Budidaya Sawit, Kelapa dan Kedelai Bekontribusi pada Hilangnya 75 Persen Keanekaragaman Hayati
INDOZONE.ID - Sebuah studi meninjau bagaimana tanaman penghasil minyak-seperti kelapa, kelapa sawit, dan kedelai-mengancam spesies hewan dan tumbuhan di seluruh dunia.
Penelitian dengan cakupan seluas itu baru pertama kali dilakukan. Hasilnya telah dipublikasikan di jurnal Nature Food. Budidaya tanaman penghasil minyak dan konsumsi produk turunannya diketahui mengalami peningkatan semakin signifikan.
"Dari perspektif perlindungan lingkungan, hilangnya keanekaragaman hayati merupakan masalah yang sama besarnya dengan perubahan iklim," kata Stephan Pfister, Professor quantitative sustainability assessment di ETH Zurich, yang memimpin riset.
Ia dan timnya menganalisis data global produksi, perdagangan, dan penggunaan lahan selama beberapa dekade. Informasi itu kemudian digabungkan dengan beberapa model untuk mengukur pengaruh tanaman penghasil minyak terhadap keanekaragaman hayati.
Baca juga: Studi: Gempa 2011 Menggeser Seluruh Wilayah Jepang ke Arah Timur
Pertama-tama, peneliti membuat peta global budidaya tanaman penghasil minyak berdasarkan data satelit, statistik pertanian, dan kumpulan data global tentang lahan budidaya.
Mereka juga menghitung sejauh mana berbagai bentuk penggunaan lahan mengancam spesies hewan dan tumbuhan.
Peneliti kemudian memasukkan faktor hilangnya spesies, yang menunjukkan seberapa besar area budidaya berkontribusi terhadap hilangnya spesies global.
Peneliti juga berupaya melihat dampak budidaya tanaman penghasil minyak di seluruh rantai pasok global. Mereka menghubungkan data yang dikumpulkan dengan model ekonomi global yang menggambarkan rantai pasok internasional, mulai dari budidaya, melalui pemrosesan, hingga produk akhir.
Baca juga: Ilmuwan Temukan "Versi Awal" Stonehenge yang Berusia 500 Tahun Lebih Tua
Sebagai ilustrasi, diperoleh gambaran, bagaimana kedelai dari Brasil dijadikan pakan ternak di Tiongkok atau Eropa, yang pada akhirnya memfasilitasi tingginya konsumsi daging.
Tim kemudian menganalisis bagaimana faktor perilaku konsumen, pertumbuhan penduduk, dan efisiensi pertanian berkontribusi terhadap peningkatan hilangnya keanekaragaman hayati.
Dari 19 tanaman penghasil minyak, sorotan tertuju pada tiga jenis tanaman yang berkontribusi besar pada kepunahan spesies.
"Tiga di antaranya menyebabkan proporsi dampak yang sangat besar: kelapa sawit, kedelai, dan kelapa," kata Shuntian Wang, seorang mahasiswa doktoral di tim Pfister.
Baca juga: 7 Ras Anjing Penjaga Terbaik untuk Melindungi Rumah, Nomor 1 Jadi Andalan Polisi Dunia
Ketiganya menyumbang sekitar 75 persen dari hilangnya keanekaragaman hayati yang disebabkan oleh tanaman penghasil minyak.
Minyak dari tanaman seperti kelapa, kelapa sawit, dan kedelai digunakan di berbagai sektor, mulai dari kosmetik, olahan makanan, obat-obatan hingga pakan ternak.
Penelitian juga menunjukkan andil permintaan global terhadap hasil produksi minyak dari kelapa, sawit dan kedelai.
Lebih dari setengah dampaknya, menurut para peneliti, dipicu konsumsi di negara-negara di luar produsen.
Baca juga: Tak Selalu Buruk, Ini Dampak Positif Efek Rumah Kaca bagi Kehidupan di Bumi
Uni Eropa, Tiongkok, dan Amerika Serikat berkontribusi lebih dari 80 persen permintaan.
Uni Eropa punya andil besar dalam mengimpor minyak sawit, sementara permintaan Tiongkok didominasi kebutuhan kedelai untuk pakan ternak.
Studi yang sama juga memberikan gambaran jelas bahwa sepanjang 1995-2020 keanekaragaman hayati yang hilang meningkat 80 persen.
Wilayah tropis merupakan yang paling terdampak, Di sana, penggunaan lahan pertanian yang ekspansif secara signifikan menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati.
Baca juga: Bagaimana Cara Mendapatkan Energi Listrik? Ini Jawabannya
Sayangnya, hilangnya keanekaragaman hayati tidak dapat disetop begitu saja. Penggunaan lahan pertanian jangka panjang juga memberikan tekanan pada ekosistem.
"Bahkan jika tidak ada deforestasi baru, dampak dari pertanian saat ini tetap ada," kata Pfister.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Phys.org