Kamis, 25 JUNI 2026 • 13:42 WIB

Bak Keajaiban, Badai Besar Berhasil Bangkitkan 'Udang Dinosaurus' dan Lahan Basah yang Lama Mati di Hawaii

Author

Udang Dinosaurus di Hawaii (Kahoʻolawe Island Reserve Commission)

INDOZONE.ID - Air sering kali disebut sebagai sumber kehidupan. Tapi di tempat yang super gersang, datangnya air bisa memicu fenomena ajaib yang terasa seperti memutar kembali waktu ke zaman purba.

Dilansir dari Discover Magazine, sebuah badai besar yang menerjang Pulau Kahoʻolawe membawa kejutan yang sama sekali tidak disangka-sangka. Pulau tak berpenghuni yang terletak sekitar 10 kilometer dari Maui, Hawaii, ini mendadak menunjukkan tanda-tanda kehidupan prasejarah yang selama ini bersembunyi di balik tanah keringnya.

Tim restorasi lingkungan di pulau tersebut melaporkan kemunculan mengejutkan dari krustasea air tawar purba yang dijuluki "udang dinosaurus". Tak hanya itu, badai ini juga memancing kedatangan burung langka yang terancam punah serta menghidupkan kembali lahan basah yang sudah pulih dari kekeringan panjang.

Kahoʻolawe sendiri terkenal sebagai pulau paling kering di gugusan kepulauan utama Hawaii karena posisinya berada di area rain shadow Gunung Haleakalā. Curah hujan yang sangat minim membuat sebagian besar wilayah pulau ini tampak tandus dan mati.

Baca juga: Ilmuwan Temukan 14 Spesies Baru Udang, Salah Satunya Larva Lobster yang Mirip 'Alien'

Namun, satu hantaman badai bernama Kona low terbukti mampu mengubah nasib pulau ini dalam sekejap. Peristiwa langka ini menjadi bukti nyata betapa kuatnya hubungan antara air dan kehidupan.

“Orang-orang kini melihat Kahoʻolawe bukan lagi sekadar lokasi proyek restorasi biasa, melainkan sebuah sistem hidup yang merespons alam secara langsung dan nyata,” ungkap Ashley Razo, spesialis informasi publik di Kahoʻolawe Island Reserve Commission (KIRC).

Udang Purba, Burung Langka, dan Lahan Basah yang Bangkit dari Kubur

Kemunculan Udang Dinosaurus di Hawaii. (Dominik Tomaszewski/Wikimedia Commons)

Fenomena paling gila dari peristiwa ini adalah munculnya Triops longicaudatus alias si udang dinosaurus. Hewan air tawar berukuran mini ini sering disebut sebagai “fosil hidup” karena punya kemampuan bertahan hidup yang luar biasa. Telur-telur mereka bisa tidur pulas di dalam tanah danau yang kering kerontang selama bertahun-tahun, lalu baru akan menetas ketika mendeteksi datangnya air hujan.

Begitu badai reda, kolam-kolam air tawar sementara di area Lua ʻO Keālialalo langsung dipenuhi oleh kawanan udang purba ini. Kehadiran mereka menjadi tanda kalau lahan basah yang lama mati telah berfungsi kembali.

Kejutan tidak berhenti di situ. Petugas lapangan juga melihat kehadiran burung endemik asli Hawaii yang berstatus terancam punah, yaitu Hawaiian coot atau warga lokal menyebutnya ʻalae keʻokeʻo.

Burung dengan corak bulu hitam-putih ini sangat bergantung pada lahan basah air tawar untuk bertahan hidup. Kemunculannya di Kahoʻolawe tergolong sangat langka. Hal ini membuktikan bahwa ekosistem air yang sifatnya sementara pun bisa menjadi tempat penyelamat yang sangat krusial bagi satwa-satwa yang sedang terancam punah.

Baca juga: Viral! Wanita Digigit Udang Mantis, Inilah Fakta Menarik tentang Hewan Predator Laut Ini

Viral di Media Sosial dan Rencana Pemberian Nama Adat

Kabar mengenai bangkitnya udang dinosaurus dari sisa-sisa zaman prasejarah ini langsung viral di media sosial setelah dibagikan oleh staf lapangan. Banyak netizen yang takjub dengan bentuknya yang unik sekaligus latar belakangnya yang hidup sejak era purba.

Diskusi di dunia maya pun melebar bukan cuma soal hewan lucu, tapi juga membahas masalah ketahanan lingkungan, restorasi ekologi, hingga hubungan spiritual manusia dengan alam.

Karena antusiasme publik yang begitu besar, muncul rencana untuk memberikan nama resmi dalam bahasa Hawaii bagi si udang dinosaurus ini. Pihak KIRC menjelaskan bahwa proses ini akan melibatkan para praktisi budaya, ahli bahasa Hawaii, dan tim restorasi.

Tujuannya adalah menciptakan sebuah inoa Hawaiʻi (nama Hawaii) yang tidak hanya cocok secara biologi, tapi juga memiliki makna mendalam bagi ekosistem pulau yang baru bangkit ini dengan tetap menghormati budaya setempat.

“Ketika spesies-spesies purba ini kembali muncul di alam yang kita rawat, kita mendapat kesempatan emas untuk memahami mereka lebih jauh, sekaligus memberikan mereka identitas resmi dalam tradisi dan budaya Hawaii,” tutup Razo.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Nationalgeographic

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU