INDOZONE.ID - Empat astronot NASA saat ini tengah menjalani perjalanan bersejarah menuju bulan dalam misi Artemis II, sebuah penerbangan luar angkasa yang menandai kembalinya manusia ke lingkungan bulan setelah lebih dari 50 tahun sejak era program Apollo.
Pesawat ruang angkasa Orion yang membawa empat astronaut tersebut diluncurkan menggunakan roket Space Launch System (SLS) dari Kennedy Space Center, Florida, pada awal April 2026. Misi ini menjadi penerbangan berawak pertama NASA menuju wilayah bulan sejak Apollo 17 pada 1972, dilansir melalui AP News, Senin (6/4/2026).
Misi Artemis II tidak bertujuan untuk mendarat di bulan. Sebaliknya, para astronot akan melakukan penerbangan mengelilingi bulan (lunar flyby) sebelum kembali ke Bumi. Perjalanan ini dirancang sebagai uji coba penting untuk sistem pesawat Orion serta berbagai teknologi yang akan digunakan pada misi pendaratan manusia di masa depan.
Baca juga: Misi Bulan Artemis II: Astronot Tak Lagi Buang Air Besar di Kantong Plastik
Perjalanan Bersejarah Mengelilingi Bulan
Reuters melaporkan, empat astronott yang terlibat dalam misi ini adalah Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen. Mereka memulai perjalanan menuju bulan setelah Orion berhasil keluar dari orbit Bumi melalui manuver penting yang disebut translunar injection, yaitu dorongan mesin yang mengarahkan pesawat ke jalur menuju bulan.
Selama sekitar 10 hari perjalanan, kapsul Orion akan menempuh lintasan berbentuk angka delapan yang membawa kru melintasi ruang antara Bumi dan bulan sebelum kembali lagi ke planet asal mereka.
Dalam momen tertentu, pesawat akan mendekati bulan hingga sekitar 4.000 mil (sekitar 6.400 kilometer) dari permukaannya. Hal ini memberi kesempatan bagi para astronaut untuk mengamati sisi jauh bulan yang jarang terlihat secara langsung oleh manusia.
Berpotensi Pecahkan Rekor Jarak
Salah satu pencapaian penting dari misi Artemis II adalah potensi memecahkan rekor jarak terjauh yang pernah ditempuh manusia dari Bumi.
Dalam perjalanan ini, Orion diperkirakan mencapai jarak lebih dari 252.000 mil (sekitar 406.000 kilometer) dari Bumi, melampaui rekor sebelumnya yang dicapai oleh astronot misi Apollo 13 pada 1970.
Dengan capaian tersebut, kru Artemis II berpotensi menjadi manusia yang berada paling jauh dari Bumi dalam sejarah eksplorasi ruang angkasa.
Selain itu, misi ini juga menjadi tonggak penting dalam hal keberagaman astronot. Victor Glover menjadi astronot kulit hitam pertama yang mencapai wilayah bulan, Christina Koch menjadi perempuan pertama yang melakukan perjalanan ke lingkungan bulan, sementara Jeremy Hansen menjadi astronot non-Amerika pertama yang ikut dalam misi tersebut.
Baca juga: NASA Tunda Peluncuran Artemis II hingga Maret 2026 Akibat Kebocoran Hidrogen
Momen Hilang Kontak dengan Bumi
Selama perjalanan mengelilingi bulan, pesawat Orion akan melewati sisi jauh bulan, yaitu area di mana komunikasi langsung dengan Bumi tidak dapat dilakukan.
Pada fase ini, sinyal radio dari pesawat akan terhalang oleh bulan, sehingga kru diperkirakan kehilangan kontak dengan pusat kendali misi selama sekitar 40 menit.
Meski terdengar menegangkan, kondisi ini telah diprediksi oleh para ilmuwan NASA dan pernah terjadi pada misi Apollo sebelumnya. Para astronot akan tetap menjalankan prosedur yang telah direncanakan tanpa instruksi langsung dari Bumi.
Langkah Awal Menuju Misi Berikutnya
Misi Artemis II merupakan bagian penting dari program Artemis, yaitu proyek ambisius NASA untuk mengembalikan manusia ke permukaan bulan dan membangun kehadiran jangka panjang di sana.
Jika misi ini berjalan sukses, NASA berencana melanjutkan ke Artemis III, yang ditargetkan membawa astronot kembali mendarat di bulan pada akhir dekade ini. Program tersebut juga menjadi pijakan awal bagi rencana eksplorasi manusia ke Mars di masa depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: APNews