Sabtu, 06 JUNI 2026 • 21:10 WIB

Kisah Suku Naulu di Pelosok Maluku, Warisan Leluhur Asingkan Wanita Baru Dilahirkan

Author

Hampir satu hari bersama warga Kampung Rohua, Desa Sepa, Kecamatan Amahai, Maluku Tengah, melihat lebih dalam kehidupan warga pelosok di pesisir laut timur Indonesia. (INDOZONE/Samsudhuha Wildansyah)

INDOZONE.ID - Hampir satu hari bersama warga Kampung Rohua, Desa Sepa, Kecamatan Amahai, Maluku Tengah, melihat lebih dalam kehidupan warga pelosok di pesisir laut timur Indonesia. Sedang asik bercengkrama, langkah kaki segerombol orang terdengar diatas tanah bergelombang di kampung itu.

Keluar dari rumah berbentuk unik dengan pakaian yang tak lazim, tapi mereka sangat ramah dan menebar senyuman ke kami. Ialah Suku Naulu, suku yang masih menjaga tradisi leluhur mereka.

Akhir bulan Mei 2026 lalu, kami jurnalis Indozone berkesempatan melihat langsung hingga bercengkrama dengan masyarakat Suku Naulu. Suku ini memang syarat akan sejarah salah satu suku di Indonesia.

Baca juga: Apa Saja Agama Asli Indonesia? Warisan Spiritual Nusantara dari Sunda Wiwitan hingga Kejawen

Perjalanan Panjang Menembus Pelosok

Perjalanan kami sangatlah jauh dari kota metropolitan di Indonesia. Kita harus terbang via Bandara Soekarno Hatta Jakarta menuju Ambon via Bandara Pattimura.

Selisih waktu dua jam dari WIB ke WIT cukup membuat kami jetleg. Langkah kaki kami teruskan menggunakan mobil roda empat menuju Pelabuhan Tulehu demi mencapai Pelabuhan Amahai.

Ombak tinggi kami lalui menggunakan kapal dengan waktu tempuh sekitar dua jam lamanya. Tiba di Pulau Seram, perjalanan kami lanjut menggunakan mobil hingga tiba di Kampung Rohua.

Hampir satu hari bersama warga Kampung Rohua, Desa Sepa, Kecamatan Amahai, Maluku Tengah, melihat lebih dalam kehidupan warga pelosok di pesisir laut timur Indonesia. (INDOZONE/Samsudhuha Wildansyah)

Baca juga: Sejarah Provinsi di Indonesia: Dari Delapan hingga Mekar Menjadi 38 Provinsi

Rumah Unik Tanpa Listrik

Agenda kami saat itu memang bukan untuk berjumpa dengan masyarakat Suku Naulu melainkan untuk melihat pendistribusian hewan kurban di pelosok Maluku. Pemandangan disana memang didominasi pantai lantaran titik itu merupakan pesisir pantai.

Pandangan kami seketika tertuju ke bagian agak dalam pemukikan di Kampung Rohua. Daya tarik sangat kuat ketika melihat adanya rumah-rumah berdiri dengan unik.

Rumah tersebut berbentuk panggung dengan topangan kayu-kayu maupun bambu dan beratap tanpa genteng alias berdaun sagu. Rumah tersebut juga tidak memiliki tembok.

Gelap gulita tanpa cahaya, mereka hidup tanpa cahaya di rumah mereka sebagai bentuk menjaga tradisi para leluhur. Untuk aktivitas  kehidupan mereka normal layaknya masyarakat pelosok yang dijalani oleh mereka dengan berkebun hingga menjadi nelayan.

Pakaian Unik Menandakan Suku Naulu

Ditengah acara pemotongan hewan kurban kami bersama masyarakat muslim di Kampung Rohua, diujunga sana, masyarakat Suku Naulu hanya memantau. Ustaz Amin, salah satu tokoh disana melihat, malambaikan tangan dan memanggil mereka.

Mereka bergegas datang tanpa alas kaki, mengenakan kain sarung mengatung hingga ikat kepala berwarna merah. Ya, itu lah ciri khas yang mereka pakai untuk menandakan jika mereka Suku Naulu.

Awalnya kami ragu untuk berbincang apalagi mewawancarai mereka. Keraguan kami luntur dengan sikap ramah mereka terhadap kami si pendatang dan terhadap warga muslim Kampung Rohua.

Bermodal daging kurban dibalung daut kelapa dan daun pisang, warga muslim Kampung Rohua memberikan daging tersebut ke warga Suku Naulu. Toleransi dan kerukunan terlihat kental di pelosok timur Indonesia.

"Terima kasih atas daging kurbanya," kata warga Suku Naulu.

Wanita Diasingkan Usai Melahirkan

Kamipun diajak untuk masuk ke salah satu kediaman mereka. Sebelum tiba, ditengah perjalan kami melihat sebuah rumah kecil yang berada disana.

Usut punya usut, itu merupakan rumah adat mereka yang dikhususkan untuk wanita pasca melahirkan. Faktanya, wanita dewasa Suku Naulu yang baru melahirkan akan diasingkan di rumah tersebut selama tiga bulan lamanya.

"Itu rumah pengasingan. Kalau disini wanita yang melahirkan selama tiga bulan akan ditaruh disana," ujar salah satu warga.

Bukan isapan jempol belaka, wanita Suku Naulu akan dipisahkan dengan suaminya setelah baru melahirkan. Wanita itu bersama bayinya akan tinggal di rumah pengasingan tersebut selama tiga bulan tanpa diperbolehkan kembali ke rumahnya termasuk tidak diperbolehkan bertemu dengan suaminya.

Waktu kami tak banyak berada di sisi mereka. Namun, pertemuan singkat kami dengan Suku Naulu meyakinkan kami jika di tanah Indonesia masih banyak suku-suku pedalaman yang memegang teguh tradisi leluhur mereka.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU