INDOZONE.ID - Tahukah kamu bahwa menguap bisa menular ke orang-orang di sekitarnya? Ada sebuah anggapan yang mengatakan hal tersebut.
Menguap adalah fenomena universal, yang diamati pada banyak spesies vertebrata, dari serigala hingga burung beo, dan tentu saja manusia sejak usia dini.
Tetapi, mengapa manusia lebih sering menguap saat melihat orang lain melakukannya? Alasan mengapa menguap dilakukan oleh banyak spesies sejak lama, yakni karena hal itu tampaknya merupakan mekanisme bertahan hidup yang diperlukan.
Simak penjelasan selengkapnya berikut ini!
Baca juga: Petir Vulkanik Itu Nyata, Ilmuwan Akhirnya Pecahkan Misteri 'Kiamat' dari Gunung Berapi
Alasan Menguap
Mengutip laman Science Alert, menguap memiliki tujuan untuk mengoksidasi otak, mengatur suhu tubuh atau memberikan sinyal sosial serta tidak kekurangan hipotesis, baik di kalangan masyarakat umum maupun di komunitas ilmiah.
Anggapan umum bahwa menguap berfungsi meningkatkan kadar oksigen di otak ternyata belum terbukti secara ilmiah.
Teori lain menyebutkan bahwa menguap adalah cara tubuh menjaga fokus, meski hingga kini belum ada kesepakatan pasti di kalangan ahli.
Namun, satu hal yang mulai terkonfirmasi adalah keterkaitannya dengan ritme sirkadian atau jam biologis kita.
Menguap paling sering terjadi saat tubuh dalam kondisi rileks, terutama di fase transisi antara bangun dan tidur, serta saat tingkat kewaspadaan menurun, misalnya saat proses pencernaan berlangsung.
Apakah Menguap Wadah untuk Sarana Komunikasi?
Sifat menguap yang menular telah memicu berbagai temuan penting dalam biologi dan psikologi sosial, meski alasan mendasarnya masih diperdebatkan.
Dalam interaksi sosial, menguap berfungsi sebagai alat sinkronisasi, seperti yang teramati pada burung unta saat mengatur perilaku kelompoknya.
Baik pada manusia maupun hewan, menguap menandai transisi antara fase aktif dan istirahat, sekaligus menjadi sinyal kewaspadaan kolektif untuk menjaga ritme kelompok.
Menariknya, kecenderungan menguap yang menular ini secara dominan ditemukan pada manusia, dengan pengecualian terbatas pada spesies tertentu seperti simpanse dan monyet singa.
Kekhususan ini mempertegas pikiran bahwa menguap pada manusia, selain fungsi fisiologisnya, merupakan sarana komunikasi non-verbal.
Hipotesis utamanya adalah menguap membantu menyinkronkan perilaku kelompok, suatu fungsi yang mirip dengan burung unta.
Berhubungan dengan Empati
Aktivitas melihat atau mendengar orang lain menguap ditengarai merangsang area otak yang mengatur imitasi dan empati, yang dimotori oleh peran neuron cermin.
Neuron-neuron ini bekerja saat kita mengamati tindakan orang lain, serupa dengan cara seorang anak meniru orang tuanya mengikat tali sepatu.
Menariknya, jaringan saraf yang terlibat dalam fenomena menguap menular ini sangat berkaitan erat dengan sistem empati dan interaksi sosial.
Hal ini diperkuat oleh temuan bahwa individu dengan kondisi autisme atau skizofrenia cenderung kurang responsif terhadap penularan menguap.
Baca juga: Situs Manusia Purba Monte Verde di Chile Picu Perdebatan soal Kehadiran Manusia Tertua di Amerika
Selain faktor psikologis, unsur eksternal seperti suhu tubuh dan pola pernapasan juga terbukti memengaruhi intensitas penularan ini.
Pergerakan ini dapat memengaruhi frekuensi menguap yang diamati, menunjukkan bahwa tidak selalu melihat seseorang menguap memicu reaksi yang sama, melainkan kehadiran dan interaksi dalam kelompok.
Mendapati diri menguap bersamaan dengan rekan kerja setelah makan siang mungkin bukan sekadar masalah penularan.
Sebaliknya, hal itu lebih merujuk pada kesamaan konteks fisik dan waktu, di mana semua orang di ruangan tersebut sedang berada pada titik kewaspadaan yang sama rendahnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Science Alert