Senin, 23 FEBRUARI 2026 • 10:05 WIB

Lubang Misterius di Aceh Bukan Sinkhole, Ini Penjelasan Ilmiah dan Faktanya

Author

Foto udara jalan penghubung antarkecamatan yang putus akibat longsoran tanah raksasa di Desa Pondok Balik, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh (Antara Foto/Arnas Padda)

INDOZONE.ID - Fenomena lubang besar yang terus melebar di Desa Pondok Balek, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, ramai disebut sebagai sinkhole Aceh.

Namun Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan, peristiwa itu bukanlah sinkhole, melainkan longsoran yang terjadi secara bertahap akibat kondisi geologi dan faktor cuaca ekstrem.

Lubang tersebut memang terlihat menganga dan makin dalam. Warga khawatir, apalagi ukurannya terus bertambah.

Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Adrin Tohari, menepis anggapan bahwa kejadian ini adalah sinkhole.

“Yang terjadi di Aceh Tengah itu sebenarnya fenomena longsoran, bukan sinkhole. Lapisan tufanya tidak padat dan kekuatannya rendah, sehingga mudah sekali tergerus dan runtuh,” jelas Adrin dikutip dari laman BRIN, Senin (23/2/2026).

Baca juga: Asteroid 7 Iris Hiasi Langit Ramadan 2026, Catat Waktu Terbaik Mengamatinya!

Baca juga: Misteri di Balik Salju: Bagaimana 'Zombie Fires' Bertahan di Suhu Ekstrem dan Kembali Menghanguskan Hutan?

Secara geologi, wilayah tersebut tidak tersusun oleh batu gamping atau karst yang biasanya menjadi penyebab sinkhole.

Sebaliknya, tanah di sana terdiri dari endapan piroklastik aliran berupa material tufa, yakni hasil aktivitas Gunung Geurendong yang kini sudah tidak aktif.

Foto udara kondisi longsoran tanah raksasa di Desa Pondok Balik, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh. (Antara Foto/Arnas Padda)

Material ini masih tergolong muda secara geologis. Artinya, belum mengalami pemadatan sempurna dan cenderung rapuh.

Prosesnya Sudah Terjadi Lama

Jika melihat citra satelit Google Earth sejak 2010, kawasan itu sebenarnya sudah memperlihatkan bentuk lembah kecil atau ngarai.

Seiring waktu, erosi dan longsoran terjadi terus-menerus. Lembah tersebut pun melebar dan memanjang, hingga akhirnya tampak seperti lubang besar yang kini viral.

Fenomena ini bukan muncul dalam semalam. Prosesnya bisa berlangsung puluhan bahkan ratusan tahun.

Gempa bumi berkekuatan 6,2 magnitudo yang mengguncang Aceh Tengah pada 2013 diduga ikut memperlemah struktur lereng.

Getaran gempa dapat membuat lapisan tanah yang sudah rapuh menjadi makin tidak stabil.

Namun, faktor yang paling dominan adalah hujan lebat. Batuan tufa mudah menyerap air. Saat jenuh, daya ikatnya melemah dan lereng pun runtuh.

Kemiringan tebing yang sudah curam akibat longsoran sebelumnya memperparah situasi.

Air Irigasi Ikut Mempercepat

Tak hanya hujan, aliran air dari saluran irigasi perkebunan juga berkontribusi.

“Jika saluran irigasi terbuka dan air terus masuk ke dalam tanah, maka lapisan yang sudah rapuh itu menjadi semakin tidak stabil,” ujar Adrin.

Air yang meresap meningkatkan kelembaban tanah. Bahkan ada hipotesis bahwa aliran air tanah di batas lapisan lahar yang lebih padat dan tufa yang rapuh menyebabkan bagian kaki lereng tergerus.

Ketika penyangga di bawahnya hilang, bagian atas tebing runtuh secara bertahap. Adrin menyebut fenomena serupa bisa ditemukan di wilayah lain dengan karakter batuan gunung api muda.

Salah satunya adalah Ngarai Sianok, yang terbentuk lewat proses geologi panjang akibat aktivitas Sesar Besar Sumatera.

Kejadian di Aceh ini lebih tepat disebut pembentukan lembah akibat longsoran, bukan sinkhole seperti yang sering dibayangkan publik. Saat ini BRIN belum turun langsung ke lapangan. Analisis masih berdasarkan citra satelit dan data yang tersedia.

“Kami masih sebatas menganalisis berdasarkan data citra dan informasi publik. Untuk memastikan penyebab secara detail diperlukan penelitian komprehensif,” jelasnya.

Penelitian lanjutan bisa menggunakan survei geolistrik, seismik refleksi, atau microtremor untuk membaca struktur bawah permukaan dan potensi rekahan.

Selain itu juga ada faktor mitigasi. Pengendalian air permukaan, pembaruan peta kerentanan gerakan tanah, serta sistem peringatan dini longsor perlu segera dilakukan.

Adrin juga mengingatkan warga untuk waspada terhadap tanda awal seperti retakan tanah atau amblesan kecil.

“Yang terpenting sekarang adalah memahami prosesnya dan segera melakukan langkah mitigasi agar risiko korban jiwa dapat dihindari,” pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: BRIN

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU