INDOZONE.ID - Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mendeskripsikan spesies keong darat baru bernama Chamalycaeus dayangmerindu dari kawasan karst Padang Bindu, Sumatra Selatan.
Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal internasional ZooKeys pada 2026, hasil riset panjang sejak 2021.
Chamalycaeus dayangmerindu adalah spesies keong darat yang baru pertama kali dideskripsikan secara ilmiah oleh peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Ayu Savitri Nurinsiyah, bersama tim kolaborator dari Universitas Negeri Surabaya dan Széchenyi István University, Hungaria.
Spesies ini ditemukan dalam Ekspedisi Karakterisasi dan Valuasi Kawasan Ekosistem Esensial, Karst di Sumatra pada 2021.
Proses penemuannya panjang, mulai dari pengambilan sampel lapangan, analisis morfologi cangkang, hingga peer review internasional, sebelum akhirnya resmi diakui dunia sains pada 2026.
Baca juga: Musim Kemarau 2026 Diprediksi Datang Lebih Awal, Ini Penjelasan BMKG
Baca juga: Mengapa Hujan Membuat Udara Terasa Dingin? Ini Penjelasan Sainsnya
Sampai sekarang, keong ini hanya ditemukan di satu titik di bumi.
Kenapa Penemuannya Butuh Lima Tahun?
Proses pengakuan spesies baru dalam taksonomi memang tidak bisa instan.
Ada telaah morfologi, perbandingan dengan spesimen koleksi ilmiah yang sudah ada, hingga publikasi di jurnal bereputasi tinggi yang melalui proses review ketat oleh para ahli dunia.
"Perjalanan panjang pengungkapan keanekaragaman hayati sudah menjadi jejak langkah setiap Taksonom. Mulai dari ekspedisi dan eksplorasi di lapangan, telaah literatur dan laboratorium, hingga proses penulisan dan pengakuan secara internasional. Meski panjang dan penuh tantangan, saya percaya setiap proses dalam perjalanan ini akan selalu bermakna dan bermanfaat," ungkap Ayu dikutip dari laman BRIN, Rabu (11/3/2026).
Endemik Artinya Rentan
Chamalycaeus dayangmerindu berstatus endemik. Mereka hanya hidup di kawasan karst Padang Bindu, Sumatra Selatan
Status ini sekaligus menjadi alarm. Ketika habitatnya terganggu, tidak ada "backup" populasi di tempat lain.
Ancaman nyata sudah menunggu, karena terjadi alih fungsi lahan dan degradasi habitat karst yang terus berlangsung di berbagai wilayah Indonesia.
Kawasan karst sendiri sering luput dari perhatian publik, padahal ekosistemnya menyimpan keanekaragaman hayati yang unik dan rapuh.
Dokumentasi dan publikasi ilmiah, menurut Ayu, adalah langkah pertama yang krusial sebelum upaya konservasi bisa dimulai.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: BRIN