INDOZONE.ID - Setiap sore menjelang malam, ada satu momen yang sering bikin orang refleks berhenti sebentar.
Entah lagi di jalan, di pantai, atau sekadar lihat dari jendela rumah. Matahari pelan-pelan turun ke arah barat, langit berubah warna jadi jingga, merah, kadang ada sentuhan ungu juga.
Suasananya tenang, hangat, dan jujur saja selalu terasa estetik. Nggak heran kalau banyak orang langsung ambil HP buat foto atau sekadar menikmati senja.
Biasanya kita bilang, “mataharinya lagi tenggelam.” Kalimat itu memang sudah biasa banget kita dengar.
Seolah-olah matahari benar-benar turun lalu masuk ke balik laut atau pegunungan di kejauhan. Padahal kalau dijelaskan secara ilmiah, matahari sebenarnya tidak pernah tenggelam.
Nah yang terjadi justru Bumi tempat kita tinggal ini sedang berputar. Karena Bumi terus berotasi, posisi kita terhadap matahari berubah. Akibatnya, matahari terlihat seperti bergerak di langit.
Ditambah lagi ada atmosfer Bumi yang membuat warna langit saat senja jadi berubah-ubah.
Kombinasi dua hal ini akhirnya menciptakan pemandangan sunset yang sering kita lihat setiap hari.
Yuk simak ulasan legkapnya dilansir dari YouTube @National Science Teaching Association selengkapnya!
Baca juga: Gerak Semu Harian Matahari: Fenomena yang Dilihat Tiap Hari, Tapi Sering Bikin Salah Paham
Rotasi Bumi yang Membuat Matahari Seolah Bergerak
Kalau dipikir-pikir, kita sering menganggap matahari bergerak dari timur ke barat setiap hari. Padahal kenyataannya bukan begitu. Nah yangbergerak sebenarnya adalah Bumi.
Planet ini terus berputar pada porosnya tanpa pernah berhenti. Proses ini disebut rotasi Bumi. Satu kali putaran penuh berlangsung sekitar 24 jam, yang kemudian kita kenal sebagai satu hari.
Saat Bumi berputar, bagian yang menghadap matahari akan mendapatkan cahaya dan mengalami siang hari. Sementara bagian yang membelakangi matahari akan berada dalam kondisi malam.
Karena kita hidup di permukaan Bumi yang ikut berputar, kita jadi melihat matahari seolah-olah bergerak.
Pagi hari matahari terlihat muncul dari timur. Lalu siang hari posisinya berada tinggi di langit. Setelah itu, menjelang sore, matahari terlihat turun perlahan ke arah barat.
Ketika wilayah tempat kita berada mulai berputar menjauh dari arah matahari, cahaya matahari tidak lagi langsung menyinari kita. Nah, di situlah momen matahari terbenam terjadi.
Jadi sebenarnya bukan mataharinya yang turun. Kita saja yang sedang “menjauh” dari arah matahari karena Bumi sedang berputar.
Apa Itu Ufuk dan Kenapa Matahari Hilang Disana?
Kalau kamu pernah benar-benar memperhatikan sunset, biasanya matahari terlihat seperti masuk ke balik garis yang memisahkan langit dan bumi.
Garis itu disebut ufuk, atau sering juga disebut horizon. Secara sederhana, ufuk adalah batas pandangan antara permukaan Bumi dan langit yang terlihat oleh mata manusia.
Ketika matahari semakin rendah di langit, posisinya akan mendekati garis horizon tersebut. Lama-lama bagian bawah matahari terlihat menyentuh garis itu, lalu perlahan menghilang.
Padahal sebenarnya matahari tetap berada di tempatnya di ruang angkasa. Nah yang berubah hanyalah posisi kita sebagai pengamat yang ikut berputar bersama Bumi.
Fenomena ini mirip seperti saat kita naik mobil yang sedang melaju. Pohon, rumah, atau tiang listrik di pinggir jalan terlihat seperti bergerak menjauh. Padahal sebenarnya kendaraan kitalah yang bergerak.
Peran Atmosfer yang Membuat Senja Jadi Indah
Hal lain yang bikin sunset selalu terlihat spesial adalah perubahan warna langit. Saat siang hari, langit biasanya terlihat biru cerah.
Tapi ketika matahari mulai mendekati ufuk, warnanya berubah jadi jingga, merah, bahkan kadang ada semburat ungu. Perubahan warna ini ada hubungannya dengan atmosfer Bumi.
Cahaya matahari sebenarnya terdiri dari berbagai warna dengan panjang gelombang yang berbeda. Ketika cahaya ini masuk ke atmosfer Bumi, partikel udara akan menyebarkan cahaya tersebut.
Proses ini dikenal dengan istilah hamburan Rayleigh. Warna biru memiliki panjang gelombang lebih pendek, sehingga lebih mudah tersebar ke berbagai arah. Itulah alasan kenapa langit di siang hari terlihat biru.
