INDOZONE.ID - Pernahkah kamu terpikir mengapa langit malam tetap kelam padahal alam semesta ini bertabur bintang? Teka-teki ini dikenal dalam dunia sains sebagai Paradoks Olbers.
Mengingat ada sekitar 200 miliar triliun bintang di jagat raya, banyak di antaranya jauh lebih benderang daripada Matahari, logikanya langit kita akan bermandikan cahaya yang menyilaukan.
Lantas, apa rahasia di balik kegelapan ruang angkasa yang abadi tersebut?
Studi tentang bintang dan planet yang jauh membantu para astronom memahami mengapa ruang angkasa begitu gelap, menurut Brian Jackson dari Boise State University.
Baca juga: 3 Fenomena Langit Menarik di Akhir Ramadhan 2026 yang Bisa Disaksikan Tanpa Teleskop
"Anda mungkin menebaknya karena banyak bintang di alam semesta yang letaknya sangat jauh dari Bumi. Memang benar bahwa semakin jauh sebuah bintang, semakin kurang terang tampilannya. Bintang yang berjarak 10 kali lebih jauh akan terlihat 100 kali lebih redup. Namun ternyata ini bukanlah jawaban keseluruhan," ujarnya.
Bayangkan Sebuah Gelembung
Andai saja alam semesta ini begitu purba hingga cahaya dari ujung terjauhnya sudah sampai ke Bumi, dan semua bintang diam di tempatnya.
Seperti contoh perumpamaan: bayangkan Bumi terbungkus dalam sebuah gelembung luas. Jika ukurannya kita patok sekitar 10 tahun cahaya, isinya mungkin hanya sekitar 12 bintang saja.
Karena jaraknya yang mencapai triliunan kilometer, tidak heran jika bintang-bintang itu terlihat sangat redup dan nyaris tak tertangkap mata dari Bumi.
Memang benar bahwa bintang yang letaknya sangat jauh akan terlihat redup. Namun, jangan lupa bahwa ruang yang lebih luas berarti ada lebih banyak sumber cahaya yang ikut berkontribusi.
Secara teoretis, kepadatan jumlah bintang ini akan menutupi keredupan cahayanya, sehingga seluruh langit malam seharusnya terlihat sangat terang dari Bumi.
Fenomena ini, sebagaimana dilansir oleh The Conversation, menjadi inti dari mengapa kondisi langit saat ini dianggap sebagai sebuah paradoks.
Faktor Usia
Dalam ilustrasi gelembung, bintang-bintang tidak bergerak dan alam semesta sudah sangat tua, berumur sekitar 13 miliar tahun.
Dalam kacamata astronomi, usia alam semesta saat ini masih tergolong muda. Keterbatasan waktu inilah yang membuat cahaya dari benda langit di luar radius 13 miliar tahun cahaya masih 'berada di perjalanan' dan belum tiba di Bumi.
Dengan terbatasnya jangkauan gelembung pengamatan kita, jumlah bintang yang tertangkap mata pun tidaklah merata.
Saat kita memandang ke cakrawala malam, garis pandang kita mungkin bertemu dengan sebuah bintang di satu sisi, namun di sisi lain, pandangan kita hanya menembus ruang hampa yang gelap karena ketiadaan sumber cahaya di jalur tersebut.
Hal ini karena di titik-titik gelap tersebut, bintang-bintang yang dapat menghalangi pandangan berada sangat jauh sehingga cahayanya belum mencapai Bumi.
Seiring dengan berjalannya waktu, cahaya dari bintang-bintang yang semakin jauh ini akan mempunyai waktu untuk mencapai kita.
Baca juga: Masa Depan Penjelajahan Antariksa: Tak Akan Ada Lagi Misi Pengiriman Manusia ke Luar Angkasa?
Pergeseran Doppler
Ekspansi alam semesta menyebabkan galaksi terjauh menjauh dari Bumi dengan kecepatan mendekati cahaya, sehingga memicu fenomena pergeseran Doppler.
Efek ini mengubah cahaya bintang menjadi warna yang berada di luar jangkauan penglihatan manusia.
Jadi, meski cahaya tersebut memiliki waktu yang cukup untuk mencapai Bumi, mata kita tetap tidak bisa melihatnya.
Hal itulah yang menjelaskan mengapa langit malam tidak tampak terang benderang meskipun diisi oleh miliaran triliun bintang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: The Conversation