Rabu, 22 APRIL 2026 • 15:10 WIB

Bagaimana Proses Terbentuknya Emas di Bumi Kita? Begini Kisahnya!

Author

Ilustrasi Proses Terbentuknya Emas. (Freepik)

INDOZONE.ID - Pernah nggak sih kalian bengong pas lagi lihat perhiasan emas yang cakep banget, atau sekadar mikir kenapa harga logam mulia satu ini nggak pernah santai alias mahal banget?

Banyak dari kita mungkin mikir kalau emas itu hasil produksi alami dari perut bumi, sama kayak batu bara atau minyak bumi.

Tapi, siap-siap kaget ya, karena ternyata kalung atau cincin yang kalian pakai itu, punya sejarah yang jauh lebih gokil dan asalnya dari luar angkasa.

Berdasarkan ulasan dari kanal YouTube/Serial Sisi Terang, emas sebenarnya adalah tamu agung yang datang dari kejauhan miliaran kilometer di luar atmosfer kita.

Yuk, kita bedah bareng-bareng bagaimana proses terbentuknya emas yang melibatkan ledakan bintang dahsyat, sampai hujan meteorit yang mengubah wajah planet kita selamanya!

Baca juga: Ajian Jolo Emas: Ilmu yang Konon Bisa Bikin Hidup Penuh Rezeki dan Keberkahan

Emas Bukanlah Hasil Produksi Alami dari Perut Bumi

Hal pertama yang perlu kita luruskan adalah, anggapan kalau bumi bisa bikin emas sendiri.

Sains modern sudah membuktikan, kalau planet kita tuh nggak punya pabrik buat menciptakan atom emas.

Kalau kita kilas balik ke sejarah, suku Inka kuno punya filosofi yang puitis banget yaitu mereka menganggap emas sebagai air mata dewa yang jatuh dari langit. 

Menariknya, insting mereka nggak sepenuhnya salah. Secara teknis, bagaimana proses terbentuknya emas memang bermula di angkasa luar, dalam kondisi suhu dan tekanan yang sangat ekstrem yang nggak mungkin terjadi di dalam inti bumi sekalipun.

Jadi, setiap gram emas yang kalian punya sekarang adalah sisa-sisa peristiwa kosmik purba.

Dua Teori Dahsyat tentang Kelahiran Sang Logam Mulia

Ada dua skenario besar yang menjelaskan, bagaimana proses terbentuknya emas di alam semesta.

Teori pertama itu soal ledakan Supernova, yaitu ledakan bintang raksasa yang sudah sampai di akhir hayatnya.

Ledakan ini melepaskan energi yang gila banget, sampai atom-atom berat kayak emas bisa terbentuk.

Teori kedua yang sekarang dianggap lebih akurat oleh para ahli adalah tabrakan dua bintang neutron. Bintang neutron ini adalah sisa bintang yang super padat.

Pas dua benda raksasa ini tabrakan, terjadi ledakan yang luar biasa dahsyat yang menciptakan logam berat.

Logam-logam hasil tabrakan ini terus terlempar ke ruang angkasa dalam bentuk debu, dan potongan kecil yang meluncur bebas di jagat raya.

Hujan Meteorit yang Membawa Berkah Emas ke Permukaan Bumi

Terus, gimana caranya potongan emas dari ledakan bintang itu bisa nyampe ke jari manis kalian?

Sekitar 3,9 miliar tahun yang lalu, sistem tata surya kita lagi dalam kondisi yang kacau banget.

Bumi sering banget dihujani meteorit raksasa dalam periode yang disebut pemboman besar akhir.

Meteorit-meteorit inilah yang jadi kurir kosmik, yang bawa cadangan emas dan logam berat lainnya mendarat di kerak bumi.

Tanpa adanya hujan meteorit ini, emas mungkin bakal tertimbun dalam banget di inti bumi, dan nggak akan pernah bisa kita tambang buat jadi koleksi perhiasan atau komponen gadget canggih kayak sekarang.

Rhodium dan Iridium sebagai Saudara Jauh Emas dari Bintang

Nggak cuma emas, ternyata ada logam lain yang punya silsilah keluarga yang sama dari luar angkasa, yaitu rhodium dan iridium.

Logam-logam ini mungkin nggak sepopuler emas buat urusan gaya, tapi harganya bisa jauh lebih mahal karena langka banget dan punya nilai praktis yang tinggi.

Di dunia otomotif, rhodium dan iridium dipakai buat bersihin gas buang di knalpot supaya lebih ramah lingkungan.

Ini membuktikan, kalau material hasil ledakan bintang miliaran tahun lalu ternyata punya peran besar buat jaga udara bumi kita tetap bersih di zaman sekarang.

Mengenal Empat Kriteria Utama yang Menentukan Kekuatan Logam

Ngomongin soal logam, kita nggak cuma bahas harga, tapi juga soal ketangguhan. Para ilmuwan menilai, kekuatan sebuah logam lewat empat kriteria utama.

Pertama adalah kekuatan tarik, yaitu seberapa kuat logam menahan tarikan supaya nggak putus.

Kedua adalah kekuatan tekan yang menguji ketahanan logam terhadap tekanan atau kompresi.

Ketiga adalah kekuatan luluh yang melihat kemampuan logam menahan beban sebelum akhirnya bengkok permanen.

Terakhir adalah kekuatan benturan, yaitu seberapa kuat logam itu pas dijatuhkan atau dipukul keras.

Emas mungkin bukan yang paling kuat di semua kategori ini, tapi sifat kimianya yang tahan karat bikin dia tetap jadi juara di hati banyak orang.

Baca juga: Jejak Emas di Tanah Jawa: Peran Pedagang Tionghoa di Era Kolonial

Ilustrasi Proses Terbentuknya Emas. (Freepik)

Astatin sebagai Elemen Paling Langka dan Misterius di Dunia

Kalau kalian pikir emas sudah cukup langka, kenalin nih elemen namanya astatin. Ini adalah elemen paling langka yang bisa ditemuin di seluruh bumi.

Bayangin saja, total jumlah astatin di seluruh dunia cuma sekitar 25 gram, alias nggak lebih berat dari satu sachet kopi instan!

Astatin susah banget dipelajari, karena sifatnya yang sangat radioaktif dan cepat banget menghilang.

Keberadaannya benar-benar misterius, dan cuma ilmuwan tingkat tinggi yang bisa deteksi.

Ini jadi pengingat buat kita, kalau alam semesta masih menyimpan banyak rahasia yang bahkan belum bisa kita pegang secara fisik.

Keajaiban Madu yang Tetap Layak Makan Selama Ribuan Tahun

Geser ke fakta unik yang lebih dekat sama keseharian kita, tahu nggak sih kalau madu adalah satu-satunya makanan yang secara teknis nggak bisa basi?

Ilmuwan pernah nemu madu di dalam makam kuno Mesir yang usianya sudah lebih dari 3.000 tahun, dan ajaibnya madu itu masih enak buat dimakan.

Rahasianya ada pada kadar gula yang tinggi banget dan kadar air yang sangat rendah, jadi bakteri nggak punya kesempatan buat hidup di sana.

Jadi, kalau kalian punya madu asli di rumah, itu adalah salah satu produk alam paling awet yang pernah ada.

Transformasi Drastis Gurun Sahara dari Hijau Menjadi Tandus

Fakta bumi selanjutnya yang bakal bikin kalian kaget adalah soal Gurun Sahara. Siapa sangka kalau wilayah yang sekarang isinya cuma pasir sejauh mata memandang ini dulunya adalah ladang hijau yang subur banget.

Sekitar 11.000 sampai 5.000 tahun yang lalu, Sahara penuh sama tanaman, danau, dan banyak hewan liar kayak gajah sama kuda nil.

Perubahan rotasi dan orbit bumi pelan-pelan mengubah iklim di sana sampai jadi gurun yang kita kenal sekarang.

Ini bukti kalau wajah bumi kita selalu berubah secara dinamis dalam waktu yang lama banget.

Kecerdasan Luar Biasa Gurita dan Misteri Kode Genetiknya

Di kedalaman laut, ada satu makhluk yang sering dibilang sebagai alien di bumi, yaitu gurita. Gurita punya kecerdasan yang tinggi banget dan jago mecahin masalah yang rumit.

Nah yang bikin ilmuwan pusing adalah, kode genetik gurita yang beda banget dan jauh lebih kompleks dibanding banyak hewan lainnya.

Ada hipotesis unik yang bilang kalau gurita mungkin punya asal-usul evolusi yang beda, seolah-olah mereka adalah pengunjung dari dunia lain yang sudah adaptasi dengan sangat baik di lautan kita.

Hiu sebagai Penghuni Senior yang Lebih Tua dari Pepohonan

Satu lagi fakta hewan yang bakal bikin kalian makin respek sama alam adalah soal hiu. Ternyata, hiu sudah berenang di lautan bumi selama kurang lebih 400 juta tahun.

Angka ini gila banget, karena artinya hiu sudah ada di bumi sekitar 50 juta tahun lebih lama sebelum pohon-pohon pertama mulai tumbuh di daratan.

Hiu adalah penyintas sejati yang sudah melewati berbagai masa kepunahan massal dan tetap bertahan sampai sekarang. Mereka adalah saksi hidup sejarah bumi yang sebenarnya.

Skala Alam Semesta yang Bikin Kita Merasa Sangat Kecil

Terakhir, ayo kita lihat betapa luasnya jagat raya ini. Planet Jupiter, misalnya, punya massa 300 kali lebih besar daripada bumi.

Kalau kita ngomongin soal jarak, ruang hampa antara bumi dan bulan itu sebenarnya luas banget, saking luasnya kalian bisa nyusun seluruh planet di tata surya secara berjajar di antara keduanya dan masih ada sisa ruang.

Bahkan di bumi sendiri, skala wilayah bisa sangat mengejutkan, kayak luas negara Rusia yang ternyata lebih besar daripada luas permukaan planet kerdil Pluto.

Semua fakta ini nyadarin kita, kalau kita cuma bagian kecil dari sesuatu yang super besar.

Baca juga: Indigofera, Emas Biru Pemicu Kelaparan yang Jadi Mimpi Buruk Pribumi di Era Kolonial

Ilustrasi Proses Terbentuknya Emas. (Freepik)

Memahami bagaimana proses terbentuknya emas, sampai fakta unik tentang hewan dan alam semesta ngasih kita perspektif baru.

Dunia ini bukan cuma tempat tinggal, tapi sebuah laboratorium raksasa yang penuh keajaiban kosmik.

Setiap kali kalian lihat kilauan emas, ingatlah kalau ada bintang yang harus meledak dan meteorit yang harus jatuh ke bumi demi perhiasan itu.

Semoga info ini nggak cuma nambah wawasan kalian, tapi juga bikin kalian makin peduli dan kagum sama semesta yang kita tempati ini.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: YouTube

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU