INDOZONE.ID - Pada masa abad ke-19, para pedagang Tionghoa punya peran penting bagi perdagangan di Jawa terlebih di bawah pemerintahan kolonial Belanda. Kedatangan mereka tidaklah secara tiba-tiba, tapi karena pengaruh berbagai hal, yang membuat mereka bermigrasi ke wilayah Nusantara. Para pedagang Tionghoa ini nantinya akan membawa pengaruh yang cukup signifikan dari sisi ekonomi, sosial, dan politik, yang akhirnya membuat komunitas Tionghoa dipandang sebagai salah satu faktor penting bagi dinamika perdagangan di pulau Jawa ini.
Migrasi orang Tionghoa ke pulau Jawa pada abad ke-19 disebabkan beberapa kondisi seperti ekonomi dan politik di negeri induk mereka. Guncangan di Tiongkok, seperti perang dan tekanan ekonomi, membuat banyak orang mencoba mencari penghidupan lebih layak di luar negeri. Jawa dinilai dengan potensinya sebagai tempat perdagangan yang berkembang dengan pesat dipandang oleh mereka sebagai salah satu tujuan utama. Pemerintah kolonial Belanda sendiri turut ambil bagian dalam dinamika migrasi ini melalui kebijakan yang memperlancar kedatangan tenaga kerja dan pedagang dari Tiongkok.
Komunitas Tionghoa ini tidak hanya tersentral di satu kota saja tapi menyebar ke berbagai kota pesisir dan pusat perdagangan di Jawa. Utamanya ada di Batavia (Jakarta), Semarang, Surabaya, Pekalongan, Tegal, Lasem, Bandung, serta Cirebon. Para orang Tionghoa ini berdasarkan kebijakan Wijkenstelsel kerap membuat mereka wajib tinggal di area khusus yang membatasi pergerakan mereka di kota-kota besar. Pada sisi lain, dominasi mereka dalam perdagangan semakin kuat setelah muncul sistem Cultuurstelsel (Tanam Paksa) pada tahun 1830, yang membuat mereka menjadi perantara antara petani lokal dan pasar kolonial.
Baca Juga: Ini Alasan Mengapa Masyarakat Tionghoa Ada di Berbagai Penjuru Dunia
Dengan banyak orang Tionghoa tinggal di Jawa memunculkan komunitas-komunitas mereka sendiri. Komunitas Tionghoa di Jawa secara umum dibagi dua, yaitu Peranakan dan Totok. Peranakan sendiri ialah keturunan Tionghoa yang sudah lama tinggal di Jawa dan telah melalui proses asimilasi dengan budaya lokal. Mereka ini kerap menikah dengan penduduk pribumi, mulai mengadopsi budaya Jawa, dan juga memakai bahasa Melayu untuk berkomunikasi. Totok ditempatkan sebagai istilah untuk menyebut pendatang baru yang masih bertahan dengan budaya asli Tionghoa mereka. Mereka ini dikenal lebih eksklusif dalam interaksi sosial dan masih mempertahankan bahasa serta tradisi dari negeri asal.
Pedagang Tionghoa sendiri selain sebagai perantara, mereka punya peran besar di lini sektor ekonomi di Jawa. Mereka memiliki jaringan perdagangan berbagai komoditas penting seperti gula, kopi, dan beras. Salah satu peran penting mereka ialah sebagai perantara dalam model ekonomi kolonial yang menghubungkan produsen lokal dengan pasar internasional. Perdagangan mereka terhubung dengan pasar di Singapura, Tiongkok, dan negara-negara lain. Mereka juga turut aktif dalam perdagangan regional melalui jalur pelayaran pesisir dan juga menjadi pemodal dalam sistem pajak tanah serta monopoli perdagangan seperti opium dan garam.
Selain ekonomi, pedagang Tionghoa juga membawa pengaruh dalam budaya. Mereka membuat gaya arsitektur khas Tionghoa seperti kelenteng dan rumah-rumah khas yang muncul bersamaan dengan perkembangan mereka di kota-kota tua Jawa. Ada pula kuliner khas yang merupakan bagian dari tradisi Tionghoa yang berpadu dengan lokal menciptakan kuliner seperti lumpia Semarang dan bakmi. Selain itu penggunaan bahasa Melayu Pasar sebagai lingua franca di kawasan perdagangan juga merupakan hasil interaksi dengan mereka. Dalam sisi industri batik, motif batik pesisir seperti Batik Lasem banyak dipengaruhi oleh seni Tionghoa.
Pada abad ke-19, banyak pedagang Tionghoa di Jawa berperan sebagai lintah darat yaitu pemberi pinjaman dengan bunga tinggi kepada petani, pedagang kecil, dan bahkan juga penguasa lokal yang sedang kesulitan finansial. Sistem ini muncul dari keterbatasan akses masyarakat pribumi terhadap kredit resmi, yang akhirnya memaksa mereka bergantung pada pinjaman dari para rentenir Tionghoa.
Namun, dengan bunga yang mencekik itu, banyak peminjam akhirnya kesusahan membayar dan terjerat utang berkepanjangan. Dampaknya dominasi ekonomi kelompok Tionghoa di Jawa semakin kuat. Praktik ini sering menjadi pemantik ketegangan sosial karena dianggap mengeksploitasi rakyat kecil, meskipun di sisi lain tetap diizinkan oleh pemerintah kolonial Belanda yang melihatnya sebagai bagian dari mekanisme ekonomi yang menguntungkan.
Dominasi ekonomi pedagang Tionghoa di Jawa juga membawa dampak sosial dan politik yang signifikan. Di satu sisi, mereka berkontribusi pada perkembangan ekonomi, tetapi di sisi lain keberadaan mereka sering kali menimbulkan ketegangan dengan masyarakat pribumi. Beberapa kebijakan diskriminatif dari pemerintah kolonial Belanda, seperti sistem wijkenstelsel yang mewajibkan komunitas Tionghoa tinggal di kawasan khusus, semakin menambah bara dalam hubungan sosial ini.
Baca Juga: Mengenal Tiong Hoa Hwee Koan, Organisasi Keturunan Tionghoa Pertama di Indonesia
Ketegangan ini mencapai puncaknya dalam berbagai insiden anti-Tionghoa di Jawa. Salah satu peristiwa besar adalah Geger Pecinan 1740, yang meskipun terjadi sebelum abad ke-19, tetap memengaruhi kebijakan kolonial terhadap komunitas Tionghoa di masa berikutnya.
Pedagang Tionghoa memang punya peran yang sangat besar dalam perdagangan Jawa pada abad ke-19, baik dari segi skala lokal maupun internasional. Keberadaan mereka tidak cuma mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membawa dinamika sosial, politik dan budaya. Walaupun mengalami diskriminasi dan ketegangan sosial, komunitas Tionghoa tetap mampu bertahan dan beradaptasi membuat mereka sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah di Jawa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Doi.org