Sabtu, 04 APRIL 2026 • 15:39 WIB

Mengenal Sinestesia dan Rahasia di Balik Kemampuan Mendengar Warna

Author

Ilustrasi Sinestesia (Freepik)

INDOZONE.ID - Sinestesia merupkan kondisi unik di mana indra manusia saling “bercampur”. Dalam fenomena ini, rangsangan pada satu indra dapat memicu pengalaman pada indra lain.

Misalnya, seseorang bisa “melihat” warna saat mendengar suara, atau “merasakan” bentuk ketika mencicipi makanan.

Berbeda dengan halusinasi, pengalaman sinestesia bersifat konsisten. Artinya, seseorang dengan sinestesia akan selalu merasakan asosiasi yang sama, seperti angka tertentu selalu muncul dalam warna tertentu.

Baca juga: Misteri Tidur R.E.M: Saat Tubuh Lumpuh, Namun Otak Bekerja Seperti Sedang Terjaga

Bentuk Sinestesia yang Paling Umum

Melansir laman Scientific American, Sabtu (04/04/2026) salah satu jenis yang paling sering ditemukan adalah sinestesia grafem-warna. Pada kondisi ini, huruf, angka, atau kata memiliki warna khas di benak penderitanya.

Menariknya, setiap individu dapat memiliki persepsi warna yang berbeda untuk simbol yang sama. Misalnya, angka “3” bisa terlihat merah bagi satu orang, tetapi kuning atau merah muda bagi orang lain. Bahkan, warna yang muncul tidak selalu berkaitan dengan makna kata atau angka tersebut.

Selain itu, penderita sinestesia dapat melihat dua warna sekaligus, warna asli dari objek dan warna tambahan yang muncul dari pengalaman sinestetik mereka.

Dampak pada Kehidupan Sehari-hari

Sinestesia bisa memberikan keuntungan sekaligus tantangan. Banyak penderita mengaku memiliki daya ingat yang kuat, terutama untuk angka, kata, atau istilah kompleks. Hal ini karena setiap informasi memiliki “warna” yang membantu proses mengingat.

Baca juga: Bukan Sekadar 'Kosongin Pikiran': Studi ke Biksu Ungkap Meditasi Justru Bikin Otak Aktif Banget

Namun, kondisi ini dapat menimbulkan kebingungan. Misalnya, jika dua angka memiliki warna yang sama, perhitungan bisa menjadi sulit.

Bahkan, beberapa orang mengaku menilai sesuatu termasuk nama seseorang berdasarkan warna yang mereka rasakan.

Bukti Ilmiah tentang Sinestesia

Dulu, sinestesia sering dianggap sekadar imajinasi atau cara berpikir yang unik. Namun, penelitian modern menunjukkan bahwa kondisi ini benar-benar nyata.

Dalam berbagai eksperimen, warna yang dirasakan oleh penderita sinestesia terbukti memengaruhi cara mereka merespons tugas visual.

Contohnya, ketika warna “yang dirasakan” sesuai dengan warna nyata, mereka bisa merespons lebih cepat. Sebaliknya, jika tidak sesuai, respons menjadi lebih lambat.

Studi lain turut menunjukkan bahwa penderita sinestesia dapat lebih mudah menemukan objek tertentu karena warna “tambahan” yang mereka lihat membuat objek tersebut lebih menonjol.

Bagaimana Sinestesia Terjadi?

Para ilmuwan masih meneliti penyebab pasti sinestesia. Salah satu teori menyebutkan bahwa kondisi ini terjadi karena adanya hubungan yang tidak biasa antara area otak yang mengatur indra berbeda, seperti penglihatan dan bahasa.

Selain itu, faktor genetik juga diduga berperan, karena sinestesia cenderung muncul dalam keluarga. Menariknya, kondisi ini dilaporkan lebih sering terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki.

Penelitian pencitraan otak menunjukkan bahwa saat penderita sinestesia “melihat” warna, area otak yang sama dengan persepsi warna nyata ikut aktif. Hal ini memperkuat bahwa pengalaman tersebut bukan sekadar imajinasi.

Baca juga: Rahasia Alam di Balik Keharuman dan Warna-Warni Bunga

Itulah penjelasan mengenai sinestesia yang merupakan fenomena menarik menunjukkan betapa kompleksnya cara kerja otak manusia.

Kemampuan seperti “mendengar warna” atau “melihat suara” bukan hanya unik, tetapi juga membuka wawasan baru tentang bagaimana manusia memproses realitas.

Meski belum sepenuhnya dipahami, sinestesia memberikan peluang besar bagi para ilmuwan untuk mempelajari hubungan antarindra dan cara otak menciptakan pengalaman persepsi yang kita rasakan setiap hari.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Scientificamerican.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU