Kamis, 09 APRIL 2026 • 14:19 WIB

Ilmuwan Temukan Bukti Lonjakan Siklon Tropis di Great Blue Hole, Apa Dampaknya?

Author

Tampilan The Great Blue Hole. (photo/Dok. Wikipedia)

INDOZONE.ID - Ilmuwan temukan bukti lonjakan siklon tropis di Great Blue Hole yang memicu kekhawatiran baru terkait perubahan iklim global.

Temuan ini berasal dari penelitian terbaru yang menganalisis sedimen di dasar laut kawasan tersebut.

Penelitian dari Dasar Laut Belize

Berdasarkan laporan yang dikutip dari laman Science Alert, Kamis (09/04/2026) para peneliti melakukan ekspedisi ke Great Blue Hole yang berada di lepas pantai Belize, Amerika Tengah.

Baca juga: Sengatan Paling Menyakitkan di Dunia: Dari Semut Peluru hingga Tawon Eksekutor

Mereka mengambil inti sedimen sepanjang 30 meter dari dasar lubang laut tersebut untuk diteliti lebih lanjut.

Dari hasil analisis, ilmuwan menemukan sekitar 694 lapisan peristiwa yang diyakini sebagai jejak siklon tropis selama kurang lebih 5.700 tahun terakhir. Lapisan ini menjadi semacam “arsip alami” yang mencatat kejadian badai besar di masa lalu.

Mengapa Great Blue Hole Jadi Sumber Data Penting?

Great Blue Hole memiliki kondisi lingkungan yang unik. Mengutip penjelasan peneliti, dasar lubang ini minim oksigen dan memiliki lapisan air yang stabil, sehingga sedimen dapat mengendap tanpa banyak gangguan.

Hal ini membuat setiap lapisan sedimen tersimpan rapi, mirip seperti lingkaran tahun pada batang pohon.

Peristiwa besar seperti siklon akan meninggalkan jejak berupa sedimen dengan ukuran butir lebih kasar dan warna berbeda.

Baca juga: Kisah Karyawan Magang NASA Dikeluarkan Usai ‘Berhubungan Intim di Bulan’

Dengan cara ini, ilmuwan dapat membedakan mana endapan dari cuaca normal dan mana yang berasal dari badai tropis.

Bukti Peningkatan Frekuensi Siklon

Hasil penelitian menunjukkan adanya tren peningkatan aktivitas siklon tropis secara bertahap selama ribuan tahun. Namun, peningkatan tersebut menjadi lebih signifikan dalam beberapa dekade terakhir.

Dikutip dari hasil studi, dalam 20 tahun terakhir saja tercatat sekitar sembilan peristiwa siklon di wilayah tersebut.

Angka ini dinilai tidak lagi sesuai dengan pola alami yang biasanya terjadi dalam jangka panjang.

Baca juga: Berapa Lama Jatuh Menembus Inti Bumi? Ini Jawaban Terbarunya

Para peneliti turut memproyeksikan bahwa tren ini akan terus meningkat. Bahkan, dalam abad ini, diperkirakan bisa terjadi hingga 45 badai tropis dan angin topan di kawasan tersebut.

Peran Perubahan Iklim

Salah satu faktor utama yang memengaruhi peningkatan ini adalah perubahan iklim. Mengutip penjelasan ilmuwan, pemanasan global di era industri berperan besar dalam memperkuat frekuensi dan intensitas siklon.

Selain itu, pergeseran Zona Konvergensi Intertropis juga turut memengaruhi jalur dan lokasi terbentuknya badai.

Zona ini merupakan wilayah tekanan rendah di sekitar khatulistiwa yang menentukan arah pergerakan siklon di Samudra Atlantik dan Karibia.

Ketika zona ini bergeser, pola badai pun ikut berubah dan berpotensi meningkatkan risiko di wilayah tertentu.

Apa Dampaknya ke Depan?

Lonjakan siklon tropis tentu membawa dampak serius, terutama bagi wilayah pesisir. Intensitas badai yang meningkat dapat menyebabkan kerusakan infrastruktur, banjir, hingga gangguan ekosistem laut.

Selain itu, peningkatan frekuensi badai juga dapat memengaruhi kehidupan masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana.

Risiko ekonomi dan sosial pun ikut meningkat seiring dengan perubahan pola cuaca ekstrem.

Baca juga: Inilah 24 Planet yang Mirip Bumi dan Bisa Dihuni, Bahkan Jauh Lebih Nyaman Lho!

Temuan ilmuwan di Great Blue Hole menjadi peringatan penting terkait dampak perubahan iklim terhadap aktivitas siklon tropis.

Berdasarkan data sedimen selama ribuan tahun, terlihat jelas bahwa frekuensi badai kini mengalami peningkatan yang signifikan.

Dengan proyeksi yang menunjukkan lonjakan lebih tinggi di masa depan, penelitian ini menjadi dasar penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana iklim yang semakin ekstrem.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Science Alert

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU