INDOZONE.ID - Masih banyak orang yang belum menyadari bahwa posisi Bumi sebenarnya tidak tegak lurus saat mengelilingi Matahari. Planet tempat manusia hidup ini ternyata berada dalam kondisi sedikit miring terhadap orbitnya.
Para ilmuwan menyebut kemiringan sumbu Bumi mencapai sekitar 23,5 derajat. Karena itulah, cahaya Matahari tidak menyinari seluruh wilayah di Bumi dengan intensitas yang sama dalam waktu bersamaan.
Lalu, apa sebenarnya yang menyebabkan posisi Bumi bisa miring seperti itu? Pembahasan kali ini akan mengulas lebih jauh tentang salah satu misteri menarik di alam semesta tersebut.
Baca juga: 5 Fakta Ilmiah Asal Air di Bumi, Ternyata Berkaitan dengan Luar Angkasa
Dilansir dari Universe Today, Senin (25/5/2026) ilmuwan memaparkan bahwa kemiringan posisi Bumi terkait dengan proses pembentukannya bersama dengan planet-planet lainnya di Tata Surya.
Selain diyakini membuat posisi Bumi menjadi miring sejak awal pembentukannya, para ilmuwan juga berpendapat bahwa lahirnya Matahari menciptakan pusat gravitasi baru di Tata Surya.
Proses tersebut memunculkan gaya pasang surut antara Matahari dan sisa nebula yang memicu ketidakstabilan pada gas serta debu di sekitarnya.
Seiring berjalannya jutaan tahun, material luar angkasa mulai saling bertabrakan dan berkumpul hingga membentuk massa serta gravitasi sendiri.
Dari proses itu lahirlah benda-benda langit kecil yang dikenal sebagai protoplanet. Tabrakan antarprotoplanet kemudian menghasilkan planet dengan ukuran lebih besar, termasuk Bumi.
Para peneliti menduga benturan besar dengan protoplanet inilah yang membuat posisi Bumi menjadi miring dan tidak tegak lurus, layaknya bola yang berdiri sempurna di atas permukaan datar.
Posisi Bumi Memicu banyak Musim
Kemiringan Bumi memiliki peran penting bagi keberlangsungan kehidupan di dalamnya. Hal ini karena posisi Bumi yang miring menyebabkan terjadinya perbedaan musim di berbagai wilayah dunia.
Di negara-negara beriklim subtropis atau yang dikenal dengan empat musim, umumnya terjadi musim dingin, semi, gugur, dan panas.
Sementara itu, negara beriklim tropis seperti Indonesia hanya mengalami dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan.
Jika dibandingkan dengan planet lain, kemiringan Bumi membuat variasi musim menjadi lebih seimbang dengan suhu yang tidak terlalu ekstrem.
Seperti dilansir dari NASA Space Place, Senin (25/5/2026) Bumi memiliki orbit yang sedikit miring. Ketika planet lebih dekat dengan Matahari, maka akan mengalami musim dingin. Sebaliknya, saat Bumi menjauhi Matahari, kita akan merasakan musim panas.
Bumi bergerak mengelilingi Matahari dengan sumbu rotasi yang tetap mengarah ke posisi yang relatif sama.
Kondisi ini membuat setiap wilayah di Bumi menerima paparan sinar Matahari yang berbeda sepanjang tahun.
Baca juga: Teori Konspirasi Tentang Satelit Black Knight Pesawat Alien di Orbit Bumi
Pada sekitar bulan Juni, Kutub Utara condong ke arah Matahari sehingga wilayah belahan utara menerima lebih banyak cahaya langsung dan mengalami musim panas.
Sebaliknya, sekitar bulan Desember, giliran Kutub Selatan yang lebih condong ke arah Matahari, sehingga belahan utara mengalami musim dingin atau bersalju karena minimnya sinar Matahari langsung.
Sementara itu, ketika posisi Bumi berada pada sudut tertentu terhadap Matahari, yaitu sekitar peralihan penyinaran, wilayah-wilayah tertentu memasuki musim semi, sedangkan sisi lainnya mengalami musim gugur.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Universe Today