INDOZONE.ID - Asal-usul alam semesta telah menjadi subjek perdebatan panjang di kalangan ilmuwan, banyak pertanyaan muncul mulai dari sumber keberadaan, waktu kemunculan, hingga proses penciptaannya.
Para ahli saling beradu argumen melalui penyampaian berbagai teori serta gagasan orisinal mereka.
Pada abad ke-20, muncul sebuah konsep yang sangat menonjol, yakni teori ledakan dahsyat.
Gagasan ini memaparkan bahwa alam semesta memiliki dimensi yang tidak terbatas dan terbentuk sebagai hasil dari peristiwa ledakan besar yang sangat dahsyat.
Baca juga: Macam-macam Benda Langit: Ensiklopedia Alam Semesta dari Skala Kecil hingga Terbesar
Para ilmuwan yang memiliki latar belakang materialis tidak sependapat dengan gagasan mengenai adanya Pencipta, karena mereka percaya bahwa alam semesta tersusun atas zat yang stabil dan tidak berubah sepanjang waktu.
Bagi kelompok ini, zat dianggap sebagai wujud keberadaan yang mutlak, sehingga mereka meniadakan keberadaan makhluk atau entitas lain yang tidak bersifat kebendaan.
Melalui sudut pandang yang menyatakan bahwa alam semesta bermula dari sebuah permulaan nyata, muncul sebuah keyakinan bahwa dunia ini ada berkat tangan Sang Pencipta.
Pandangan ini menolak anggapan bahwa semesta hadir tanpa asal-usul, melainkan melalui tahapan penciptaan yang sistematis. Hal ini secara otomatis mengarahkan pada pengakuan akan adanya kekuatan Pencipta.
Secara sederhana, manusia sering kali sulit mencerna gagasan "ada dari ketiadaan" karena hal tersebut berada di luar jangkauan pemahaman atau pengalaman yang dapat mereka proses secara akal sehat.
Hadirnya alam semesta dari ketiadaan merupakan salah satu bukti terbesar diciptakannya alam semesta. Dengan hal ini, akan membantu manusia mengerti dan memahami makna dari kehidupan.
Meluasnya Alam Semesta
Edwin Hubble, seorang astronom ternama asal Amerika Serikat, menorehkan catatan bersejarah dalam dunia astronomi melalui temuannya pada tahun 1929.
Saat melakukan observasi menggunakan teleskop raksasa, Hubble mengamati fenomena di mana ujung spektrum cahaya dari bintang-bintang mengalami pergeseran ke arah warna merah.
Berdasarkan perubahan warna tersebut, ia menyimpulkan dengan keyakinan penuh bahwa benda-bintang langit tersebut sedang bergerak menjauh dari Bumi.
Temuan Hubble mengenai galaksi dan bintang yang saling menjauh, serta pergerakannya yang meninggalkan Bumi, membuktikan bahwa alam semesta senantiasa bertambah luas.
Untuk membayangkan proses ini, kita bisa mengibaratkan alam semesta sebagai kulit balon yang sedang mengembang.
Sebagaimana bagian-bagian pada permukaan balon yang saling menjauh akibat proses penggelembungan, begitu pula objek-objek di luar angkasa yang terus terpisah seiring dengan ekspansi ruang semesta yang tidak pernah berhenti.
Fenomena bertambah luasnya alam semesta membuktikan bahwa jika kita menelusuri waktu ke belakang, semesta akan kembali ke asalnya yang berupa sebuah "titik tunggal".
Titik ini dipahami sebagai kumpulan seluruh zat dan materi di alam semesta yang terkonsentrasi dalam volume nol dengan kepadatan yang tidak terbatas.
Lahirnya alam semesta dipicu oleh ledakan masif yang berasal dari titik tunggal tersebut. Hasil dari ledakan dahsyat inilah yang kemudian menciptakan ruang dan waktu yang kita kenal sebagai alam semesta.
Konsep ketiadaan dalam ilmu pengetahuan didefinisikan melalui titik yang bervolume nol, yang berfungsi sebagai dasar teoretis untuk menjelaskan awal mula segalanya.
Melalui prinsip ini, dapat dinyatakan bahwa alam semesta lahir dari ketiadaan, yang berarti semesta ini diciptakan.
Bukti dari proses penciptaan ini terlihat jelas dari ekspansi alam semesta yang terus berlangsung hingga saat ini.
Namun, pemahaman ilmiah mengenai perkembangan atau perluasan alam semesta ini baru berhasil dirumuskan oleh para ahli pada abad ke-20.
Baca juga: Bintang Paling Terang di Alam Semesta: Saat Sirius Hanya Jadi “Lampu Kecil” di Kosmos
Di ruang angkasa terdapat berbagai benda-benda seperti matahari, planet di tata surya, asteroid, dan masih banyak lagi yang dijelaskan pada Ensiklopedia Mini: Alam Semesta.
Dalam studi kosmologi, dikenal lima teori utama mengenai asal-usul alam semesta, yakni Big Bang, Steady State, teori mengembang dan memampat, teori kuantum, dan teori berayun.
Ruang lingkup jagat raya ini juga mencakup berbagai jenis galaksi seperti Bima Sakti, Andromeda, Ursa Mayor, dan Black Eye.
Secara visual, struktur galaksi di alam semesta dibagi menjadi tiga kategori bentuk, yaitu bentuk spiral, elips, serta bentuk yang tidak beraturan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Gramedia