INDOZONE.ID - Para ilmuwan kini menggunakan AI dan machine learning untuk menganalisis pola komunikasi hewan, mulai dari siulan lumba-lumba, dengkuran babi, hingga nyanyian paus sperma.
Tujuannya bukan sekadar memahami suara mereka, tapi membuka kemungkinan bahwa hewan punya sistem komunikasi yang jauh lebih kompleks dari yang kita kira.
Pertanyaan ini lebih rumit dari yang kedengarannya. Anjing mengibaskan ekor untuk menyampaikan emosi. Lebah menari untuk menunjukkan lokasi nektar.
Lumba-lumba menggunakan klik dan siulan untuk bertukar informasi. Tapi apakah semua itu bisa disebut "bahasa"?
"Saat ini kita belum tahu apakah hewan memiliki bahasa," kata Dr. Denise Herzing, Direktur Riset di Wild Dolphin Project dikutip dari IFLSciens.
"(Namun) AI dapat membantu kita mencari struktur mirip bahasa yang mungkin menunjukkan bahwa hewan memiliki bagian-bagian dari suatu bahasa," lanjutnya.
Baca juga: Seberapa Tua Usia Bumi sampai Saat Ini Menurut Ilmuwan? Ancaman dan Bagaimana Cara Merawatnya
Baca juga: Penemuan Sidik Jari Anak Berusia 15.000 Tahun pada Tanah Liat Ungkap Sisi Hangat Manusia Purba
Debat soal ini sudah berlangsung lama di kalangan ahli biologi dan linguistik. Namun, yang baru adalah alatnya,dan AI membuka cara analisis yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan manusia secara manual.
Lalu bagaimana AI bisa “menerjemahkan suara hewan?” Kuncinya adalah machine learning, yaitu jenis AI yang bisa menganalisis data dalam jumlah besar tanpa instruksi spesifik.
Rekaman suara hewan diproses, polanya dipetakan, lalu model bahasa dibangun dari sana.
"Pembelajaran mesin adalah alat yang ampuh karena dapat dilatih untuk mengidentifikasi pola dalam kumpulan data yang sangat besar, sehingga memungkinkan kita untuk memproses sejumlah besar data dan memperoleh pengetahuan penting tentang bagaimana informasi yang terkandung dalam suara hewan berubah dari waktu ke waktu," jelas Elodie F. Briefer, Profesor Madya Perilaku dan Komunikasi Hewan di Universitas Kopenhagen.
Teknologi ini sebenarnya sama dengan yang bekerja di balik Google Translate dan teks prediktif di smartphone kamu.
Bedanya, menerapkannya pada hewan jauh lebih kompleks karena konteks biologisnya sangat berbeda.
Apa Ada yang Sudah Berhasil?
Earth Species Project, organisasi nirlaba yang fokus menguraikan bahasa non-manusia, berhasil memecahkan masalah atau mengidentifikasi suara individu dari kerumunan hewan yang ramai sekaligus.
Mereka menguji algoritma ini pada monyet makaka, lumba-lumba hidung botol, dan kelelawar buah Mesir.
Briefer sendiri melatih AI untuk mengenali emosi positif atau negatif dari suara babi.
Sementara perangkat lunak DeepSqueak digunakan untuk menilai tingkat stres hewan pengerat berdasarkan suara ultrasonik yang tidak bisa didengar manusia.
Di sisi lain, Proyek CETI (Cetacean Translation Initiative) sedang berupaya menguraikan komunikasi paus sperma menggunakan model bahasa besar. Pendekatannya mirip dengan cara ChatGPT bekerja, tapi diterapkan pada nyanyian paus.
Pertanyaannya, mengapa ini penting? Gampangnya, kalau kita bisa tahu kapan seekor hewan sedang kesakitan, stres, atau justru bahagia, bisa memudahkan peneliti.
"Baik untuk spesies yang dipelihara maupun yang liar, ini memungkinkan kita untuk memahami mereka dengan lebih baik, dan mengetahui kapan mereka berkembang atau menderita," kata Briefer.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: IFL SCIENCE