INDOZONE.ID - Sulit membayangkan dunia tanpa bunga. Namun, peran tumbuhan berbunga ternyata jauh melampaui mempercantik alam atau menghasilkan buah.
Menurut ahli biologi David George Haskell, tumbuhan berbunga merupakan "pencipta dunia" karena membantu membentuk ekosistem, mendorong evolusi berbagai spesies, dan menopang kehidupan di Bumi sejak pertama kali berevolusi lebih dari 130 juta tahun lalu.
Dalam wawancara bersama Yale Environment 360, Haskell menjelaskan bahwa manusia juga berkembang bersama tumbuhan berbunga. Karena itu, menjaga keberadaannya bukan hanya penting bagi alam, tetapi juga bagi masa depan kita.
1. Memicu ledakan keanekaragaman hayati
Menurut Haskell, kemunculan tumbuhan berbunga memicu "ledakan" keanekaragaman hayati dan produktivitas ekologi.
Baca juga: Gajah Ini Memburu Satu Keluarga Manusia Selama 14 Tahun
Melalui warna, aroma, nektar, dan serbuk sari, tumbuhan berbunga membangun hubungan baru dengan hewan penyerbuk sehingga proses reproduksi menjadi jauh lebih efisien.
Hubungan inilah yang kemudian membantu membentuk ekosistem yang menopang kehidupan berbagai makhluk hidup, termasuk manusia.
2. Mendorong evolusi banyak spesies
Kemunculan tumbuhan berbunga membuka sumber makanan baru bagi berbagai hewan.
Haskell menjelaskan bahwa peluang tersebut mendorong evolusi banyak kelompok hewan, termasuk lebah dan kupu-kupu, yang kemudian berkembang bersama tumbuhan berbunga.
Tanpa hubungan ini, banyak proses penyerbukan yang menopang berbagai tumbuhan tidak akan berlangsung seperti sekarang.
Baca juga: Bukannya Mengalir, Cairan Ini Malah Retak dan Bikin Ilmuwan Mengkaji Ulang Teori Lama
3. Membentuk ekosistem baru
Menurut Haskell, hutan hujan, padang rumput, dan sabana merupakan contoh ekosistem yang berkembang setelah tumbuhan berbunga berevolusi.
Ekosistem-ekosistem ini kemudian menjadi tempat hidup bagi banyak spesies lain sekaligus menyediakan berbagai sumber daya yang dimanfaatkan manusia.
4. Terus berevolusi bersama hewan
Hubungan antara bunga dan hewan terus berkembang melalui proses yang dikenal sebagai koevolusi.
Salah satu contohnya adalah anggrek yang bentuk atau aromanya berevolusi agar sesuai dengan penyerbuk tertentu. Bahkan, beberapa anggrek meniru bentuk dan aroma tawon betina sehingga menarik tawon jantan untuk membantu penyerbukan.
Baca juga: Gelombang Panas di Eropa Tak Kunjung Berakhir, 2 Pola Atmosfer Diduga Berkaitan dengan Fenomena Ini
5. Rumput berbunga menjadi sumber pangan manusia
Rumput juga merupakan tumbuhan berbunga. Haskell menjelaskan bahwa kemampuannya bertahan setelah kebakaran maupun dimakan hewan membuat padang rumput menyebar luas.
Seiring penyebarannya, berbagai mamalia berevolusi dengan kemampuan merumput dan memanfaatkan habitat tersebut. Tak hanya itu, kelompok rumput berbunga juga menghasilkan tanaman seperti padi, gandum, jagung, dan oat yang, menurut Haskell, menjadi sumber pangan utama manusia.
6. Ada tumbuhan berbunga yang kembali hidup di laut
Lamun merupakan tumbuhan berbunga yang berevolusi dari daratan lalu kembali hidup di laut. Hamparan lamun membantu menstabilkan garis pantai, menyimpan karbon dalam sedimen, serta menjadi tempat berlindung dan berkembang biak bagi berbagai ikan dan hewan laut. Karena itu, lamun berperan penting dalam menjaga kesehatan ekosistem pesisir.
Baca juga: 4 Fakta Unik Seputar Hidung Sapi, Ternyata Mirip Sidik Jari Manusia
7. Keanekaragamannya penting untuk menghadapi perubahan iklim
Menurut Haskell, perubahan iklim dan hilangnya habitat membuat pelestarian keanekaragaman genetik tumbuhan berbunga menjadi semakin penting.
Ia menilai pertanian yang memanfaatkan beragam jenis dan varietas tanaman, bukan hanya satu jenis tanaman dalam skala besar, akan lebih tangguh menghadapi hama maupun perubahan lingkungan.
Penggunaan tanaman lokal di taman dan ruang hijau juga dapat membantu menjaga ketahanan tumbuhan di masa depan.
Bagi Haskell, melindungi tumbuhan berbunga bukan sekadar menjaga keindahan alam. Keanekaragaman tumbuhan inilah yang membantu menopang kehidupan di Bumi, termasuk kehidupan manusia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: E360.yale.edu