Kamis, 25 JUNI 2026 • 14:30 WIB

Kekayaan Alam Maluku Bertambah! Burung Kipasan Ceria Merupakan Spesies Baru di Tahun 2026

Author

Spesies baru burung kipasan ceria (Rhipidura laguceria). (James A. Eaton / Bulletin of the British Ornithologists’ Club, 2026.)

INDOZONE.ID - Kekayaan alam Indonesia memang tidak ada habisnya buat dikulik. Baru-baru ini, para ilmuwan berhasil mengidentifikasi seekor burung berkicau berukuran kecil dari Kepulauan Babar, Maluku, sebagai spesies baru. Uniknya, burung ini berhasil "menipu" para ahli selama 120 tahun lebih karena penampilannya yang mirip banget dengan kerabat dekatnya.

Spesies baru yang menggemaskan ini resmi diberi nama burung kipasan ceria (Rhipidura laguceria). Sebelum sah jadi spesies sendiri, burung ini dikira sama persis dengan burung kipasan ekor-kayu manis yang tinggal di Kepulauan Tanimbar, wilayah yang berjarak sekitar 135 kilometer di sebelah timur Pulau Babar.

Kisah Salah Sangka yang Berlangsung Berabad-abad

Burung kipasan ekor-kayu manis sendiri sebenarnya sudah terkenal di dunia sains sejak tahun 1883 lewat sampel yang diambil dari Kepulauan Tanimbar. Burung pemakan serangga ini punya ciri khas panjang tubuh sekitar 18 cm, warna bulu cokelat kayu manis yang cantik di bagian ekor dan bawah tubuh, serta hobi mengompakkan ekornya seperti kipas.

Nah, 15 tahun kemudian, para peneliti menemukan burung serupa di Pulau Babar. Pas diperiksa pada tahun 1901, para ilmuwan zaman dulu menyimpulkan kalau burung dari Babar dan Tanimbar adalah jenis yang sama. Anggapan ini terus bertahan dan tidak pernah diubah selama lebih dari 120 tahun.

"Dalam kurun waktu sekitar 120 tahun berikutnya, pandangan sains global selalu menganggap Rhipidura fuscorufa sebagai spesies tunggal yang tidak punya cabang lain," ungkap peneliti James Eaton dari Birdtour Asia Limited dan Alex Berryman dari BirdLife International.

Kecurigaan baru muncul pada tahun 2011 saat James Eaton berkunjung ke Pulau Babar. Dia menyadari ada yang aneh dengan suara kicauan burung kipasan di sana. Jiwa penelitinya pun bergetar, menduga kalau burung Babar ini adalah spesies berbeda yang belum pernah tercatat.

Baca juga: Spesies Keong Baru Ditemukan di Sumsel, Namanya Chamalycaeus Dayangmerindu

Rahasia Terbongkar: Fisik Mirip, tapi 'Bahasa Cintanya' Beda Jauh

Untuk membuktikannya, tim peneliti langsung memeriksa 19 spesimen museum di New York dan Inggris, sekaligus menganalisis 18 rekaman suara kicauan dari kedua pulau tersebut.

Secara fisik, bedanya memang tipis banget sampai bikin mata terkecoh. Burung kipasan dari Babar cuma punya warna punggung yang sedikit lebih gelap dan warna cokelat kayu manis di perut yang tidak seluas burung Tanimbar. Ukuran sayap, paruh, hingga kakinya pun mirip.

Tapi begitu mendengar rekamannya, ceritanya langsung berubah total.

  • Burung Kipasan Babar: Nyanyiannya berupa rangkaian siulan tunggal yang nadanya terus naik di bagian akhir.
  • Burung Kipasan Tanimbar: Kicauannya menggabungkan siulan super pendek dan panjang, bikin iramanya terdengar lebih teratur dengan nada yang naik-turun.

Eksperimen 'Cuek Bebek' yang Membuktikan Segalanya

Biar makin yakin, para ilmuwan melakukan eksperimen unik selama bertahun-tahun dengan memutar rekaman suara burung tersebut sebanyak 132 kali di kedua pulau.

Hasilnya sangat menggelitik, burung-burung di Pulau Babar cuma mau merespons dan menyahut kalau diputar rekaman suara dari pulau mereka sendiri. Begitu diputar suara burung dari Tanimbar, burung Babar langsung cuek bebek dan mengabaikannya. Hal yang sama terjadi sebaliknya di Tanimbar.

Hal ini membuktikan kalau perbedaan bahasa lagu mereka sudah menjadi benteng pemisah alami yang membuat kedua kelompok burung ini tidak mau saling kawin. Atas dasar itulah, burung kipasan Babar resmi dinobatkan sebagai spesies baru bernama Rhipidura laguceria.

Baca juga: Unik! Burung Pimpollo Punya Mata Merah Mirip 'Sharingan' di Dunia Nyata

Untungnya, Masih Aman dari Ancaman Kepunahan

Meskipun wilayah jelajah mereka jadi terasa lebih sempit setelah resmi dipisah menjadi dua spesies, kabar baiknya burung kipasan ceria dan kerabatnya ini masih masuk kategori Least Concern alias Kurang Terancam Punah dalam Daftar Merah IUCN.

Alasannya karena kedua burung ini punya tingkat adaptasi yang luar biasa. Berbeda dengan burung lain yang manja dan harus tinggal di dalam hutan perawan berkanopi rapat, duo burung kipasan ini justru hobi nongkrong di habitat yang sudah terdegradasi, seperti pinggiran hutan, lahan terbuka, semak belukar, hingga sekitaran pohon mangga dekat pemukiman.

Penemuan spesies baru yang eksotis asal Maluku ini telah resmi dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Bulletin of the British Ornithologists’ Club pada edisi Juni 2026. Keren banget ya, terbukti alam Indonesia masih menyimpan banyak misteri tersembunyi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU