang dihuni raja dan kalangan bangsawan serta dilengkapi kawasan sakral berupa Pamerajan Agung milik istana. Sementara itu, di Nglinguk Wetan, tim peneliti menemukan kembali 63 sumur kuno dengan bentuk, ukuran, dan teknik konstruksi yang beragam. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat Majapahit telah memiliki sistem penyediaan air bersih yang cukup maju.

Peneliti PRAPS BRIN, Sugeng Riyanto, menambahkan bahwa karakter permukiman Majapahit di Trowulan diduga merupakan kelanjutan dari masa Singhasari. Hal itu didasarkan pada fakta bahwa Singhasari dan Majapahit berasal dari garis keturunan yang sama, yakni Wangsa Rajasa, yang bermula sejak Ken Arok menaklukkan Kerajaan Kediri pada 1222 Masehi.

Baca juga: Raden Wijaya: Pendiri Kerajaan Majapahit dan Pahlawan Nusantara yang Jadi Lambang Universitas Brawijaya

Sementara itu, Muhammad Ichwan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur memaparkan berbagai langkah pelestarian di Situs Bhre Kahuripan, mulai dari inventarisasi, ekskavasi, penetapan zonasi, konservasi berkala, hingga penempatan juru pelihara untuk menjaga kelestarian situs.

Melalui forum tersebut, BRIN berharap kolaborasi lintas disiplin terus memperkaya penelitian mengenai Majapahit. Hasil riset terbaru diharapkan mampu menghasilkan rekonstruksi sejarah perkotaan Majapahit yang lebih komprehensif sekaligus memperkuat upaya pelestarian salah satu warisan budaya paling penting di Indonesia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: BRIN

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU