INDOZONE.ID - Pernah enggak sih, kamu merasa bingung pas lagi main ke Jogja atau lagi nonton acara adat di Keraton Yogyakarta, terus mendengar banyak banget gelar yang dipakai sama orang-orang di sana.
Ada yang dipanggil Gusti, ada yang Kanjeng, ada juga yang Bendoro. Kadang kita sebagai anak muda suka mikir, itu gelar datangnya dari mana ya, atau apa semua orang yang tinggal di dalam Keraton itu otomatis jadi bangsawan.
Ternyata, urusan gelar di Keraton itu enggak sembarangan dan punya aturan main yang sangat ketat, lho!
Biar kamu makin update dan enggak kuper kalau lagi ngomongin soal budaya, yuk kita bedah tuntas sistem gelar yang ada di Keraton Yogyakarta.
Dilansir dari YouTube/Putri Kedhaton, informasi ini bakal membuka mata kamu kalau gelar kebangsawanan itu bukan cuma soal nama keren, tapi ada tanggung jawab dan pengabdian di baliknya.
Baca juga: Dari Konflik Istana ke Serangan Inggris: Kisah Penaklukan Yogyakarta 1812
Mitos Jual Beli Gelar yang Ternyata Cuma Tipu-Tipu
Satu hal yang paling penting dan harus kamu catat baik-baik adalah, Keraton Yogyakarta secara tegas menyatakan kalau tidak ada yang namanya jual beli gelar kebangsawanan.
Kalau kamu pernah dengar ada oknum yang menawarkan gelar bangsawan dengan imbalan sejumlah uang, fiks itu adalah penipuan.
Ngarso Dalem atau Sultan punya pedoman sendiri yang sangat sakral dalam memberikan gelar kepada seseorang.
Gelar itu enggak bisa dibeli pakai uang sebanyak apa pun. Sebab, dasarnya adalah garis keturunan yang jelas atau sebagai anugerah atas pengabdian yang luar biasa.
Bayangkan saja, seseorang baru bisa mendapatkan gelar anugerah setelah mengabdi tanpa pamrih selama puluhan tahun, bahkan ada yang sampai tiga puluh tahun lamanya. Jadi, jangan gampang percaya kalau ada tawaran instan jadi bangsawan ya.
Gelar Khusus buat Anak Sultan yang Lahir dari Permaisuri
Dalam sistem Keraton, anak-anak Sultan atau yang disebut Putro Dalem punya gelar yang dibedakan berdasarkan siapa ibunya.
Kalau anak tersebut lahir dari permaisuri, maka gelarnya bakal diawali dengan kata Gusti.
Misalnya nih, buat anak laki-laki bakal menyandang gelar Gusti Raden Mas. Sedangkan buat anak perempuan sebelum mereka menikah, bakal dipanggil Gusti Raden Ajeng.
Gelar Gusti ini adalah kasta tertinggi buat anak-anak raja karena mereka adalah keturunan langsung generasi pertama dari permaisuri.
Uniknya, nama-nama ini bukan sesuatu yang permanen, lho. Nama dan gelar bangsawan bisa saja ditarik kembali oleh Sultan dan diganti dengan nama baru sesuai dengan perubahan status atau tugas yang diberikan oleh Keraton.
Perbedaan Gelar Anak Sultan dari Istri selain Permaisuri
Nah, mungkin kamu juga pernah dengar gelar Bendoro. Ternyata gelar ini dipakai buat anak-anak Sultan yang lahir bukan dari permaisuri.
Gelar buat anak laki-lakinya adalah Bendoro Raden Mas dan buat anak perempuannya adalah Bendoro Raden Ajeng.
Perbedaan penggunaan kata depan ini penting banget di lingkungan Keraton, untuk menunjukkan silsilah keluarga secara detail.
Meskipun berbeda awalan, mereka tetaplah Putro Dalem yang dihormati. Contoh nyata dari perubahan gelar ini, bisa kita lihat pada Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi.
Beliau bercerita, kalau sudah pernah berganti nama sampai empat kali, mulai dari nama kecilnya Raden Ajeng Nurmalitasari sampai akhirnya dapet gelar GKR Mangkubumi setelah adanya Dawuh Raja di tahun 2015.
Edukasi Panggilan biar Enggak Salah Sebut Gusti
Ada satu fenomena yang sering terjadi di masyarakat, yaitu kebiasaan memanggil semua orang yang punya hubungan dengan Keraton dengan sebutan Gusti.
Padahal, penggunaan gelar Gusti itu sangat terbatas, lho. Seperti yang sudah dibahas tadi, Gusti itu cuma buat keturunan langsung generasi pertama Sultan.
Kalau kita sembarangan panggil semua orang pakai sebutan Gusti, malah jadi kurang pas secara adat.
Biar kamu kelihatan lebih sopan dan paham etika, sebutan yang paling aman buat menghormati para bangsawan Keraton secara umum adalah Kanjeng atau Ndoro.
Ini adalah bentuk penghormatan yang sopan, dan fleksibel buat digunakan masyarakat luas tanpa harus takut salah menempatkan gelar yang sangat tinggi.
Baca juga: Candi Kok Jendelanya Banyak? Inilah Candi Sari Yogyakarta
Memahami Sistem Tingkatan atau Grade dalam Keturunan
Biar makin jelas, Keraton Yogyakarta membagi gelar berdasarkan tingkatan atau grade keturunan.
Grade pertama jelas diisi oleh anak-anak Sultan. Masuk ke grade kedua, ada para cucu Sultan yang dalam bahasa Jawa disebut Wayah.
Gelar buat cucu ini adalah Raden Mas buat laki-laki dan Raden Ajeng buat perempuan. Lanjut ke grade ketiga, ada buyut dan canggah yang ternyata gelarnya masih sama dengan para cucu.
Nah, kalau sudah masuk ke keturunan generasi kelima dan seterusnya, gelarnya bakal berubah lagi jadi Raden Bagus untuk laki-laki dan Raden Roro untuk perempuan.
Kalau mereka sudah menikah, biasanya gelarnya bakal menyesuaikan lagi sesuai aturan yang berlaku.
Perbedaan antara Istilah Sentono dan Trah
Kamu juga perlu tahu istilah Sentono dan Trah biar makin pro soal urusan Keraton. Istilah Sentono itu digunakan untuk menyebut kerabat dekat Sultan mulai dari anak, cucu, sampai tingkat canggah alias generasi keempat.
Jadi kalau masih dalam lingkup empat generasi ini, mereka masih disebut sebagai Sentono Dalem.
Tapi kalau silsilahnya sudah masuk ke generasi kelima dan seterusnya, maka sebutannya sudah bukan Sentono lagi, melainkan Trah.
Pembagian ini memudahkan Keraton dalam mendata keluarga besar dan mengatur protokol dalam acara-acara resmi.
Jadi sekarang kamu sudah tahu kan, kalau enggak semua keturunan Sultan itu disebut Sentono selamanya.
Gelar Anugerah sebagai Bentuk Penghargaan Tertinggi
Selain karena faktor darah atau keturunan, Keraton juga punya yang namanya gelar anugerah atau kehormatan.
Gelar ini diberikan Sultan kepada orang-orang tertentu, yang dianggap punya jasa besar.
Contohnya adalah gelar Gusti Kanjeng Ratu yang diberikan kepada permaisuri. Meskipun permaisuri mungkin bukan keturunan langsung dari Sultan sebelumnya, beliau berhak menyandang gelar Gusti karena statusnya sebagai istri Sultan.
Ada juga gelar Pangeran yang sering kita dengar seperti GPH, BPH, atau KPH. Penting buat kamu tahu, kalau gelar Pangeran itu bukan otomatis dapet karena lahir jadi laki-laki di keluarga Keraton.
Tapi, itu adalah gelar pemberian atau anugerah yang bisa saja diberikan kepada kerabat, atau bahkan menantu Sultan yang disebut Pangeran Sentono.
Mengenal Istilah Kanjeng Gusti dan Gusti Kanjeng
Mungkin terdengar mirip, tapi urutan kata Kanjeng Gusti dan Gusti Kanjeng itu punya makna kepangkatan yang beda jauh, lho. Urutan kata ini menunjukkan hierarki yang sudah diatur sejak lama.
Sebutan Kanjeng Gusti itu sangat spesial karena cuma berlaku buat tiga posisi paling penting di Keraton Yogyakarta, yaitu Putra Mahkota, Adipati Paku Alam, dan Pangeran Lurah.
Pangeran Lurah biasanya adalah adik tertua dari Sultan yang sedang bertahta. Jadi, jangan sampai terbalik ya, karena urutan kata dalam gelar kebangsawanan di Jogja itu menentukan seberapa tinggi kedudukan seseorang dalam struktur organisasi Keraton.
Cara Masyarakat Umum Mendapatkan Gelar di Keraton
Terus gimana, kalau kita yang orang biasa tapi pengen banget mengabdi dan dapet gelar dari Keraton.
Tenang saja, pintu pengabdian selalu terbuka buat siapa saja. Syarat mutlaknya adalah kamu harus mendaftarkan diri jadi Abdi Dalem.
Tapi ingat, jadi Abdi Dalem itu bukan buat gaya-gayaan atau cari status, melainkan harus didasari niat tulus buat melestarikan budaya.
Kamu bakal mulai dari pangkat yang paling bawah dulu, misalnya Jajar. Seiring berjalannya waktu, kalau kamu loyal, rajin, dan punya kontribusi nyata, Sultan bisa saja menaikkan pangkat kamu secara berjenjang.
Ini adalah jalur resmi dan terhormat, buat siapa pun yang pengen jadi bagian dari keluarga besar Keraton Yogyakarta tanpa harus punya darah biru.
Baca juga: Tari, Strata, dan Taktik: Wayang Wong sebagai Cermin Stratifikasi Sosial di Yogyakarta Kolonial
Memahami sistem gelar kebangsawanan Keraton Jogja ini bukan cuma soal menghafal nama, tapi soal menghargai sebuah institusi budaya yang masih kokoh berdiri sampai sekarang.
Dengan tahu aturan mainnya, kita jadi lebih bisa menghargai setiap orang sesuai dengan porsinya.
Keraton bukan cuma soal kemegahan bangunan, tapi soal nilai-nilai pengabdian, loyalitas, dan tata krama yang dijaga turun-temurun.
Semoga informasi ini bikin kamu makin cinta sama budaya lokal, dan enggak gampang kemakan hoaks soal jual beli gelar yang enggak jelas asal-usulnya.
Yuk, terus jaga warisan leluhur kita dengan cara yang benar dan penuh rasa hormat!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube