INDOZONE.ID - Selama ini, ilmuwan menganggap cairan sederhana (simple liquid), yaitu cairan yang hampir tidak memiliki sifat elastis, akan terus mengalir ketika ditarik atau diberi tekanan.
Sebaliknya, retakan selama ini diketahui terjadi pada cairan yang memiliki sifat elastis sehingga dalam kondisi tertentu dapat berperilaku seperti benda padat.
Namun, beberapa tahun lalu, Thamires Lima, peneliti teknik kimia di Drexel University, mendengar bunyi "krek" saat menguji campuran hidrokarbon kental di laboratorium.
Awalnya ia mengira suara itu berasal dari alat uji. Ternyata, bunyi tersebut berasal dari cairan yang sedang ditarik. Alih-alih terus meregang, cairan itu justru retak.
Baca juga: Video Viral: Kenapa Pusaran Angin Kecil 'Dust Devil' di Yaman Seolah 'Menghindar' Saat Disiram Air?
Temuan inilah yang membuat ilmuwan kembali mengkaji dugaan bahwa elastisitas merupakan syarat agar cairan dapat retak. Hasilnya dilaporkan dalam jurnal Physical Review Letters edisi Maret 2026.
Berawal dari bunyi "krek"
Untuk memastikan hasil itu bukan kebetulan, tim peneliti mengulang percobaan berkali-kali dan hasilnya selalu sama.
Rekaman kamera berkecepatan tinggi menunjukkan cairan mengalami brittle fracture, yaitu jenis retakan yang biasanya terjadi pada kaca atau porselen.
Mengapa mengejutkan?
Selama ini, retakan diketahui dapat terjadi pada cairan elastis, seperti lelehan polimer. Cairan semacam ini masih mampu menyimpan sebagian energi saat diregangkan sehingga dalam kondisi tertentu dapat retak.
Baca juga: 6 Fakta Luar Angkasa yang Bikin Takjub, Ada Mobil Tesla Masih Melayang!
Sebaliknya, cairan sederhana hampir tidak memiliki sifat elastis. Karena itu, para ilmuwan selama ini memperkirakan cairan seperti ini akan mengalir, bukan retak.
Apa penyebabnya?
Temuan tersebut membuat peneliti mempertimbangkan kembali gagasan lama yang pernah diajukan insinyur Daniel D. Joseph pada 1990-an, yaitu bahwa cairan apa pun mungkin dapat retak jika menerima gaya tarik yang cukup besar.
Salah satu dugaan adalah penyebabnya bukan semata-mata karena sifat elastis, melainkan gaya tarik antarmolekul yang menjaga cairan tetap menyatu.
Saat gaya tersebut terganggu, dapat terbentuk gelembung-gelembung kecil. Jika terbentuk sangat cepat dalam jumlah banyak, gelembung ini diduga dapat memicu retakan. Namun, dugaan ini masih perlu dibuktikan melalui penelitian lebih lanjut.
Baca juga: 5 Fenomena Langit Juli 2026 yang Bikin Penasaran, Catat Tanggalnya!
Retaknya jauh lebih cepat
Peneliti juga menemukan bahwa retakan pada cairan sederhana merambat jauh lebih cepat dibandingkan pada cairan elastis.
Pada penelitian sebelumnya, retakan pada lelehan polistirena bergerak sekitar 0,07 meter per detik. Sementara pada cairan sederhana yang diteliti kali ini, kecepatannya mencapai sekitar 500 hingga 1.500 meter per detik.
Menurut peneliti, hal ini kemungkinan karena cairan sederhana hampir tidak memiliki struktur yang dapat menyerap energi, sehingga retakan dapat menyebar jauh lebih cepat.
Membuka pertanyaan baru
Temuan ini berpotensi membantu pengembangan berbagai teknologi, mulai dari pembuatan serat, pencetakan inkjet, robot lunak, hingga perlindungan terhadap cedera otak.
Baca juga: Spesies Baru Larva Lalat Ini Berburu dengan Jebakan Pasir, Mirip Undur-undur
Namun, bagi para peneliti, hal yang paling menarik justru pertanyaan yang muncul setelahnya. Jika cairan sederhana ternyata juga bisa retak, mungkin pemahaman tentang bagaimana cairan bisa pecah selama ini masih belum lengkap.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Quantamagazine.org