Namun saat matahari berada dekat horizon, cahaya harus melewati lapisan atmosfer yang lebih tebal.
Dalam perjalanan itu, sebagian besar cahaya biru sudah tersebar lebih dulu. Akibatnya, warna yang tersisa adalah warna dengan panjang gelombang lebih panjang seperti merah dan oranye. Makanya, langit saat sunset terlihat hangat dan dramatis.
Baca juga: Gerak Semu Tahunan Matahari: Fenomena Langit yang Diam-Diam Atur Musim di Bumi
Kenapa Matahari Terlihat Lebih Besar Saat Senja?
Ada satu hal lagi yang sering bikin orang heran saat melihat matahari terbenam. Matahari sering terlihat jauh lebih besar ketika berada dekat horizon.
Banyak orang mengira itu karena matahari benar-benar membesar. Padahal sebenarnya ukuran matahari yang kita lihat hampir selalu sama sepanjang hari.
Fenomena ini disebut ilusi optik. Otak manusia biasanya membandingkan objek di langit dengan objek lain di sekitar horizon seperti pohon, gedung, atau gunung.
Karena ada pembanding itu, matahari terlihat lebih besar daripada ketika berada tinggi di langit yang kosong.
Hal yang sama juga sering terjadi pada bulan purnama yang terlihat sangat besar ketika baru muncul di dekat horizon.
Hubungan Matahari Dengan Fase Bulan
Selain menjelaskan sunset, video dari National Science Teaching Association juga membahas fenomena lain yang sering kita lihat di langit malam, yaitu fase bulan.
Ternyata fase bulan juga ada hubungannya dengan matahari. Dalam penjelasan sederhana, fenomena ini bisa digambarkan menggunakan tiga benda yaitu lampu sebagai matahari, bola putih sebagai bulan, dan kepala manusia sebagai Bumi.
Ketika bola digerakkan mengelilingi kepala sambil tetap menghadap lampu, bagian bola yang terkena cahaya akan terlihat berbeda dari sudut pandang pengamat.
Perubahan posisi itulah yang membuat bulan terlihat memiliki bentuk berbeda dari Bumi. Padahal sebenarnya bulan tidak pernah berubah bentuk.
Setengah bagian bulan selalu disinari oleh matahari. Namun dari Bumi kita hanya bisa melihat sebagian dari bagian terang tersebut, tergantung posisi bulan dalam orbitnya.
Urutan Fase Bulan yang Terjadi Setiap Bulan
Saat bulan mengelilingi Bumi, kita akan melihat bentuk bulan yang berubah-ubah. Perubahan ini disebut fase bulan.
Siklusnya berlangsung sekitar 27 sampai 29 hari. Fase pertama adalah bulan baru. Pada fase ini bulan berada di antara Bumi dan matahari sehingga bagian terang tidak terlihat dari Bumi.
Setelah itu muncul fase sabit awal, ketika sedikit bagian bulan mulai terlihat. Kemudian ada fase perbani awal atau setengah bulan, di mana separuh permukaan bulan tampak terang.
Setelah itu bulan masuk fase cembung hingga akhirnya mencapai fase purnama, ketika seluruh bagian bulan yang menghadap Bumi terlihat terang.
Setelah purnama, bulan akan kembali mengecil melalui fase cembung akhir, perbani akhir, dan sabit akhir sebelum kembali lagi ke fase bulan baru. Siklus ini terus berulang setiap bulan.
Bulan Tidak Memiliki Cahaya Sendiri
Banyak orang sejak kecil mengira bulan memancarkan cahaya sendiri. Padahal sebenarnya tidak begitu.
Cahaya bulan yang kita lihat di langit malam adalah pantulan cahaya matahari yang mengenai permukaan bulan. Tanpa matahari, bulan sebenarnya akan terlihat gelap.
Karena itulah posisi matahari, Bumi, dan bulan sangat menentukan bagaimana bentuk bulan terlihat dari Bumi.
Baca juga: Ajian Suryakanta: Ilmu Sakti Gatot Kaca Saat Menyimpan Matahari di Matanya
Matahari terbenam memang selalu terlihat indah. Warna langit yang berubah, suasana yang tenang, dan cahaya senja yang hangat sering membuat banyak orang menikmati momen ini tanpa benar-benar memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.
Padahal di balik pemandangan yang sederhana itu, ada proses astronomi yang terus bekerja setiap hari.
Bumi berputar pada porosnya, atmosfer menyebarkan cahaya matahari, dan posisi benda-benda langit terus berubah. Semua proses itu berlangsung secara alami di alam semesta.
Jadi lain kali ketika kamu melihat matahari perlahan menghilang di ufuk barat dengan langit yang berubah jadi jingga, ingat satu hal. Bukan mataharinya yang tenggelam. Kitalah yang sedang ikut berputar bersama Bumi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube